Catatan Wonderful Trip to Semarang 16-18 OKTOBER 2009 SEMARANG

Artikel oleh Bony Sukamto tentang perjalanan mengunjungi Semarang… membawa cirii dan gaya lengkap Bony tanpa suntingan…

01.PENDAHULUAN

Saudara dan saudari Tanghak dimanapun berada, saya terpanggil untuk mereview kembali apa yang kami alami alam berjalanan yang sungguh luarbiasa dan saya sisipkan sedikit informasi untuk menambah wawasan kita dan saya coba ulas secara santai sehingga gampang diresapi.

Ok, saya sangat terkesan dengan perjalanan kali ini karena merupakan perjalanan pertama dari keluar dari zona konvensional, dimana selalu mengandalkan jalur Jakarta Pontianak yang selama ini dimonopoli kedua mayoritas. Ini merupakan langkah berani untuk mengawali yang lebih seru, makanya sebagaimana tercetus diawal reuni akbar untuk go international. He…rasanya masih terasa capek banget untuk memikirkan langkah yang lebih berani, meskipun baru dua anggota kita tetap kunjungi, sebelum he…reuni dengan beberapa teman yang telah the real peace.

Memang acara Bintang-bintang bertaburan selalu jatuh dibulankan Oktober meskipun tahun 2006 dirayakan ke bulan November dengan focus didaerah Ancol dan Jakarta Utara karena kebetulan pasangan Pak Ketua HUT nya juga sangat berdekatan, yakni di bulan November, dalam acara ‘eh ketemu lagi’. Inilah cuplikan dari kejadian 2006 yang tak terlupakan, karena berlangsung beberapa bulan setelah Reuni Akbar.

Reuni kali ini benar terencana dengan rapi dan sangat menyenangkan, ini berkat kerja keras panitia yang terdiri beberapa orang Jakarta dan Pontianak dan terutama Harry Po yang kini menjadi tuan rumah benar luar biasa dan bisa diacungkan jempol.

Perjalanan ini jauh lebih menyenangkan dari sebelumnya sehingga saya dari awal sudah sangat semangat untuk ikut dan apapun resikonya maupun jumlahnya he…siapa takut? Kalau boluipun tetap jalan meskipun harus naik yang regular, seperti kemudian ada beberapa penumpang melihat kog enak gerbong ada karaoke dan coba masuk gerbong VIP, he… langsung diusir oleh petugas. Saya lihat ternyata dari teman2 tetap konsisten, tapi ada yang last minutes, mungkin untuk dapat exit permit dari kantor yang belum ada kepastian dan ternyata Panitia jadi kelabakan karena harus tambah jatah, tapi Pesawat sudah tidak bisa tambah seat, jadi harus kembali dengan kereta….moga2 tetap nyaman.

Saya juga terpikir kenapa tidak menambah jumlah Tanghak, paling tidak bisa isi 40 orang, he…ternyata perkiraan saya meleset setelah di konform dengan petugas PJKA bahwa gerbong Wisata didesign untuk maksimal cuma 19 orang, pantas

saja setelah semuanya yang berjumlah 25 orang masuk berasa padat banget, ada kira2 4-5 orang gak kebagian tempat duduk, jadi gantian kalau ada yang cape duduk.

02.GAMBIR

Dalam perjalanan ke Gambir saya sudah mulai senyum-senyum dengan wajah berseri-seri, setelah Buikiam yang kelihatan rada pemalu menghadapi teman-teman yang sebagian hanya kenal di milis, he…ternyata jam 3 sudah sampai ditempat, jadi saya gak sendirian dong.

Pertemuan di Ruang VIP pun sungguh luar biasa karena sudah lama tidak bertemu dan teman-teman dari Pontianak dengan beberapa Pendamping sudah datang duluan ada si Baju Merah yakni Renawati alias Popo, teman datang dari KalSel dan Aceng istri Akwang yang memang selama ini sangat dekat dengan Tanghak.

Mata saya terus mencari Sujiwati yang kebetulan hari ini ber HUT, ternyata baru muncul belakangan dan kita menyambut kedatangannya dengan nyanyian. Begitulah teman2 sampai meninggalkan keluarganya saat berulang tahun he..luar biasakan? Saya masih teringat November tahun lalu Eka Wahyu Kasih merayakan HUT ke 50 ditengah-tengah relasinya dan Tanghak serta Rusminto dan Elly Sutopo ditengah Yayasan anak Yatim Piatu di St. Vencensius.

Meskipun kereta berangkat 1/2 jam lebih telat, kita tetap menjadi tamu menarik perhatian, karena tidak perlu tunggu tunggu maupun berdesak-desakan tapi langsung dipimpin Tour leader PJKA dan langsung memasuki gerbong terdepan. Mungkin bagi teman-teman yang subah bosan naik pesawat, dan rasanya banyak juga yang belum merasakan nikmatnya KA yang penuh goncangan, mungkin tidak senyaman shinkanzen maupun ICE tetapi suasanyanya pasti jauh lebih meriah dan boleh berkaraoke sepuasnya dan perjalananpun tidak terasa. Meskipun selang ½ jam sudah tersebar berita bahwa ada gempa berkekuatan 6,4 SR, sehingga beberapa teman yang bertempat tinggal di Tangerang kelihatan agak bingung dan sibuk SMS, tetapi tidak lama kemudian gempa berkekuatan 8 SR selama 6 jam terus mengoncang sepanjang jalur Jakarta Semarang sehingga kekawatirpun mulai menghilang dari pikiran, apalagi ada dua pasangan yang luarbiasa dalam tarikan suara Ahun dan Maryo menyertai dan menghibur kita sehingga perjalananpun terus menjadi tambah semarak, rasanya

pada awal euphoria pingin pulang dengan kereta yang sama. Karena kereta terlambat ½ jam maka kereta banyak menunggu dan berhenti ditengah jalan karena sebagian adalah single track jadi harus berhenti menanti kereta lain lewat.

Sebagai makanan pembukaan Nyongpen langsung menawarkan Siomai. Kemudian meskipun teman kita Kuiton yang tidak bisa hadir tetap menitipkan agar2 yang lezat. Ban..ban kamsia atas perhatiannya. Ketika perjalanan sampai di Cikampek maka Panitia sudah menyediakan kue ulang tahun untuk Sujiwati dan teman2 lain yang sudah merayakan HUT dibulan

Oktober, seperti Akiat, Herlina, Konlung, sama2 merayakan dan berhak meniup kue. Dan khusus untuk Sujiwati mendapat bingkisan dari PJKA, mungkin dapet voucer he….

Lantunan lagu2 karaoke terus silih berganti, tak habis2nya hingga lagu Gereja tuapun telah membuat suasana menjadi semakin syahdu dan mulai mengalir air mata mengenang masa-masa 30 tahun silam, dimana masa2 remaja dengan segala janji-janji gombal. Teman menyanyi tetapi tetap menatap seseorang, he…., inilah syairnya yang indah:

Masihkah kau ingat waktu di desa….Bercanda bersama disamping gereja….Kala itu kita masih remaja…Yang polos hatinya bercerita….Waktu kini tlah lama berlalu…Sudah sepuluh tahun tak bertemu….Entah dimana kini kau berada…Tak tahu dimana rimbanya…Reff :Hanya satu yang tak terlupakan….Kala senja di gereja tua…Waktu itu hujan rintik-rintik…Kita berteduh di bawah atapnya….Kita berdiri begitu rapat….Hingga suasana begitu hangat…Tanganmu kupegang erat- erat…Kenangan itu slalu kuingat…Biarpun saat ini kau telah berdua…Itu bukanlah kesalahanmu…Ku hanya ingin dapat bertemu…Bila bertemu puaslah hatiku…Bila bertemu puaslah hatiku…

Beberapa teman mulai kelihatan ngantuk karena KA tak kunjung sampai, rasanya ada yang mulai kelelahan, memang jalur menjadi semakin panjang dan melelahkan,… tetapi Athien terus memberi semangat, tetapi suara semakin serak, apalagi jatah air minum semakin menipis, ada yang sudah mulai resah, bayangkan 2 dus Aqua pun sudah ludes, sehingga terpaksa harus pesan khusus, kereta terlambat 1 jam dari yang direncanakan, dibelakang ada yang mencoba menawarkan pijet refleksi gratis, lumayan sedikit menambah kesegaran.

Akhirnya jam 23.30 Kereta dengan keterlambatan 1 jam berarti perjalanan 6 Jam yang begitu melelahkan dan sebagian teman sudah tampak lelah dan Maryo dengan tarikan suara yang luar biasa sudah tidak bisa menarik minat teman2 untuk berkaraoke, sebagian sudah mulai lelap terutama teman dari Pontianak yang sudah dari pagi berangkat. Begitu kabar sudah mau sampai di Stasiun Tanjung Mas wah rasanya bisa bernafas lega, udah mikir ranjang yang empuk.

Harry Po yang sudah tau teman2 yang kelelahan sudah siap dengan service yang sangat memuaskan, teman tinggal berangkat kehotel, kopor sudah diurus. Akhirnya teman2 bisa bernafas lega dan tidur dengan nyenyak di hotel Horison satu kamar diisi satu Extra Bed, Pak Ketuapun tidak dapat dispensasi, harus tidur sesama jenis.

03.SEMARANG

Kota Semarang yang jarang dikunjungi, karena selalu lewat Tol untuk ke Jogja, maupun ke Surabaya tanpa memasuki pusat kota, memang begitu Indah untuk ditatap dipagi hari, terutama kuriner yang sangat terkenal.

Begitu kami kumpul di Lobby Hotel Horizon maka sebagian yang tau siapa hari ini ber HUT langsung mencari Lily Dipo dan Lucia menjadi incaran pertama, karena pagi ini mereka berdua bergiliran berulang tahun, satu persatu datang menyalami, luarrr biasakan? Setiap hari ada saja yang berulang tahun.

Pagi ini kita memang kita dijadwalkan tidak Breakfast di Hotel, karena kita memang pingin makan Bakso Solo yang terkenal itu, dan Herman Lim sudah datang menyampari kita kita rasanya sudah begitu kangen menemuinya dan tampangnya memang begitu mantep, wajahnya tidak berubah, tapi badan ternyata sudah bongsor, ingat dulu badannya paling kecil dengan celana cutbrei.

Bus jemput sudah didepan hotel, tapi ternyata encim2 bawa kopor guede2 sehingga suasana seperti pulkam aja, bagasi udah gak muat, akhirnya beberapa kursi terpaksa harus dikorbankan dan ada 3 orang yang harus mengalah, alias nebeng Herman. Belum lagi cuaca hari ini sangat cerah dan AC yang kurang begitu dingin membuat suasana he.peng loti…untung bukan untuk perjalanan jauh.

Bakso Solo rasanya mantep juga, tapi buat lidah Kuntien nang he…kurang suka yang rasa manis,…tapi rasanya perut masih belum turun juga sisa kemarin.

04. KELENTENG SAMPOKONG

Setelah makan kita memuai perjalanan pertama ke Kelenteng Sampokong dan dalam perjalanan kita mulai bercerita dan membayangkan bagaimana Cheng Ho bisa menahkodai armada yang demikian besar dan bagaimana jaman dulupun sudah mengenal logistik yang canggih dan belum tentu bisa dilakuan manusia modern. Bayangkan sekali perjalanan Armada nya membawa 28.000 tentara, makan gimana?, minumnya juga apa air laut dan bagaimana kehidupan seksual jaman itu, kalau dibuang kelaut he… ikan2 bakalan mabok juga. Pantas saja banyak yang dikebiri.

Cheng Ho adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun (1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao, berasal dari provinsi Yunnan. Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kasim. Ia adalah seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam.

Karena beragama Islam, para temannya mengetahui bahwa Cheng Ho sangat ingin melakukan Haji ke Mekkah seperti yang telah dilakukan oleh almarhum ayahnya, tetapi para arkeolog dan para ahli sejarah belum mempunyai bukti kuat mengenai hal ini. Cheng Ho melakukan ekspedisi paling sedikit tujuh kali dengan menggunakan kapal armadanya. Wauu…berapa berapa biaya yang dikeluarkan hanya untuk satu kali perjalanan tersebut makanya pada tahun 1424, ketika kaisar Yongle

wafat. Penggantinya, Kaisar Hongxi (berkuasa tahun 1424-1425, memutuskan untuk mengurangi pengaruh kasim di lingkungan kerajaan, mungkin misinya tidak sesuai dengan misi Kaisar untuk memperluas kekuasaan dari pada perjalanan religius.

Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi ke tempat yang disebut oleh orang China Samudera Barat (Samudera Indonesia). Ia membawa banyak hadiah dan lebih dari 30 utusan kerajaan ke China – termasuk Raja Alagonakkara dari Sri Lanka, yang datang ke China untuk meminta maaf kepada Kaisar.

Armada ini terdiri dari 28.000 anak buah kapal dan 307 (armada) kapal laut. Terdiri dari kapal besar dan kecil, dari kapal bertiang layar tiga hingga bertiang layar sembilan buah. Kapal terbesar mempunyai panjang sekitar 400 feet atau 120 meter dan lebar 160 feet atau 50 meter. Rangka layar kapal terdiri dari bambu Tiongkok. Selama berlayar mereka membawa perbekalan yang beragam termasuk binatang seperti sapi, ayam dan kambing yang kemudian dapat disembelih untuk para anak buah kapal selama di perjalanan. Selain itu, juga membawa begitu banyak bambu Tiongkok sebagai suku

cadang rangka tiang kapal berikut juga tidak ketinggalan membawa kain Sutera untuk dijual. He….ternyata spareparts dulu bukan dari besi, tapi bambu dan kayu. Memang otak dagang juga Chengho, tapi apa keuntungannya sesuai dengan biaya yang dikeluarkan oleh Kaisar? Kalau hitungan saya sih udah gak masuk,bayangkan dengan membawa 28 ribu orang makannya aja udah tekor. He..he ternyata armada mereka sudah dibuat klasifikasi macam2 ada yang bawa kuda, ayam, sayur2an, tentara dll. Bayangkan sekali mampir di Bandar Jakarta aja wahduh gaduhnya luar biasa, kali Kramat Tunggak udah gak nampung, nambah ke Kali Jodoh…he…untuk hemat Budget terpaksa sebagian harus d kebiri…. kejam juga. He…haisiam tinggal haisiam.

Dalam ekspedisi ini, Cheng Ho membawa balik berbagai penghargaan dan utusan lebih dari 30 kerajaan – termasuk Raja Alagonakkara dari Sri Lanka, yang datang ke Tiongkok untuk meminta maaf kepada kaisar Tiongkok. Pada saat pulang Cheng Ho membawa banyak barang-barang berharga diantaranya kulit dan getah pohon Kemenyan, batu permata (ruby, emerald dan lain-lain) bahkan beberapa orang Afrika, India dan Arab sebagai bukti perjalanannya. Selain itu juga membawa pulang beberapa binatang asli Afrika termasuk sepasang jerapah sebagai hadiah dari salah satu Raja Afrika, tetapi sayangnya satu jerapah mati dalam perjalanan pulang. Waduuuh Kapal Nuh seri kedua,… untuk waktu itu belum ada Amoi Pontianak, yang terkenal itu. Ehh…mungkin juga pada bawa Amoi Tiongkok ke KalBar, wah itu pasti Tim Expedisi pertama masuk ke Kalbar.

Cheng Ho mengunjungi kepulauan di Indonesia selama tujuh kali. Ketika ke Samudera Pasai, ia memberi lonceng raksasa "Cakra Donya" kepada Sultan Aceh, yang kini tersimpan di museum Banda Aceh.

Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pernah dalam perjalanannya melalui Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang, dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong. Ketahuan…dah siapa yang bangun Kelenteng tersebut.

Cheng Ho juga sempat berkunjung ke Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Wikramawardhana.

Catatan perjalanan Cheng Ho pada dua pelayaran terakhir, yang diyakini sebagai pelayaran terjauh, sayangnya dihancurkan oleh Kaisar Dinasti ching.

Cheng Ho melakukan satu ekspedisi lagi pada masa kekuasaan Kaisar Xuande (berkuasa 1426-1435).

Majalah Life menempatkan Cheng Ho sebagai nomor 14 orang terpenting dalam milenium terakhir. Perjalanan Cheng Ho ini menghasilkan Peta Navigasi Cheng Ho yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan.

Cheng Ho adalah penjelajah dengan armada kapal terbanyak sepanjang sejarah dunia yang pernah tercatat. Juga memiliki kapal kayu terbesar dan terbanyak sepanjang masa hingga saat ini. Selain itu beliau adalah pemimpin yang arif dan bijaksana, mengingat dengan armada yang begitu banyaknya beliau dan para anak buahnya tidak pernah menjajah negara atau wilayah dimanapun tempat para armadanya merapat.

Semasa di India termasuk ke Kalkuta, para anak buah juga membawa seni beladiri lokal yang bernama Kallary Payatt yang mana setelah dikembangkan di negeri Tiongkok menjadi seni beladiri Kungfu.

Tak berapa lama perjalanan akhirnya kita sampai di lokasi, suasana seperti di Cina aja, melihat bangunan yang luar biasa indah dan tidak jauh dari Simpang Lima yang terkenal itu, tempat yang begitu asri dan rindang. Kelenteng yang begitu indah dan mewah ini sayang tidak nampak ada peninggalan seorang yang beragama Muslim seperti Cheng Ho

Sebagian teman pingin masuk dan sembayang, tapi hanya yang mau sembayang saja boleh masuk, akhirnya Akiat berinisiative beli sepack Hio hanya untuk syarat masuk. Sebagian masuk, sebagian memang berbeda keyakinan dan hanya menunggu diluar saja. Memang Kelenteng ini sepi-sepi saja dan malah banyak dikunjungi warga Muslim.

05. LAWANG SEWU

Sebelum makan siang kami kembali Simpang Lima. Simpang Lima adalah sebuah lapangan yang berada di pusat kota Semarang dan merupakan pertemuan dari lima jalan yang menyatu, yaitu Jl. Pahlawan, Jl. Pandanaran, Jl. Ahmad Yani, Jl. Gajah Mada. dan Jl A Dahlan. Di sekitarnya berdiri hotel-hotel berbintang dan pusat perbelanjaan. Diantaranya Hotel Ciputra, Hotel Horison, Hotel Graha Santika, Mall Ciputra, E Plaza, Plaza Simpang Lima, Ramayana. Lapangan ini merupakan pusat keramaian warga Semarang setiap hari Sabtu-Minggu.

Di Simpang Lima ada satu bangungan yang menarik untuk dikunjungi yakni Lawang Sewu dan merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelmina Plein.

Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu). Ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang banyak sekali (dalam kenyataannya pintu yang ada tidak sampai seribu, mungkin juga karena jendela bangunan ini tinggi dan lebar, masyarakat juga menganggapnya sebagai pintu).

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945) di gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan

Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Saat ini bangunan yang berusia 181 tahun tersebut kosong dan bereputasi buruk sebagai bangunan angker dan seram. Sesekali digunakan sebagai tempat pameran, di antaranya Semarang Expo dan Tourism Expo.Pernah ada juga wacana yang ingin mengubahnya menjadi hotel. Pada tahun 2007, bangunan ini juga dipakai untuk film dengan judul yang sama dengan bangunannya.

Makanya saat kami mendengarkan penjelasan Tour Guide pada ngak berani pisah jauh karena lorong yang gelap, pada takut disampari manusia halus, he….ada yang merasa merinding. Memang foto kamera saya menunjukan gambar yang aneh2 terutama saat mengunakan blitz

Diluar itu saya bisa menyaksikan bagaimana Semarang sangat concern dengan kebersihan lingkungan, dimana saya bisa lihat bagaimana air disungai yang begitu bening mengalir, sangat berlainan dengan air sungai di Jakarta yang berwarna hitam.

06.MAKAN SIANG DI GAMA SEAFOOD

Kedatangan kami terlambat ½ jam dari yang direncanakan sehingga makanan yang dihidangkan sudah dihidangkan dalam satu ruangan khusus, sehingga kedatangan kami sudah disambut makanan yang siap disantep, kelihatan teman-teman sudah cukup lapar, tapi sebelumnya kami harus merayakan pesta ulang tahun Lily Dipo dan Lucia yang sudah disiapkan kue Ulang tahunnya, timing cukup tepat dan dirayakan sangat meriah, dibuka dengan sato doa dan nyanian, pingin rasanya dirayakan demikian. Makanannya juga lumayan enak, terutama petenya. Wah duh makan melulu, sehingga rasanya perut gak kosong-kosong.

07. WATU GONG

Setelah makan kami pergi mengunjungi satu Tempel Kwan Im Vihara Buddhagaya Watugong berlantai 6 Jl. Raya Pudakpayung, Watugong. Rasanya berada di Tiongkok, satu pemandangan yang asri, bangunan yang sangat asri dengan satu patung Kwan Im didepan dan didalam Tempel ada satu patung setengah Badan dari Dewi Kwan Im. Ada beberapa teman yang langsung pergi sembayang.

Pagoda Kwan Im, bangunan yang terdapat di kompleks Vihara Buddha Gaya Watugong ini mempunyai nilai artistik tinggi 39 meter. Dibangunan tahun 2005 dan terletak persis di depan Makodam IV/Diponegoro Semarang. Bangunan yang mempunyai tujuh tingkat ini terdapat patung Dewi Welas Asih dari tingkatan kedua hingga keenamnya. Namun sedikitnya

20 patung Kwan Im dipasang di Pagoda tersebut. Pemasangan Dewi Welas Asih ini disesuaikan dengan arah mata angin. Hal ini dimaksudkan, agar Dewi yang selalu menebarkan cinta kasih tersebut bisa menjaga Kota Semarang dari segala arah. Selain Pagoda Kwan Im Watugong terdapat juga Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong tempat ini tak jauh dari lokasi Pagoda Kwan Im, hanya terus ikuti arah Jogja-Solo 2 KM setelah Polres Semarang, Ungaran tepat di sebelah kanan jalan terdapat ada papan nama bertuliskan Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong. Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong ini berawal dari sebuah tempat pertapaan yang konon pernah disinggahi oleh

Kiai Ageng Pandanaran untuk bermalam yang pada waktu itu salah satu bekal perjalanan Kiai Ageng Pandanaran kelong yang berarti kurang (berkurang) karena dicuri yang akhirnya tempat tersebut dinamakan Gunung Kalong.

Dari sebuah ilham yang didapatkan dari pertapaan seorang spiritual dari Ambarawa, Joyo Suprapto, dimana waktu itu beliau saat bertapa ditempat tersebut mendapatkan sebuah ilham untuk membangun sebuah vihara di tempat pertapaannya tersebut hingga akhirnya tempat ini atau sekarang bernama Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong mulai

dibangun sekitar tahun 1963 dan pada 12 Juli 1965 tempat tersebut mulai dibangun vihara dan diresmikan oleh Pemerintah dan hingga saat ini dikelola olehYayasan Sri Kudusrejo.

Tepat pada tanggal tertentu terutama saat ulang tahun Vihara pada tanggal 12 Juni, tempat ini selalu ada kegiatan atau agenda doa-doa yang dihadiri oleh banyak kalangan dari dalam hingga luar negeri terutama bagi yang beragama Budda. Misalnya ketika acara berdoa bersama memperingati Makco Kwan Im Poo Sat naik ke atas nirwana ketika sudah meninggalkan sifat duniawi dan menemui Sang Budha hingga turun lagi ke Bumi dengan membawa berkah bagi umat manusia. Selain Makco Kwan In juga saat memperingati Kathina, dimana semua umat yang mengikuti ritual doa kepalanya diperciki air. Sembari umat memancatkan doa-doa, seorang Bante berjalan menghampiri umat satu persatu untuk memercikkan air di kepalanya. Percikan air di kepala itu dipercayai untuk keselamatan para umat.Nah menarik bukan?

Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong ini sendiri selain tempat ibadah juga merupakan tempat mendapatkan konsultasi untuk segala persoalan dari mulai perjodohan, bisnis, keluarga dan lainnya yang tidak terbatas soal keagamaan saja, bahkan ada beberapa peziarah justru berasal dari kalangan. Jadi jika anda mengalami kesulitan jodoh, bisnis atau masalah lain, Suhu The Tjoe Thwan akan selalu bersedia membantu.

08. Garmen Golden Flower

Kemudian kami mengunjungi pabrik Garmen Golden Flower didaerah Ungaran satu daerah yang sejuk, dimana Harry Po bekerja sebagai Direktur. Dari luar kelihatan tidak ada kegiatan dan dikira sudah tutup karena kebetulan sabtu, ternyata setelah masuk satu pabrik penuh dengan pekerja germen dan kurang lebih ada 900 karyawati sedang bekerja, rasanya semua sibuk dan tidak ada waktu untuk ngobrol, karena mereka harus kerja sesuai dengan target. Kelihatan pabrik ini sedang mengerjakan satu merek baju terkenal untuk di eksport ke Amerika, sehingga quality control benar-benar diterapkan. Menurut Harry pabrik ini tidak memerlukan Genset, karena pabrik ini mengunakan listrik dari main line sehingga tidak akan pernah padam, karena investasi genset sangat mahal dan rugi kalau jarang digunakan.

Pabrik Garmen Golden Flower merupakan salah satu pabrik yang cukup besar dengan total 9 Pabrik dengan total karyawan 9000 Karyawan, satu bangunan lain adalah rumah mewah untuk expat, karena kondisi ekonomi maka kini hanya tinggal 5 pabrik yang masih aktive, dan sedang modernisasi mesin-mesin, sehingga karyawan yang berhentipun sudah tidak digantikan.

Sayang tidak diadakan FO Factory Outlet, sehingga kami terpaksa harus pergi dengan tangan kosong. Terima kasih buat

Harry yang mau menyediakan waktu walaupun sangat sibuk dengan pekerjaannya,

09. Banaran Cafe

Akhirnya kami bisa singgah sebentar ngopi di Kampong Kopi Banaran Cafe di Jalan raya Ungaran Solo dekat terminal, satu daerah yang cukup sejuk dengan pohon yang rindang, dan kami menikmati kopi panas maupun dingin dan aneka jus di taman, suasana yang sangat menyenangkan juga menikmati tahu goreng dan para perokok sangat menikmati suasana, makanpun sampai benar-benar kehabisan oleh kedatangan kami, Sayang tidak ada CCP alias Cung Ciau Pan.

10. SUSAN SPA

Setelah selesai semua acara hari ini akhirpun pergi ke penginapan berikutnya di Dudun Piyoto Bandungan Kota Ambarawa, satu daerah perbukitan yang sangat sejuk, jalan yang sangat terjal saat menuju ke Susan Spa Sopir mulai ragu-ragu apa bisnya bisa mencapai garis finis, tapi berkat doa, akhirnya kami tidak perlu turun dan bisa sampai selamat di tujuan tepat jam 17.30. Saat itu Susan Spa lagi angin kencang sehingga udaranya sangat sejuk dan bahkan dingin, wah rasanya segerrr sekali, akhirnya kami bisa langsung masuk cek in dan istirahat sebentar, jam 7 malam kami akan dinner.

Kali ini kami bisa merasakan nikmatnya istirahat, memang dalam suasana sudah gelap kami belum bisa menikmati pemandangan yang luaaar biasa diatas bukir ini.

Jam 7 malam kami kumpul makan malam, tapi perut yang masih luar biasa kenyang dan menu yang disediakan tidak terlalu istimewa sehingga kurang mengundang selera, rasanya kita sudah makan bermacam-macam kuriner khas Semarang.

Malamnya ternyata Herman Lim datang mengunjungi kami di Hotel dengan membawa keluarga istri dan 3 anaknya sehingga kami bisa ngobrol, ternyata istrinya orang Kuntien juga dan fasih Tiociu dan bawa oleh tahu bakso goreng, eh kayak nyongteufu enak sekali, kamsia Herman atas oleh-olehnya.

11. Gua Maria Kerep

Malamnya ada acara mengunjungi Gua Maria Kerep tidak jauh dari Susan Spa kurang lebih 30 menit perjalanan. Tetapi saat mau berangkat tiba-tiba hujan lebat sekali sehingga kami ragu-ragu, tetapi beberapa teman pingin sekali kesana, katanya didaerah Gua Maria beda lokasi dan kemungkinan sana tidak turun hujan, memang setelah sampai disana hanya gerimis saja. Dari pelantaran parkir yang banyak warung dan toko souvenir kami harus berjalan 900 meter untuk tiba lokasi.

Keistimewaan tempat ziarah ini, selain terdapat visualisasi jalan salib dan patung Maria, sebagaimana layaknya tempat ziarah Katolik, di tempat ini ada visualisasi mukjizat-mukjizat yang pernah dilakukan Yesus. Visualisasi dimulai dari sungai Yordan, yaitu sungai tempat Yesus dibaptis. Berbelok ke arah kanan terdapat bangunan terbuka seperti Gazebo. Ini adalah visualisasi mukjizat perjamuan di Kana. Ketika itu Yesus mengubah air menjadi anggur. Di seberangnya terdapat lokasi visualisasi mukjizat lima roti dan dua ikan yang dapat memberi makan pada lima ribu orang.

Kemudian berjalan sekitar 100 meter, terdapat kolam asri yang menjadi penanda danau Galilea. Di pinggir kolam teronggok puing-puing sampan yang sudah rusak. Perhentian terakhir adalah kuburan Yesus yang sudah kosong.

Lokasi yang cukup gelap karena saat kami tiba dilokasi sudah jam 21 malam, jadi sudah pada sepi, tetapi teman-teman pada suka dengan suasana doa khusuk, tidak tahu apa yang mereka doakan dan jam 23 malam baru pada selesai dan pulang kembali ke Hotel.

Ternyata setelah sampai di Hotel, Yonghui baru ketahuan dompetnya ketinggalan di sana, akhirnya bersama teman-teman jam 1 malam kembali kelokasi, tetapi tetapi tidak ditemukan, ternyata 4.30 pagi bel berbunyi dan dompet ditemukan tapi mungkin isinya sudah tidak ada lagi. Benar malam yang melelahkan. Tiga kali harus kembali ke Gua Maria, mimpi apa ya, akhirnya seluruh acara pagi tidak bisa diikutinya.

12. MENIKMATI PEMANDANGAN DI PAGI HARI

Saat saya bangun jam 4.30 pagi ternyata di lolasi sudah mulai terang, sehingga pingin rasanya keluar untuk melihat pemamdangan. Eh….ternyata diluar mmang luar biasa indah, dengan hamparan embun pagi dan dari jauh sudah muncul matahari, sungguh pemandangan yang luar biasa, menikmati semua ciptaan Tuhan, semua Gunung dan lembah-lembah yang tertutup awan ditambah dengan udara yang sejuk, rasanya ini jauh lebih indah acara sebelumnya, baru kali ini bisa mensyukuri karya pemberian Tuhan untuk kita nikmati. Saya jalan-jalan menembusi semua ruangan Hotel, karena belum ada satupun karyawan Hotel yang sudah mulai bekerja. Dengan kamera siap ditangan untuk mendokumentasikan pergerakan sinar matahari yang lambat laum menerangi Susan Spa yang ditengah-tengahnya ada lumput hijau layaknya mini golf dan di pelantaran bawah ternyata sedang dibangun la kana untuk acara wedding dengan pelantaran pemandangan lepas ke lembah-lembah.

Ternyata Susan Spa ini didesign sangat bagus oleh sang pemililk yang berbisnis Susan Album, bridal dll yang sebenarnya untuk keluarganya, ternyata banyak permintaan untuk dipakai umum, akhirnya dibuatlah Susan Spa. Dan ternyata harga Hotel ini tidak tergolong murah, boleh suatu saat datang untuk menikmati semua fasilitas Spa seperti Massage, body treatment, kolam renang air hangat in and outdoor dan menurut sang Pemilik Spa ini mserupakan satu-satunya Spa yang serasa berada diatas awan dan rasanya ada benarnya. Benar-benar lega dan plong. Tunggu semua fasilitasnya sudah jadi kita boleh datang kembali, jarak dari Semaraqn kurang lebih satu jam perjalanan.

13. GEDONG SONGO

Setelah selesai breakfast jam 8 pagi kami menuju tempat rekreasi di Gedong Songo satu tempat rekreasi dimana adsa satu Arca diatas bukit. Untuk meenuju kesana bukanlah satu perkara yang gampang, karena bus yang kami tumpangi, ternyata Supirnya menyatakan tidak sanggup naik keatas dan kami harus jalan kaki kurang lebih 2 KM

Percandian Gedong Songo terletak di gunung Ungaran, kira-kira pada ketinggian 1200~1300 m diatas muka laut. Secara administrative, Percandian Gedong Songo berada diwilayah Desa Candi, kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarng.

Percandian Gedong Songo merupakan kompleks candi yang terdiri Sembilan kelompok candi. Seluruh bangunan pada kompleks candi Gedong Songo dibuat dari bahan batu andesit. Kompleks candi ini pada awalnya disebut “Gedong Pitoe” karena pada waktu ditemukan oleh Raffles hanya terdiri dari tujuh kelompok bangunan candi. Namun selanjutnya ditemukan dua kelompok bangunan lagi sehinggsa kemudian dinamakan “Gedong Songo”. Kata gedong berarti bangunan sedangkan songo berarti Sembilan. Meskipun menurut nama yang diberikan ada semblan kelompok, bangunan saat ini hanya tinggal pondasi dan kami bangunan. Kelima kelompok bangunan tersebut letaknya terpencar dimulai dari candi Gedong Songo I yang terletak paling bawah sampai dengan kelompok candi V yang terletak paling atas. Kelima kelompok candi tersebut telah dipugarv oleh DInas Purbakala. Candi Gedong I dan II dipugar pada tanun 1928-1929 dan 1930-1935, sedangkan Gedong III, IV dan V tahun 1977-1983.

Percandian Gedong Songo merupakan kjelompok Candi bercorak Hindu. Hal ini dapat diketahui berdasarkan arca atsu relief yang menempati relung-relung candi.

Sayang kami tidak pergi melihat candi selanjutnya selain candi Gedong Songo I yang terletak paling bawah, rasanya tenaga sudah cukup terkuras oleh perjalan yang sangat melelahkan oleh jalan yang mendaki. Benar-benar jalan salib.

Tetapi udara yang berhembus sangat sejuk membuat semangat kami tetap terperihara asal kita tetap menjaga kondisi stamina, nafas, jam 11.30 kami harus bergegas pulang ke Hotel untuk segera Cek out.

14. Perjalanan ke dan dari Susan Spa

Dalam perjalanan pulang ke hotel Susan Spa kami singgah pabrik tahu Serasi dan Om Shim adalah pemilik dari pabrik tahu tersebut. Disamping membuat tahu juga membuat Susu kacang kedele dan anehnya semua madih dikerjakan secara konventional, yakni masih menggunakan kayu bakar, dan masih dikerjakan dengan ketrampilan tangan manusia, misalnya tahu dibungkus kain halus. Saya pergi kegudang coba ngintip ternyata ada campuran tapioka dan kunyit. Karyawannya Cuma ada beberapa orang yang kerja. Memang pabrik tahu harus berada dilokasi yang banyak air, dan saya lihat air mengalir terus tiada henti, dan tahu serta susu kacang yang dihasilkan memang luar biasa enak, tahu nya setelah

dihidangkan memang empuk. Rasanya sudah tidak perlu dipasarkan jauh-jauh, kerena orang yang datang membeli dan makan setempat sudah luarbiasa banyak. Harganya juga lumayan tahu 10 potong dalam kantong plastik hartanya 14 ribu persatunya 1400 dan segelas susu kacang tawar 5000 manis 7000 dan tiidak juga murah, tapi ini memang asli yang penting dijamin tidak menggunakan Borax atau pengawet. Sekali datang di meja langsung habis, sampai tinggal cabe dihidangkan sampai beberapa kali, terutama susu kacang dihidangkan panas-panas, menambah nikmatnya minuman bergizi. Apa lagi baru turun gunung dan udara yang sejuk, tahu serasi menyatakan tidak membuka cabang ditempat lain.

Sepanjan g seberang pabik tahu adalah tempat retret Kristen Elika dan sepanjang jalan ini ramai sekali karena dekat pasar dan banyak orang datang bertransakdi disini, mungkin orang Srmarang juga datang kesini untuk belanja sayur2an dan saya lihat sepanjang jalan orang jual nangka yang sangat enak dan dagingnya tebal-tebal. Aduh rasanya opingin datang lagi khusus makan nangka, sampa Harry terpaksa cci nangka kemarin yang sudah berlendir, tapi karena perut sudah gak muat, tapi tetap habis juga.

Kembali ke Hotel tepat jam 11.30 dan kami sudah siap dengan kopor, rasanya masih pingin nginap sehari lagi, menikmatihari yang cerah ini. Pemandang sini masih asri udara yang sejuk dan pingin rasanya suaru saat datang sama keluarga. Sebelum berangkat kami masih sempat berfoto bersama dengan bus kami tumpangi, rasanya luar biasa, semua sama, mau direktur, bos, kuli, maupun ibu rumah tengga, kalau sudah kumpul tidak ada yang membedakan, semua dari angkatan 77, tanggalkan semua titel dan predikat, tidak ada yang perlu ditingikan maupun minder. Saya dengar dari satu reuni sekolah terkenal di Jakarta yang jauh lebih senior sampai ada jadi pemilik Bank terkenal maupun Perusahaan Properti kalau kumpul disuruh pakai baju sekolah dulu yang telah disediakan panitia. Itulah yang membuat reuni ini masih bisa bertahan hingga sekarang.

Dari ketinggian 1100 meter dari permukaan laut kami mulai menuruni melalui jalan yang terjal dan sudah tidak menakutkan lagi karena jalan yang turun dan akhirnya kami sampai di jalan raya Bawean KM 32 Harjosari Semarang, disini kami singgah sebentar makan bakso babat, suasana agak sepi tapi begitu kami datang pemilik langsung kalang kabut, karena tidak pakai pelayan, sampai pusing sendiri melayani pertanyaan kami, makanan banyak macam, sampai bingun mau pesan yang mana. Tapi baksa Bananya memang enak, dan rata-rata baksu Semarang dan Magelang memang enak dan garing sekali. Cocok dengan selera kita. Bakso Gepeng Pontianak sudah terkenal dimana dan penya ciri khas, makanya selera makan orang Pontianak juga sangat tinggi kalau soal makan baksu. Tapi bakso urat sini agak kurang garung, he.. perut rasanya sudah mulai merindukan kwetiaw urat sapi.

15. Ke Rumah Harry Po

Akhirnya jam 13 kami sampai dirumah Harry Po di Ungaran, rumahnya berlantai satu terletak di jalan raya sehingga saya terpikir untuk buka usaha seperti mini market cocok sekali karena seberang ada bank dll. Harry Po memang sudah tampak tidak begitu berselera untuk mengembangkan rumahnya karena anak-anaknya semua cewek sudah besar-besar pada pergi satu persatu, dan sebentar lagi sudah Akong. Harry Po yang sebenarnya orang Khek, tapi lebih didominasi sang istri tiociu, makanya kog Harry lebih lancar Tiocu, gak sama Elly yang masih benar-benar Khek asli, moga dugaan saya salah. Sekali kali ke Semarang boleh dong singgah di Ungaran, karena kamar tidurnya ada yang kosong.

Begitu masuk kerumah Harry sudah disediakan rujak buah, jambu, mangga, bengkuang dengan tiga bumbu, wajah encim encim tampak berseri-seri melihat ada sambal petis dimeja. Wah langsung mengerebuti meja makan. Juga ada Lumpia moderen dengan isi mayonaise, katanya ini hasil karya anak-anak dari pioner Lumpia Semarang.

Dibelakang rumah sebagai ciri khas orang Katolik ada Gua Maria, dan ada gelombang cinta yang sudah besar, cakep banget daunnya, mungkin supaya cintanya tidak luntur sama mantan kekasih. Ternyata Harry sudah menjadi orang Semarang, semoga dugaan saya salah, buktinya masih merindukan rotipau yang empuk khas Pontianak, memang empuk kan?

Memang pekerjaan sebagai Direktur pabrik Garmen sangat menyita kehidupan Harry, dan kerja setiap hari dari senin samopai Sabtu, makanya jarang komunikasi sama teman-teman di milis. Eh omong lain saya sendiri juga, kata Bui Kiam di cekal yach. Padahal gak apa-ap kog, sama seperti dulu….

Yang agak lucu adalah anjingnya yang mungil ini kalau dipanggil saya pasti melongoh, sampai-sampai saya ikut datang, he…rupanya namanya ada sedikit kemiripan, tapi ngak apa-apa, supaya Harry selalu ingat nama saya, makanya nama saya paling diingatnya, bahkan istrinya yang belum saya kenal juga bisa langsung menyebut nama saya dengan tepat, makanya saya heran apa gerangan penyebabnya. Makanya kasih dong nama teman-teman, misalnya Popo untuk gelombang cintanya, eh kamu kan mantannya juga kan? He…nanti ada WIL dirumah. Nanti Harry malah terinspirasi sama saya sehingga gelombang cinta malah ditaruh ditengah-tengah ruangan di pelihara daripada seharusnya dan dielus rambutnya yang masih bergelombang, nanti kalau sudah kelewatan terus disiram minyak tanah sama mantan pacar. He…jadi ribut dah….

gawatnya ada yang berpikir engkau masih seperti dulu, gawat dah, jadilah reuni ikut menanggung dosa. Tapi Popo

memang masih tetapi seperti dulu, paling tidak masih ada sisa-sisa 80%, bagi saya sih sama seperti yang lain, soalnya kenal aja kagak….apa lagi ngefans….hus…ngomong anjing kog ngelantur ke soal lain,….tapi saya perhatikan Popo ini paling rajin berdoa, semua dia datangin, baik ke Kwankong, Kwai im maupun ke Bunda Maria….memang masih banyak yang diminta termasuk kembalikan ke kondisi dulu lagi….wah itu yang gawat..jadilah sesuai kehendakmu…amin.

Sampai jam 14.30 Aleng sudah minta permisi karena dia ternyata satu-satunya berangkat diluar jadwal, jakni harus berangkat pulang dengan Kereta Api, karena beliau ini termasuk peserta dadakan, last minutes, selalu dapet extra bed dan

extra voucer, semoga perjalanannya menyenangkan meskipun harus sendirian di KA, semoga tulisan ini bisa jadi hiburan kesan-kesan perjalanan kita.

Jam 15 kamipun pamitan sama Harry dan Istri sambil membawa Lumpia pesanan teman-teman untuk dibawa sebagai oleh oleh, semoga beberapa hari bersama teman-teman bisa menyenangkan, kapan-kapan kalau ngumpul, datang dong, kalau cari lui terus nanti cepat tua, kalau reuni sama teman-teman ketawa terus, awet muda ha…Harry sudah mulai kehilangan khasnya

15. Shopping Kuriner Semarang

Kurang lebih 20 menit kita sudah sampai di Jl. Pandanaran tepatnya No.57 disitu ramai sekali dan berderet toko-toko yang menjajakan oleh oleh Semarang. Kata Harry Po beli di Toko Bandeng Juwana

Bandeng Juwana merupakan pusat oleh-oleh paling terkenal di Semarang. Di sana banyak terdapat oleh-oleh yang dapat dibeli seperti wingko babat cap kereta api, kue moaci, bandeng dll. Yang paling khusus adalah bandeng presto duri lunak dan otak-otak bandeng.Telah banyak sekali artis yang membeli di sana, hal ini tampak dari foto-foto artis yang sempat singgah dan dipajang sebagai hiasan dinding. Di depan lokasi banyak penjual wingko dan lunpia Semarang.

Mau denger Cerita Lunpia Semarang ada yang pingin denger gak ceritanya..

Lumpia Semarang adalah makanan semacam rollade berisi rebung, telur, dan daging ayam atau udang.

Citarasa lumpia Semarang adalah perpaduan rasa Tionghoa dan Indonesia, karena memang penemunya adalah orangTionghoa Semarang yang menikah dengan orang Indonesia.

Makanan ini mulai dijajakan dan dikenal di Semarang pada waktu pesta olahraga GANEFO pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Di Semarang dewasa ini ada lima ”aliran” lumpia Semarang dengan cita rasa berbeda. Pertama aliran Gang Lombok (Siem Swie Kiem), kedua aliran Jalan Pemuda (almarhum Siem Swie Hie), dan ketiga aliran Jalan Mataram (almarhumah Siem Hwa Nio). Ketiga aliran ini berasal dari satu keluarga Siem Gwan Sing–Tjoa Po Nio yang merupakan menantu dan putri tunggal pencipta lumpia Semarang, Tjoa Thay Yoe–Wasih.

Aliran keempat adalah sejumlah bekas pegawai lumpia Jalan Pemuda, dan aliran kelima adalah orang-orang dengan latar belakang hobi kuliner yang membuat lumpia dengan resep hasil pembelajaran dari lumpia yang sudah beredar.

Generasi tertua saat ini, yaitu generasi ketiga Siem Swie Kiem (65), tetap setia melayani konsumennya di kios warisan ayahnya (Siem Gwan Sing) di Gang Lombok 11. Keistimewaan lumpia Gang Lombok ini menurut sejumlah penggemarnya yang sempat ditemui di kios tersebut adalah racikan rebungnya tidak berbau, juga campuran telur dan udangnya tidak amis.

Lumpia buatan generasi keempat dapat kita peroleh di kios lumpia Mbak Lien alias Siem Siok Lien (43) di Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran. Mbak Lien meneruskan kios almarhum ayahnya, Siem Swie Hie, yang merupakan abang dari Siem Swie Kiem, di Jalan Pemuda (mulut Gang Grajen) sambil membuka dua cabang di Jalan Pandanaran.

Kekhasan lumpia Mbak Lien ini adalah isinya yang ditambahi racikan daging ayam kampung. Ketika awal mula meneruskan usaha almarhum ayahnya, Mbak Lien membuat tiga macam lumpia, yaitu lumpia isi udang, lumpia isi ayam (untuk yang alergi udang), dan lumpia spesial berisi campuran udang serta ayam. Tetapi, karena merasa kerepotan dan apalagi kebanyakan pembeli suka yang spesial, sekarang Mbak Lien hanya membuat satu macam saja, yaitu lumpia istimewa dengan isi rebung dicampur udang dan ayam.

Adapun generasi keempat lainnya, yaitu anak-anak dari almarhum Siem Hwa Nio (kakak perempuan dari Siem Swie Kiem) meneruskan kios ibunya di Jalan Mataram (Jalan MT Haryono) di samping membuka kios baru di beberapa tempat di Kota Semarang. Di antara anak-anak almarhum Siem Hwa Nio ini ada juga yang membuka cabang di Jakarta. Bahkan ada cucu almarhum Siem Hwa Nio sebagai generasi kelima membuka kios lumpia sendiri di Semarang. Selain keluarga-keluarga leluhur pencipta lumpia semarang tersebut, sekarang banyak juga orang-orang ”luar” yang membuat lumpia semarang. Mereka umumnya mantan karyawan mereka. Mereka yang mempunyai hobi kuliner juga turut meramaikan bisnis lumpia semarang dengan membuat lumpia sendiri, seperti Lumpia Ekspres, Phoa Kiem Hwa dari Semarang International Family and Garden Restaurant di Jalan Gajah Mada, Semarang.

Harga lumpia yang dijual para pedagang tersebut berbeda-beda. Kios lumpia Gang Lombok milik Siem Swie Kiem, misalnya, menjual dengan harga Rp 6.000 per biji (goreng/basah). Kios di Jalan Pemuda milik Mbak Lien menjual dengan harga Rp 5.500 per biji. Sedangkan pedagang-pedagang lumpia lain menjual dengan harga sekitar Rp 2.500 per biji. Tapi ada yang lebih special dengan harga 10000.

Mau tahu cara memasaknya?

BAHAN :

  • 12 lembar kulit lumpia + 150 gram ayam cincang + 100 gram udang cincang + 100 gram rebung, iris halus + 200 gram bengkuang + 100 gram taoge + 1 tangkai daun bawang iris halus ,garam dan merica secukupnya + 1 sendok makan kecap manis minyak goreng secukupnya

BUMBU HALUS:

  • 2 siung bawang putih + 2 sendok makan ebi + 2 butir bawang merah + 1/2 sendok teh garam + 1/4 sendok teh merica bubuk

CARA MEMBUAT:

Tumis bumbu halus sampai harum. Masukkan ayam dan udang. Aduk sampai berubah warna. Tambahkan rebung, taoge, daun bawang, garam, merica, dan kecap manis. Aduk rata sampai semua bahan matang. Angkat dan dinginkan. Ambil selembar kulit lumpia. Isi dengan adonan isi, gulung, lalu rekatkan. Lakukan hal sama pada bahan yang lain. Goreng dalam minyak goreng FILMA sampai matang. Sajikan dengan saus, acar, dan daun bawang. untuk 12 buah.

Saya paling bingung makan Lunpia Semarang dengan saos kanji, biasanya selalu saya buang, abis gak tahu gimana menghidangkannya, mungkin makan disana baru tahu nikmatnya, Lunpia Semarang, dengan acar, daun bawang disiram saos tepung kanji.

16. Perpisahan

Jam 16.00 sore kamipun sudah selesai belanja dan sudah penuh dengan bawaan, tidak terasa kamipun harus berpisah dengan kota Semarang Harry Po sudah cape dan kamipun harus mempersiapkan diri untuk segera berangkat kebandara Achmad Yani, ternyata bandara ini tidak jauh dan hanya sebentar sudah sampai, sebagian teman Pontianak terutama yang encim-encim ternyata tidak ikut kami tapi masih ingin melanjutkan perjalanan ke kota Jogjakarta, dan ada yang masih ingin nginap di kota Semarang lagi dengan Herman Lim dan pulang ke esokan harinya. Kami masih punya waktu cukup lama di Bandara hingga jam 18.30 sehingga kami masih bisa menikmati makanan di Lounge, melihat ada sup wortel, ingat Bakso Tahu Herman Lim yang diberikan oleh-oleh kepada kami, akhirnya kamipun masak Nyong teufu, he…enak juga rasanya. Tidak terasa hari-hari yang begitu indah telah berlalu dan tinggal sepanjang jalan kenangan, mengenangi segala gelak

tawa, canda, senda gurau yang tidak akan pernah habis dan selalu ada saja yang dibicarakan dan tidak bisa ditemukan dimanapun, itu yang selalu menginspirasi kami untuk selalu ingin bertemu dan dimanapun kami selalu akan ikut. Mungkin tahun yang akan datang sudah akan berani pikit untuk ketempat yang lebih jauh. Tahun 2006 setelah reuni akbar kami sudah beran mencanangkan ke China, tapi belum ada realisasinya. Kata Afenko ada jalur-jalur yang tarifnya masih murah, tapi adapun kondisinya mulailah menabung, China semakin mahal. Sukni malah nantang Yonghui yang biasanya jarang ikut reuni untuk ke China, katanya kalau KonLung ikut, saya pasti ikut Nah kita tunggu tangan-tangan Profesionel untuk menanggani proyek tersebut, semoga usaha kita yang semakin maju, Tuhan pasti mendengarkan doa-doa kita,

Amin…Tidak terasa 48 menit penerbangan telah membangunkan impinan kami dan telah sampai di kota tujuan kami membawa kami pulang kerumah masing-masing,….tinggal tulisan ini yang memberi kenangan bersama,….saat indah dan penuh kenangan di Semarang bersama Harry Po dan Herman Lim, terimakasih semuanya.dan sampai ketemu di acara yang akan datang..mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan..salam dari Bony

One response to “Catatan Wonderful Trip to Semarang 16-18 OKTOBER 2009 SEMARANG

  1. BONY SUKAMTO April 6, 2015 at 18:19

    CROPPING FOTONYA MANTAAAP MURLI KOG KOLEKSI SAYA GAK ADA YANG GITU CEKEP.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: