Sekali Sto. Paulus Tetap Sto. Paulus

Kemarin adalah sejarah, hari ini adalah kenyataan,

esok adalah harapan . . .

Kata-kata ini terkesan begitu puitis, tapi itulah hidup...


Catatan pribadi seorang Sukniarti
dari Reuni Lulusan SMA Santo Paulus (Pontianak) tahun 1977
pada hari Minggu, 19 Februari 2006
di Restoran Family Ria, Sunter, Jakarta


– Pengantar –

Sebulan yang lalu (Januari 2006), seorang teman akrab saya tiba-tiba menelpon dari Pontianak. Seperti biasa, saya begitu senang dan mengira dia berada di Jakarta, dan itu berarti ada kesempatan bertemu muka. Dengan kesibukan masing-masing apalagi di kota Jakarta yang tiap hari selalu macet di mana-mana, bertemu teman pun kadang-kadang menjadi hal yang langka dan istimewa.

Tapi … apa yang saya harapkan ternyata berbeda. Kali ini berita yang saya terima adalah berita duka tentang seorang sahabat kami, Suzana H (A Lan). Ia telah berpulang mendahului kita semua. Yang paling tidak bisa saya mengerti adalah bahwa dia meninggal di Jakarta! Dan pada saat dia meninggal hanya ditunggui seorang anaknya yang masih ‘ABG’ (Anak Baru Gede, alias usia pra-remaja) di salah satu rumah sakit di tengah kota! Tidak ada seorang pun di antara kami sahabat-sahabatnya tahu bahwa dia terbaring sakit di kota yang sama dengan kami. Saya baru tahu setelah jenazah almarhumah dibawa kembali ke Pontianak, sungguh tidak bisa dipercaya!

Suzana adalah sahabat kami berenam yaitu saya sendiri Sukniarti, Hesti, Susy, Eka Anita Kasih, Chandrawati (semuanya di Jakarta) dan Susanna L. (Pontianak). Semasa belajar di SMA, kami susah senang selalu bertujuh, dan … tiba-tiba kami kini tinggal berenam. Hidup ini memang penuh rahasia sehingga ada yang mengatakan tukang ramal pun hanya punya 1 pantangan yaitu meramalkan umur orang karena yang satu ini adalah rahasia sang Pencipta. Sejak itulah tiba-tiba saja keinginan berkumpul teman-teman lama muncul dari dalam hati saya. Sudah berapa lama saya kehilangan kesempatan merangkai kenangan bersama sahabat-sahabat saya? Andaikan … Tuhan mengijinkan waktu diputar kembali, mungkin situasinya akan berbeda di saat-saat terakhir mungkin masih ada selembar kenangan terakhir bersama sahabat kami Suzana. Terlambat sudah …, terlambat sudah …, semuanya telah berlalu … (jadi ingat lagu Panbers yang ngetop di saat kita remaja). Suzana, kami kehilangan anda, doa kami panjatkan ke hadirat Yang Maha Kuasa, semoga engkau diterima disisi-Nya, amin.


– Persiapan –

Akhir Desember 2005, Mario menelepon saya mengajak reuni bersama teman-teman lama. Berhubung akhir tahun adalah waktu berkumpul keluarga, pesta Natal, kesibukan di gereja dll., lagi-lagi kesempatan itu terlewat begitu saja. Awal Februari 2006, beberapa hari setelah perayaan Imlek (yang jatuh pada 29 Januari 2006) lagi-lagi Mario menelepon saya. Katanya, “Cosmas dkk. sudah ngebet nih, katanya dia saja sudah ada sekitar 10 orang, lu bisa ngumpulin berapa? Ayo dong kita ngumpul …”. Saya bilang, mengumpulkan 10 orang sih saya yakin bisa, karena beberapa kali saya sempat reuni dengan teman-teman eks SMP Suster (Pontianak) dan saya yakin mereka akan menyambut baik kesempatan ini. 10 + 10 = 20 orang, suatu angka yang mulai menjanjikan.

Maka mulailah saya, Cosmas dan Mario menyusun waktu yang tepat agar semua teman bisa berkumpul, dari memikirkan yang kerja sampai yang buka toko, akhirnya disepakati hari baik adalah Minggu, 19 Februari 2006 pukul 11.30 dan hanya khusus SMA Santo Paulus Lulusan 1977.

Yang menjadi tantangan adalah tempat karena bulan Februari ternyata adalah bulan baik untuk “pernikahan”. Dari beberapa tempat yang kami anggap tepat, ternyata sudah penuh dipesan untuk pesta pernikahan. Tapi berhubung “misi” ini sudah tidak bisa ditunda lagi, kami akhirnya nekad. Tempat tidak jadi masalah, yang penting kumpul dulu; setelah kumpul dan mendapat informasi teman-teman, barulah melangkah ke pertemuan berikutnya yang lebih terencana. Maka mulailah kami mengirimkan undangan via SMS ke teman-teman lama. Kami mulai optimis setelah mendapatkan tanggapan yang cukup menggembirakan dari teman-teman. Dari 20 orang, berkat perpanjangan tangan dari teman-teman melalui SMS berantai, terkumpul menjadi 30 orang, dan seterusnya. Ternyata gayung bersambut!

Jumat, 17 Februari 2006 adalah hari penentuan berapa teman yang berhasil kami kumpulkan. Setelah kami rangkum ternyata ada sekitar 35 orang. Dengan memperhitungkan plus-minus yang tidak hadir, kami memutuskan untuk memesan 3 meja makan saja. Sebagai bagian konsumsi, Mario sudah survei tempat dll., saya juga sudah menghubungi teman kita Herry Tiono untuk membantu dokumentasi (berkat jasa beliau, CD foto-foto ini terwujud, thanks ya Liat! Boleh lagi dong untuk pertemuan berikutnya?).

Jumat sore itu juga sekitar pukul 18.00, saya dikagetkan oleh sebuah SMS yang mendadak masuk ke HP saya, “Gua sudah ada di Jakarta, bagaimana reuninya?”. Saya sampai tidak percaya kalau SMS yang saya kirimkan ke Pontianak ternyata membuahkan hasil! Susana L, sahabat karib saya siap hadir. Dengan penuh semangat saya balas dia, “Lu di mana, gua akan jemput!!”. Oh ya …, perlu diketahui bahwa teman-teman lain dari Pontianak bisa hadir juga berkat jasa sahabatku ini, karena dia yang bertugas menyebarkan SMS untuk teman-teman di sana.


– Reuni –

Minggu 19 Februari 2006 pukul 09:00 saya berangkat menjemput Susana untuk selanjutnya ke Restoran Family Ria di kawasan Sunter. Kami adalah tamu pertama di sana. Sambil menunggu teman-teman, kami bercerita tentang kenangan semasa SMA, di mana hampir setiap hari kami pulang pergi ke sekolah bersama jalan kaki berdua (sepanjang jalan kenangan).

Sekitar pukul 11.00 tamu pertama datang, pelan tapi yakin 2 pria yang masih kelihatan muda dan macho memasuki ruangan, mulailah kami main tebak-tebakan. Bayangkan hampir 29 tahun tidak bertemu, pertemuan yang sungguh ruarrr biasa, mau tau siapa gerangan dia? Ternyata 2 tamu dari Semarang yang khusus terbang ke Jakarta untuk mengikuti reuni ini, Herman Lim yang ngakunya masih single (ada teman cewek kita yang masih single juga lho!) dan 1 lagi Harry Sutopo! Cowok badung semasa SMA dulu, siapa yang tidak kenal “Harry and the gang” yang suka menggerung-gerungkan sepeda motor trail-nya di depan sekolah waktu itu? Ketika saya tahu bahwa Harry mau ikut, saya langsung membayangkan sosok cowok ceking berambut keriting yang bandelnya minta ampun! Tidak disangka pria yang berdiri di depan saya jauh berbeda dengan bayangan saya, sosok pria matang ini kelihatannya kalem (karena Harry sekarang bercokol di Semarang, saya boleh mengartikan kalem dalam bahasa Jawa = sa’kal gelem alias langsung mau! ha..ha..).

Tadinya saya kira Harry benar-benar sudah jadi kalem, tidak tahunya sifat nakalnya masih tidak berubah. Rupanya Harry menyimpan dosa yang sudah dipendam-pendam selama 29 tahun, dan orang yang sangat ingin ditemuinya adalah Chandrawati! Berhubung ini agak rahasia dan supaya teman-teman yang belum tahu jadi penasaran, silakan tanya ke Harry dan Chandra di pertemuan berikutnya, ok?! Saya hanya bisa kasih clue: Coba bayangkan bagaimana Harry yang lagi stress mengerjakan ulangan Matematika, tiba-tiba menemukan kertas yang dilempar Mario yang tanpa sengaja jatuh ke mejanya. Harry kira pucuk dicinta ulam tiba, tumben ada teman yang baik hati ngasih jawaban, yang dinanti multiple choice pilihan a, b, c. Tapi begitu kertas dibuka ternyata tulisannya IMU (I miss U), terang aja Harry jadi tambah puyeng, pantesan dia jadi nekad! ha..ha.. indahnya masa SMA. (Sorry ya guys, ini cuma bercanda, saya membuat ilustrasi ini saja sambil nyengir-nyengir sendiri lho!).

Tamu-tamu berikutnya mulai berdatangan, ternyata tamu-tamu dari luar Jakarta adalah tamu-tamu yang paling mengesankan. Saya sangat salut mendengar reaksi Ary Kusnadi yang tidak percaya benar-benar ada reuni 1977. Bapak ini sampai interlokal dan konfirmasi ke restoran, benar-benar tanggapan yang luar biasa, saya angkat topi, Pak!

FRia

Tamu yang membuat kejutan lainnya adalah Sita (Ahun) yang lebih top sebagai pacarnya oops! tidak boleh disebut lagi, he..he… Tanpa memberi kabar, tahu-tahu dia SMS ke Susana Minggu pagi sekitar pukul 9-an memberitahu bahwa dia sudah sampai di bandara Soekarno-Hatta. Kamu sungguh-sungguh menghargai arti persahabatan Ibu. Rupanya Sita tidak sendiri, ternyata ada teman kita Lukito (semasa SMA saya selalu meledekin dia si mata gede, tapi sekarang nyanyinya top buuaanget!). Tidak tanggung-tanggung, Lukito datang membawa 40 kg jeruk dan duku dalam beberapa dus (bayangkan betapa senangnya kita dengan oleh-oleh seabreg-abreg dari kampung, sering-sering saja ya Pak..). Juga ada Herlia yang sudah bersusah payah ke Jakarta membawa informasi yang sekaligus mengetuk hati kita semua, tidak bisa dipungkiri SMA Santo Paulus adalah bagian dari sejarah hidup kita, yang melahirkan kita sehingga kita mempunyai hari ini, sudah saatnya kita memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk sekolah kita yang semakin menghilang “gaung”-nya. Last but not least teman kita si dokter gigi ganteng Gui Yong Hui yang juga rela bersusah payah meninggalkan ruang prakteknya di Pontianak untuk reuni ke Jakarta (lain kali sehabis acara, periksa gigi gratis ya Pak dokter?).

Selepas pukul 12.00, satu-persatu teman-teman lain pada bermunculan, walau pun Jakarta sudah mendung dan turun hujan. Di lantai 3 restoran yang hanya dipesan khusus untuk acara kita, dipenuhi canda tawa. Sebagian teman-teman bernyanyi (karaoke). Aneka lagu Mandarin, Indonesia, dan Inggris terdengar merdu (tidak disangka ternyata banyak penyanyi berbakat juga). Kita semua larut dalam perbincangan yang akrab, sesekali saling meledek, tertawa terbahak-bahak atas kenakalan atau ‘prestasi’ jahil di masa lalu. Ternyata di balik canda tawa, ada juga yang datang ke reuni karena ingin melihat bagaimana rupa orang yang dia ‘taksir’ dulu, sayangnya banyak orang yang ditunggu-tunggu tidak bisa hadir pada hari itu.

Di meja ujung di depan karaoke, ada Harry Sutopo, Sujiwati (A Sim), Herry Tiono (A Liat), Lukito, Tan Pwe Cun, Sita (A Hun), Herry Sukianto (A Kiat), Apit Ratna & junior, Catharina.

Di meja dua tampak Robert Hendra (Pak Ketua OSIS), Kim Tjui, Cung Ji Min, Natalia, Sukniarti, Herlina dan adiknya Tiur (yang membawa teman bule). Anda tentu bertanya siapakah cewek bule ini? Ternyata dia adalah orang Jerman yang hobby-nya mempelajari budaya negara lain, dan dia begitu antusias mendengar ada acara reuni 29 tahun yang begitu langka dan ingin ikut acara ini. Bisa teman-teman bayangkan seorang asing saja menganggap ini suatu peristiwa luar biasa! Dan ternyata Claudia begitu menikmati acara ini, dan dia bilang langsat Pontianak enak sekali, suatu hari dia akan berkunjung ke sana, hebat kan?.

Di meja tiga ada Djung Lie Djin, Hesti (Soi Yong), Eni, Judi ‘Kribo” (karena dulu rambutnya begitu), Harlia, Sisca & pendamping.

Di meja empat, berkumpul penggemar rokok seperti Gui Yong Hui, Arifudin (A Fu), Ary, Untung, Bernard(us!), Lukmin, Tjandra, Bony (saya jadi ingat dulu suka godain my Bonnie is over the ocean…).

Di meja lima, Mario, Chandrawati, Susanna, Cosmas, Yantikianto, Johan, Herman Lim dan Rudyono.

Tidak ada lagi rasa iri hati atau kesal di antara kita (walau pun dulu mungkin pernah ada); tidak juga perlu ada gengsi (apa lagi dusta), karena kita semua toh sudah tahu sama tahu (… apa-apaan ini?). Sayangnya tidak ada yang ketemu mantan (calon) pacar dalam acara reuni ini, saya penasaran juga bagaimana ya reaksinya?! Hm … mungkin nanti di reuni berikutnya di Pontianak rasa penasaran saya bisa terobati, kepingin tahu juga? Siap-siap hadir di acara bulan Agustus!!

Rombongan yang tidak kalah meriah adalah ibu-ibu dari Bandung: Judi dan Eni, sayang ya… teman-teman lain tidak bisa bergabung, mudah-mudahan di lain kesempatan rombongan Bandung bisa lebih heboh lagi.

Spesial untuk Bernard (wong Jakarta yang kebetulan pulang kampung), terima kasih atas kekompakannya untuk khusus pulang lebih awal demi reuni ini, anda memang tuan rumah yang baik. Berangkat dari Sambas pukul 02.00 pagi, naik mobil ke bandara Supadio, Pontianak, mengejar penerbangan pertama supaya bisa hadir tepat waktu dalam reuni di Jakarta (sebagian foto-foto di CD ini juga berkat jasa Bapak kita yang satu ini, boleh juga ya? Jangan-jangan di sela-sela kesibukannya bekerja di Jakarta, beliau juga jadi wartawan infotainment.)


-Penutup-

Untuk semuanya termasuk teman-teman dari Jakarta yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, kami Cosmas, Mario dan Sukniarti menyampaikan banyak-banyak terima kasih. Tanpa kehadiran anda acara ini tidak mungkin terwujud, mohon maaf kalau ternyata acara ini tidak sebagus yang teman-teman harapkan, itu adalah yang terbaik yang bisa kami lakukan.

Sebagai tambahan selama 29 tahun ini saya juga tidak pernah bertemu Cosmas, dan kami berkomunikasi mengatur acara ini hanya via telepon dan e-mail saja. Pada hari Minggu itulah kami pertama kali bertemu muka setelah 29 tahun dan saya baru ingat yang mana Cosmas, maklum dulu kami berbeda jurusan. Catatan ini penting bagi teman-teman yang belum ikut hadir karena punya perasaan: “males ah, gak ada teman-teman yang aku kenal”. Anda boleh tanya kepada teman-teman yang hadir, betapa mesranya reuni kali ini: yang dulu dikira sombong ternyata ramah, yang dulu tidak saling kenal, kini langsung menjadi akrab.

Sekali lagi terima kasih juga kepada sahabatku almarhumah Suzana, lagi-lagi “seandainya” reuni ini diadakan lebih awal, yeah … penyesalan memang selalu datangnya terlambat. Sobat, salah satu alasan terwujudnya acara ini karena terinspirasi oleh kepergianmu, walaupun kamu tidak bisa hadir bersama kami, sekali lagi kami semua doakan semoga kamu tenang di sana dan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya, amin.

Sayup-sayup terdengar lagu … Kisah Kasih di Sekolah, jadi ingat sahabat saya yang dulu kalau jam istirahat rajin ke perpustakaan karena..hm…(rela-relanya tidak makan, padahal dia ada sakit mag lho), tentunya juga buat teman-teman yang lainnya yang kalau baca lirik lagu ini jadi teringat masa lalu, selamat bernostalgia, awas kalau ada yang marah saya tidak ikut bertanggung jawabJJJ


Kisah Kasih di Sekolah


Resah dan gelisah
Menunggu di sini
Di sudut sekolah
Tempat yang kau janjikan
Ingin jumpa denganku
Walau mencuri waktu
Berdusta pada guru

Malu aku malu
Pada semut merah
Yang berbaris di dinding
Menatapku curiga
Seakan penuh tanya
Sedang apa di sini
Menanti pacar jawabku

Sungguh aneh tapi nyata
Takkan terlupa
Kisah kasih di sekolah
Dengan si dia
Tiada masa paling indah
Masa-masa di sekolah

Tiada kisah paling indah
Kisah kasih di sekolah
Masa-masa paling indah
Kisah kasih di sekolah

Selepas pukul 15.00, beberapa teman kita sudah meninggalkan tempat reuni. Pukul 15.30 kita semua sepakat foto bersama, dengan sentuhan profesional seorang tukang foto bernama Herry Tiono. Setelah itu acara kita bubar, namun beberapa teman masih enggan melepas rasa kangennya, terbukti masih berlama-lama bercengkerama di luar ruangan dan bahkan di tangga. Di luar restoran, hujan sangat lebat mengguyur ibukota, seolah menahan kita semua untuk melepas rindu lebih lama lagi. Waktu memang cepat berlalu, tak mungkin 4 jam bertemu bisa membalik seluruh 29 tahun kenangan di masa lalu.

Sampai bertemu di reuni berikutnya, kita tunggu undangan dari team Pontianak. Menurut rencana sekitar 17-21 Agustus 2006. Yuk … teman-teman di Jawa, mari kita mulai menabung dan siap-siap menyerbu kota kenangan kita. Semoga yang tidak sempat hadir pada reuni pertama di Jakarta 2006 ini bisa hadir di Pontianak nanti. Terlintas jelas di benak saya adalah teman-temanku dari kelas IPA: Tan Ke Hiok, Rusminto, Victor, Mokianto, Eka Wahyu, Edy Syarif, Arifin, Rita, Retina, Yoti, Rusdi, Chai Hong dll., dan dari kelas IPS: Willin Halim, Wilkie, Hua Liang, Kusnadi, Nam Neng, Nguan Lie, Kon Lung, A Oy, Fransiscus, Elly Sutopo, Margaret, Yosepha dll. (dimana mereka sekarang?), Lily Agustin, Hermiati, Betty, Vonny, Susan, Erni, Angela, A Sang, Anita, A Fen, Paulus Panirman (sayang ya mau hadir tapi berhalangan); juga dari Budaya: Josep Oendoen (ada yang nyariin anda lho) dll. Maaf bagi yang namanya tidak sempat kami ingat kali ini.

Pada kesempatan reuni yang akan datang itu mungkin bisa kita buat sumbangan ala kadarnya sebagai tanda kasih dan hormat untuk sekolah dan guru kita, mereka yang berjasa mendidik kita dan menjadikan kita seperti hari ini. Mereka adalah lembaran penting sejarah hidup kita masing-masing.

Bravo Santo Paulus 1977 !!

Jakarta, 20 Februari 2006
Sukniarti Dipo
0818.146.xxx


3 Hari Terheboh Dalam Hidup Kita >>>

2 responses to “Sekali Sto. Paulus Tetap Sto. Paulus

  1. dody November 20, 2010 at 18:27

    SEKALI SANTO PAULUS TETAP SANTO PAULUS!!!
    saya dody, alumni Santo Paulus angkatan 2007. saya kagum dengan angkatan 77(saya harus panggil bapak atau ibu atau kakek nenek kali yah?) karena kekompakan, rasa persahabatan yang kokoh, dan pokoknya luar biasa sekali. dulu saya tidak melihat dan ikut acara reuni karena berbagai hal.
    kalian hebat, bisa mengumpulkan teman2 lama dalam reuni.saya kagum deh…
    rencana kami angkatan 2007 akan mengadakan reuni kira2 bulan desember 2010.
    semoga acara ini bisa terwujud, karena udah kangen sama sekolah,teman,guru,suasana seperti dulu ingin kami rasakan kembali deh…..

    • Sto. Paulus '77 November 21, 2010 at 22:03

      Yth Sdr. Dody,
      Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda terhadap blog kami…kekompakan, persahabatan dan persaudaraan sudah menjadi “wabah” bagi kami juga semua alumni …semua yang telah bernaung dan menghirup nafas dibawah naungan atap Sto.Paulus, Pontianak, sudah sewajarnya terjangkit “wabah” ini…:)
      Teriring ucapan selamt buat usaha anda menggalang reuni diantara angkatan 2007, semoga sukses dan membawa kenangan yang manis…:)
      salam sejahtera, murli
      SEKALI SANTO PAULUS TETAP SANTO PAULUS…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: