Reuni : Mengapa Baru Terjadi Setelah 29 Tahun?


Catatan: Sukniarti Dipo, Cosmas Christanmas

Juwita Malam

Intro: C Am G (3x)
C Em
Engkau gemilang malam cemerlang
Am Dm G
Bagaikan bintang timur sedang mengambang
Dm Am
Tak jemu-jemu mata memandang
Dm G C
Aku namakan dikau juwita malam
C Em
Sinar matamu menari-nari
Am Dm G
Masuk menembus ke dalam jantung kalbu
Dm Am
Aku terpikat masuk perangkap
Dm G C
Apa daya asmara sudah melekat

Ref:

Dm Am Dm F G C
Juwita malam siapakah gerangan tuan
Dm Am Dm F G C
Juwita malam dari bulankah tuan
C Em
Kereta kita segera tiba
Am Dm G
Di Jatinegara kita kan berpisah
Dm Am
Berilah nama alamat serta
Dm G C
Esok lusa boleh kita jumpa pula

Sayup-sayup suara Joseph Oendoen yang mengalunkan lagu “Juwita Malam” saat Reuni Akbar kita di Pontianak, Sabtu malam, 19 Agustus 2006, itu masih terngiang, entah untuk siapakah gerangan lagu itu dinyanyikan?!

Tidak perlu munafik …, bila dikagumi seseorang di masa lalu saat kita di SMA merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi setiap orang. Terlepas dari apakah kita juga menyukainya ataupun tidak! Kita tidak mungkin berkuasa menghalangi seseorang untuk mengagumi kita, demikian pula kita tidak bisa melarang hati kita untuk mengagumi orang lain. Tuhan menciptakan perasaan kasih pada setiap umat-Nya, rasa saling tertarik itu datang dan berkembang secara alamiah.

Masa memang boleh cepat berlalu, tetapi biarlah setiap kenangan kasih nan indah semacam itu tetap tinggal di dalam hati pemiliknya, tidak berubah dan terusik oleh waktu. Dan sekali pun sudah 29 tahun lamanya sejak lulus SMA tahun 1977, kisah kasih masa lalu itu baru terungkap. Namun kisah indah semacam itu masih tetap berkesan untuk dikenang hingga 29 tahun yang akan datang. Apalagi bila masih ada reuni sekolah yang akan saling mempertemukan kita dan masih ada tanghak yang bersedia menjadi Panitia dan peserta.

clip_image002
Mungkin Joseph tidak menyanyi khusus untuk siapa-siapa malam itu walaupun didaulat pembawa acara Frendys Lukito untuk menggandeng ke atas panggung Herlina Sitompul, tanghak yang dulu diantarnya dengan sepeda.

Tetapi Joseph pun sadar kalau lagunya juga mewakili beberapa tanghak yang masih menyimpan pesan kasih yang tertunda selama ini. Seperti yang terungkap dalam potongan ini:

Surat kecil dari seorang di antara kita . . .

Masa sekolah adalah saat-saat terindah yang tak terlupakan,

Khususnya SMA adalah peralihan dari remaja menuju dewasa.

Banyak tawa dan canda mewarnai hidup kita sehari-hari,

Di antara beratnya pelajaran dan banyaknya teman bermain,

Di antara terbatasnya biaya hidup bagi sebagian dari kita.

Namun sudah ada yang berani merajut tali kasih di antara kita,

Dari yang malu-malu hingga yang kasat mata dan setiap hari,

menjadikan teman yang lain cuma sebagai saksi.

Sebagian lagi hanya berani bermimpi tentang si DIA,

Namun ragu-ragu ketika menggoreskannya dalam bentuk puisi cinta,

Untuk ditutup rapat-rapat lagi dan disimpan sampai hari ini,

29 tahun lamanya hingga Malam Reuni di Hotel Kini . . .


clip_image002[5]

Malam itu kita semua menjadi tahu bahwa hanya Ketua Alumni Rusminto dan Elly Sutopo, satu-satunya pasangan tanghak ala Cinderella SMA kita yang membentuk keluarga bahagia, “and they live happily ever after…”

Malam Reuni Akbar di Pontianak, 19 Agustus 2006, adalah puncak acara yang ditunggu-tunggu para tanghak setelah disiapkan berbulan-bulan lamanya oleh Panitia di Jakarta dan Pontianak.

Sebuah reuni lengkap di kota asal Pontianak tercinta dan dihadiri oleh sebagian guru yang berjasa dalam hidup kita, terselenggara untuk pertama kalinya khusus untuk lulusan 1977 setelah 29 tahun lamanya. Sungguh luar biasa!


clip_image003
Tetapi mengapa kita perlu menunggu 29 tahun untuk mengadakan sebuah reuni? Saat jarak fisik sudah tidak menjadi kendala, justru rentang waktu yang bagaikan jurang menganga.

Padahal setiap detik adalah waktu yang sangat berharga (tanyakan pada setiap pelari!) juga seperti ditulis Stephen R Covey dalam bukunya yang terkenal itu The 7th Habit:


To realize the value of time:

  • ten years, ask a newly divorced couple
  • four years, ask a graduate
  • one year, ask a student who has failed a final exam
  • nine months, ask a mother who gave birth to a still born
  • one month, ask a mother who has given birth to a premature baby
  • one week, ask an editor of a weekly newspaper
  • one hour, ask the lovers who are waiting to meet
  • one minute, ask a person who has missed the train, bus or plane
  • one second, ask a person who has survived an accident.

img0012
Reuni Akbar di Pontianak ini tercetus saat Frendys Lukito dari Pontianak hadir dalam Reuni pertama tanghak Jakarta di Sunter, tanggal 19 Februari 2006. Rencana Reuni ini kemudian disepakati sekitar 17 Agustus 2006 karena ada liburan akhir pekan dan nasional hingga 21 Agustus 2006 (lihat Bab VI buku ini).

Tanghak di Jakarta dan Pontianak kemudian membentuk panitianya di kota masing-masing dan langsung menjaring ‘jiwa-jiwa’ yang hilang selama ini. Proses penjaringan ini dilakukan panitia dengan penuh semangat, “karena kita semua bersaudara” yang menjadi tema reuni ini. Kita memang sangat menghargai arti seorang sahabat seperti dapat dibaca dalam kutipan panjang di halaman berikut ini.

Untuk mendukung tema reuni itu pula, panitia merekam lagu anak-anak dari Dunia Fantasi di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Lagu tersebut sedianya akan diputar berulang-ulang sambil mengiringi tanghak yang memasuki ruangan tempat reuni kita di Hotel Kini. Sayang, lagu tersebut tidak dapat dibunyikan sewaktu dibutuhkan. Untuk yang penasaran dengan lagu itu, bisa mendengarnya melalui dokumentasi DVD reuni kita.


Arti Seorang Sahabat

Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya …

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur – disakiti, diperhatikan – dikecewakan, didengar – diabaikan, dibantu – ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya. Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.

Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping anda??? Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai?? Siapa yang ingin bersama anda saat anda tak bisa memberikan apa-apa??


MEREKALAH SAHABAT ANDA


Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka.


Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita.
Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita

img0013

Reuni ini berhasil menarik tanghak dari tempat bermukimnya yang jauh di luar negeri seperti Sunjoto (Afen dan istri, foto atas) dari China serta Rosyanti dari Jerman. Panitia sangat menghargai kehadiran mereka. Seorang lagi, Fransiscus Andrew (Lim Ek Meng), tidak dapat meninggalkan tugasnya di Bangkok saat reuni kita berlangsung.

Beberapa tanghak dari Jakarta yang punya aneka kesibukan saat reuni, namun datang juga ke Pontianak walaupun untuk menghadiri sebagian acara saja seperti Witono (Abun), Arifudin, Johan Muliawan dan Jinardi. Hadir juga Tjung Dju Khiong dari tempat bermukimnya di Dumai, Riau. Demikian juga Rudy Liehandoyo yang dalam proses penyembuhannya dan tinggal di Bandung berkenan hadir di Pontianak karena jasa baik Rusminto yang menjemput dan mengundangnya menginap di rumah.

Melalui SMS yang dikirim istrinya, Rudy menyatakan, “reuni ini sangat mengesankan dan acaranya bagus sekali. Semua yang ikut senang dan kompak satu sama lain. Semoga reuni ini dapat terulang kembali dan semoga Rudy bisa cepat sembuh. Dan Rudy mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya”.

Menjelang reuni kita berlangsung, ada seorang tanghak yang sangat aktif dalam kepanitiaan di Jakarta dan orang pertama yang membayar lunas biaya untuk ikut, ternyata berhalangan karena mendapat tugas perjalanan dinas ke Amerika Serikat, Jepang, Hong Kong, dll. Dia adalah Bernard yang berkeinginan kuat sekali untuk bertemu dengan pak Sudarto, seorang guru Sejarah yang sangat dihormatinya. Bernard hingga menitipkan pesan tertulis untuk dibacakan oleh Ketua Alumni Rusminto, disertai tayangan gambar komputernya untuk penggemar. Kita berharap Bernard bisa ikut reuni yang akan datang tanpa ada lagi halangan karena pekerjaan kantor atau jadwal panjat gunung.


clip_image002[10]Selamat malam dan salam sejahtera,

Yang terhormat dan yang terkasih, bapak/ibu kepala sekolah serta wakil dan stafnya, serta yang tercinta bapak dan ibu guru kami diera tahun 1970-an.

Tak terasa waktu sudah memisahkan kita 29 tahun lamanya. Kini hanya karena kemurahan dari Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kita masih diberi kesempatan untuk saling bertemu kembali.

Saya sangat berterima kasih dan berhutang budi kepadamu, bapak dan ibu guru: jasa, ilmu, bimbingan, dan dorongan semangatmu, tak akan pernah dapat saya lupakan. Berkat pengabdianmu itu, kami telah engkau beri bekal yang sangat bernilai untuk mengarungi masa-masa dalam perjuangan hidup kami. Dalam hidup ini, kami sadar bahwa seorang anak belumlah “sempurna” tanpa jasa dan kasih sayang dari bapak dan ibu guru.

Sekarang kami menjadi orang tua dari anak-anak kami di rumah. Tentu kami pun menitipkan kembali dan mempercayakan para guru dalam membantu pertumbuhan dan masa depannya. Tanggung jawab terbesar memang ada pada orang tua, tetapi menjadi lebih “sempurna” kalau dibimbing oleh bapak dan ibu guru. Wahai para guruku, “sungguh mulia jasamu”.

Salam rindu dan kompak kepada tanghak-tanghak sekalian. Terima kasih terutama kepada panitia yang bekerja keras untuk menyukseskan acara ini. Tanpa kekompakan kita, belum tentu akan ada acara meriah pada malam ini. Harapan saya, kita tetap menjaga komunikasi agar kenangan yang indah ini selalu terkenang kembali.

Sayang sekali saya tidak bisa menghadiri pertemuan yang sangat dinantikan dan sangat berati ini karena tugas pekerjaan. Mudah-mudahan masih ada kesempatan bertemu yang berikutnya.

Hidup Santo Paulus 77.

Salam dari jauh, Bernard, Sos B

19.08.2006

Teriring salam buat Rosyanti dari Jerman, dengan ucapan “kapan lagi mau naik sepeda ke Jungkat untuk napak tilas tahun 1974”

Rosyanti yang dimaksud di atas meninggalkan keluarga dan usahanya di Jerman untuk menghadiri reuni di Pontianak dan menjadi salah satu tanghak yang mendapat perhatian paling tinggi karena sifatnya yang energik dan atraktif. Selama reuni berlangsung, Rosyanti dan Yong Hui saling bertukar ilmu karena keduanya seprofesi dokter gigi.

img0015


clip_image002[7]Setelah berpisah lama sekali sejak tahun 1977, reuni kali ini memang menjadi kesempatan yang baik untuk saling merentangkan tangan dan merekatkan kembali persahabatan. Tidak perlu ada lagi permusuhan dan rasa iri hati (kalau pun pernah ada), tetapi rasa persaudaraan layaknya hidup orang seperguruan. Makan durian pun menjadi lebih nikmat kalau bersama tanghak karena di sana ada keinginan untuk saling berbagi dan memberi.

Berbagi dan memberi tak terbatas dengan sesama tanghak tetapi juga dengan sekolah dan para guru kita, mereka yang membuat kita kini fasih mengeja huruf dan mencacah dengan angka. Guru yang adalah pahlawan tanpa tanda jasa.


Reuni Akbar kita memang menjadi sempurna karena hadir sebagian guru lama yang gambarnya ditampilkan pada halaman dalam kulit depan buku ini. Guru yang tidak hadir atau alpa diundang (maafkan kami) seperti guru-guru Agama (Pastor Drs. Pasifikus OFMCap., Drs. Hendrikus Hambut, Drs. Susilo Putro); Menggambar (Sunarpo SH, Sabariman); Matematika (Drs. Woeridin, Drs. Paulus Sugiarto, Ibu Siswanto BA); Winarno (Civics), Prof. Slamet Raharjo SH (Hukum Dagang), Hasan Basri (Olahraga), Drs. Susilo (Biologi), Drs. Djunaidi Kasim (Kimia), Br. Drs. Aloysius Tubarman MTB (Kepala Bina Remaja pada waktu itu), Djibrail Mariatmo, Ibu Corry, dan siapa lagi yah?. Ada beberapa guru dan juga tanghak yang ternyata sudah mendahului kita (semoga beristirahat dengan tenang dalam keabadian di surga, amin).

Namun demikian, tanghak yang ikut dalam wisata ke Singkawang esok harinya secara tidak disengaja bisa bertemu dengan Pastor Pasifikus di pastoran setempat. Beliau sempat diajak naik ke bis rombongan dan diminta untuk mendoakan kita dan memberikan berkat keselamatan dalam perjalanan. Bagi tanghak yang beragama Katolik atau Kristen pada umumnya, absen ke gereja pada hari Minggu 20 Agustus 2006 itu tidak kehilangan berkat Tuhan melalui gembalanya yang satu ini.

Hubungan tanghak dengan para guru kini menjadi sangat bersahaja sebagaimana layaknya sesama warga masyarakat. Seorang guru kita, Pak Saedy yang dulu mengajar Biologi, bahkan ikut membaur saat tanghak bernyanyi dangdut ketika acara malam reuni hendak berakhir.

img0017

Kita juga berterima kasih atas sambutan tulus dari pimpinan Yayasan dan Sekolah, Dewan Guru, OSIS, dan drumband SMA Santo Paulus.


Malam Reuni: Guru, Ijinkan Kami >>>

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: