Kisah Reuni Akbar Pontianak

Sumbangan dari Bony Sukamto

Hello,  setelah lama absen, kembali saya menerima materi baru dari teman kita Bony Sukamto tentang perjalanan Reuni Akbar di Pontianak pada tahun 2006 yang lalu, mungkin ada bagian-bagian tertentu dari artikel ini yang sudah di pposting sebelumnya, tetapi saya tampilkan kembali seutuhnya sesuai presentasi dari Bony lengkap dengan gaya dan ciri Bony sendiri tanpa suntingan apapun, silahkan nikmati dan bernostalgia kembali kemasa lalu…

Kisah perjalan ke Pontianak berawal dari tanggal 15/08/2006 saat yang menegangkan, dimana saya sudah check-in 05.30 di Bandara Sukarno Hatta dan saya yakin bahwa kita sudah akan boarding pukul 06.00 tepat sesuai dengan jadwal.

 

Menunggu dalam ketidak pastian

Ternyata sampai 6.15 masih belum ada aktivitas apa-apa sehingga hati kita tambah risau, padahal kelihatannya pewawat Batavia udah di Hanggar. Hingga 06.30 langsung ada penggumuman ada masalah cuaca di Pontianak, akhirnya saya mulai SMS dengan teman kita Akwang yang menginformasikan bahwa di Bandara memang penuh asap, baru kali ini ada delay pesawat. Keadaan kondisi perjalanan saya sampaikan ke teman-teman melalui SMS untuk menenangkan suasana dan supaya jangan berbohong bahwa keadaan baik-baik saja. Sukniarti menjanjikan akan segera menyampaikan ke teman-teman supaya bersiap untuk delay, dan tidak ada yang perlu ditakutkan. Terus satu SMS lagi masuk menyatakan bahwa Nyongpen sedang ada di Bandara, wah apa gerangan dia disini? Mungkin dia sedang mengantar orang? Saya baru tau belakangan bahwa dia akan ke Hawaii. Memang saat Rapat hari Sabtu pun saya tidak tahu bahwa dia tidak ikut Reuni. Taunya dari Herlina yang saya anggap itu issyu aja.

 

Perjalanan yang menegangkan

 

Saya mulai curiga apakah aku banyak dosa ya yang menyebabkan tertunda, padahal 2 minggu sebelumnya saya sudah berdoa melalui SMS untuk kelancaran Reuni kita di Pontianak dan akhirnya pukul 7.30 kita baru berhasil take off. Hati lega rasanya dan akhirnya saya bisa melihat kota kita tercinta. Saya biasanya suka berangkat pagi2 supaya bisa melihat awan-awan yang masih indah-indah dan bisa melihat pemandangan pulau-pulau dan hutan hutan kalimantan yang masih asri, tapi kali ini boro-boro melihat itu semua, bisa mendarat aja kita sudah bersyukur.

Dari atas pesawat sepanjang perjalanan hanya melihat awan melulu, begitu juga sampai di Supadio masih penuh kabut, tapi akhirnya pilot memutuskan bisa landing, thanks Lord. Satu seperempat jam kemudian kita telah mendarat di Supadio.

 

Bertemu sahabat lama

Begitu sampai di Bandara dan baru memasuki gerbang, ada seorang pria ganteng menyapa saya, saya kira ini seperti suami ibu Gerda yang punya Delta Kapuas dulu, Professor terbang itu. Wajahnya familiar sekali dalam hati bertanya kog dia masih kenal saya. Akhirnya dia mengaku namanya Akwang, saya tanya lagi kog kamu bisa kenal saya? Kan udah lihat di foto reuni, he….ngak rugi ikut reuni, wajah kita tersebar dimana -mana. Selama 29 tahun saya tidak pernah melihat wajahnya, kita cuma komunikasi by phone, tapi melihat garis wajahnya saya rasanya kurang familier, saya mengenang dia sebagai pria yang lumayan ganteng dengan rambut yang ikal dikit. Saya hanya menyerahkan tiket dan ternyata kopor kita sudah di mobil.

 

Asap, krisis BBM

Perjalanan yang bercampur aduk melihat kota Pontianak yang masih penuh asap dan saya melihat kiri kanan orang dengan seenaknya membakar lahannya tanpa ada perasaan takut dan iba dengan kondisi udara dan saya juga melihat hampir setiap ponpa Bensin terjadi antrian yang membludak, alasannya supply yang terlambat, apa benar alasan begitu atau pembatasan BBM hanyalah Tuhan yang tahu. Rupanya ketulusan dan kejujuran sudah menjadi semakin langka di Indonesia. Dalam hari saya cuma bilang berbahagialah kita yang tinggal di Jakarta.

 

Air Asin

Kemudian saya diajak makan nasi tim Akwang, sentakan keempat muncul, waktu saya ditanyakan mau minum apa? Saya biasanya minum teh panas, Akwang langsung bilang Pontianak lagi krisis air minum dan air PAM juga jadi asin, ha…. kita pingin minum air sungai Kapuas, masak minum Aqua, ngak pontianaklis dong. Udahlah tetap minum air Kapuas biar asin dikit, ngak apa-apa. Wah rasanya kayak air tambak udang, payau dikit…. Air teh rasa asin, gimana tuh, pernah gak merasakannya? Itulah uniknya Pontianak, meskipun diterpa seribu macam masalah orang tetap berduyun ke sana, disanalah beta dilahirkan.

 

Antar Surat ke Mantan Guru

Habis makan jadwal pertama, kita langsung ke Agustin dan Suzana yang tinggal berdekatan dan sudah menunggu kedatangan saya untuk menjalankan tugas mengantar surat undangan ke mantan guru kita. Saya senang sekali saya menjadi orang pertama mengunjungi mantan guru kita. Kata Lukito suatu saat kepada saya kalau tidak ada Reuni ini mungkin rumah yang ternyata dekat rumah saya ini, mungkin saya juga tidak tahu bahwa itu rumah Teman SMA saya, jadi teman-teman ternyata reuni ini lebih mendekatkan diri kita.

Pertama-tama kita mendatangi mantan guru oleh raga kita, Hasan Basri, pasti pada ingat ngak ? Dengan bahasa yang khas Melayu dan peluit siap dikalung dan selalu pakai training. Biasanya suka mengajar atletik. Kali ini agak kecewa melihat rumah yang rada kosong dan memang dugaan saya benar bahwa ternyata Beliau tidak berhasil ditemui. Dia saat ini sedang berada di Jakarta tepatnya di Ciledug Kebayoran Lama, sedang menjalani pengobatan penyakit kencing manis di RS Carolus. Saking terharunya kita sampai lupa menanyakan nomor telponnya.

Akhirnya kita kerumah pak Junaidy, guru Kimia yang sangat kita cintai dan terkenal sangat ramah terhadap muridnya. Husss bukan rajin menjamah lho. Kita bolak balik mencari nomor rumah, belum lagi rumah yang tidak bisa dimasuki mobil. Akhirnya kita berjalan kami kerumahnya. Saya betul ingin memberikan surprise. Rumahnya kelihatan kosong, tapi kog TV nya masih menyala terus? Pasti dia ada dirumah, kita gedor-gedor juga tidak dibukakan, akhirnya saya memutuskan mendobrak pintu samping dan kayaknya sudah lama tidak pernah dibuka karena oenuh sarang laba. Saya menemukan seorang perempuan tua sedang mencuci piring, anehnya beliau tidak marah atas tindakan saya dan langsung minta ijin kekamar untuk ganti baju dulu. Bukannya buka pintu dulu, sehingga teman-teman hanya menunggu di luar, saya pertama-pertama minta foto pak Junaidi, pingin lihat bagaimana tampangnya sekarang. Eh ternyata yang dikasih lihat adalah foto reuni dengan kakak kelas kita angkatan tahun 1976 pada tahun 2003, wah ternyata kita bukan yang pertama lho. Tapi dalam hati saya tahu reuni kita merupakan yang terbaik dan serba unik. Bp. Junaidi ternyata barusan keluar rumah. Wah gagal lagi kali ini, berharap berikutnya kita pasti akan berhasil.

Terus kita langsung meluncur kerumah Suginem, masih lupa2 ingat guru olahraga ini? sehingga saat masuk kerumahnya, saya melihat nenek tua yang saya menduga mungkin ibunya Suginem. Jadi saya langsung menyatakan ingin mencari ibu Suginem, langsung dijawab sayakah Suginem? Wah lancang juga nenek ini menantang saya. Saya masih tidak mengerti dan tanya kedua kalinya, langsung Agustin dan Akwang senyum-senyum bahwa yang saya cari itu ibu Suginem, yach apun……….. Akhirnya kita dengan akrab dan saling bersirahturami, ngobrol dengan nenek ini, ternyata maish kuat dan tegar, tidak ada kesan menderita sesuatu penyakit. Diruang tamu saya meihat ada kipas angin pemberian teman angkatan 1976. Tapi kita sudah akan memberi yang lebih baik lagi, ada jam tangan yang di grafir.

Kunjungan keempat adalah rumah Pak Judy, saya secara pribadi kurang mengenalnya, mungkin bagi akan SOS sangat mengenalnya. Dan kebetulan dia juga tidak ada dirumah dan barusan pergi sama mantan pacar. Kita hanya menemui cucu yang aduhai gemuknya dan lucu benget.

Tak seberapa jau dari itu kita kerumah pak Ade Ismael, Guru Bahasa Indonesia kita, ditunjukin sama tetangga rumah yang sedang dibangun. Bayangkan gimana rasanya tinggal dirumah yang sedang dibangun, rumah kayak amburadul, dan ternyata Bapak Ade Ismael sedang istirahat dikamar. Dan baru tahu bahwa pendengarannya tidak baik, jadi harus teriak-teriak. Tapi kondisinya masih lumayan hanya istrinya menderikan kencing manis yang lumayan akut. Makanya waktu datang ke Malam reuni saya yang sangat care sama dia, karena kalau dipanggil di pasti ngak dengar, jadi begitu namanya disebut saya langsung mengantarnya kedepan. Saya lihat mukanya masih penuh senyum seperti dulu, meskipun saya bisa merasakan bagaimana kehidupan orang tua pensiunan dan rasa terima kasihnya bahwa ternyata masih ada mantan muridnya yang mau memperhatikannya.

Dan merupakan dua jadwal berikutnya terakhir adalah mengunjungi dua rival yakni pak Sudarto dan pak Harsono, pada saat mengunjungi rumah pak Sudarto, ya ampun rumahnya ngak jelas pintu masuknya, saya bingung mau masuk dari mana, kelihatan pintu masuk tapi kog tidak ada jalannya apa dia pakai gingkang? Saya sampai coba masuk dari pintu belakang juga terkunci semuanya, tapi rumahnya rapi sekali, habis ngak ada penghuni lain, alias bujangan. Beliau kalau ada dirumah berarti dia sedang sakit, jadi jangan harapkan dia ada dirumah, dan beliau masih kerja dikantor pemerintah.

Masih tersisa satu orang yang tinggal di jalan Maluku, dan kita agak sulit menemukan rumahnya, dan kelewatan, akhirnya kita tanya orang sekitar apa ada yang bernama Harsono, Mantan guru? Ya….

Ya ampun ternyata pria tua ini tampangnya masih tetap ganteng dan mukanya tetap ramah, meskipun ibu kita tercinta ibu Sri Harsono baru meninggalkan kita 2 tahun yang lalu. Dia masih bisa mengendarai mobil, yang disebutnya gerobak, lihat kondisinya dia termasuk yang paling baik dan lumayan mungkin karena dulu kerja berdua.

Ternyata dari mantan guru yang masih tersisa kebanyakan adalah guru olahraga, memang benar semboyan in corporo sano, didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kita mengunjungi lagi satu guru olahraga kita pak Ignatius, wajahnya tetap sehat dan bergairah dan masih tetap mengajar di Santo Paulus. Yang paling berkesan adalah kita disuguhi mangga hasil kebon sendiri, luar biasa enaknya Agustin sampai nambah terus…

Jadwal terakhir adalah mengunjungi rumah Bapak Leo Sutrisno, guru yang sangat saya kenal, karena dulu termasuk guru yang cukup dingin dan merangkap wakil kepala sekolah. Melihat rumahnya dia termasuk orang yang suka berkebun, rumahnya penuh dengan pohon buah-buahan. Wajahnya sangat saya hafal dan meskipun agak menua tapi umurnya tidak jau dari kita, karena umurmya tidak jau berbeda dengan Lukito. Saya masih ingat alis mata cukup tebal dan ternyata beliau masih mengajar di Universitas Tanjung Pura untunglah dia satu-satunya guru yang masih bisa mengoperasikan komputer dan punya milis. Jadilah saya memintanya untuk berkomunikasi di milis Santo Paulus. Ternyata pak Sutrisno paling mengenal angkatan kita, karena angkatan kita paling banyak scandal, termasuk kebocoran soal ujian Ebtanas. Terus dia masih ingat tangan dia pernah luka karena ulah seorang muridnya. Sehingga saya langsung mendaulat dia untuk menceritakan pengalamannya bersama angkatan 1977. Begitulah ceritanya dia di malam reuni menjadi satu-satunya guru yang bisa mengingat kenangan masa lampau kita. Dalam hati saya merasakan bahwa kalau mereka sudah akan menghadap yang Maha Pencipta mungkin nasipnya akan lebih baik, karena we care them. Perjuangan mereka untuk mendidik kita tidaklah sia-sia.

Akwang hari ini benar-benar menyediakan waktu terbaiknya untuk menyelesaikan persoalan undangan guru. Saya masih singgah kekantor Akwang untuk mengirim email ke teman-teman untuk memberitakan kondisi terkini, juga sekalian mendokumentasi apa yang saya kerjakan hari ini, supaya besok tidak lupa, karena besok ada agenda lain yang harus dikerjakan. Malamnya Akwang masih mengundang makan kwetiau yang di ca dengan arang. Wah lumayan enak juga dasn saya lihat mana-mana di Pontiakan terjadi pemadaman lampu, hampir setiap tempat usah tersedia genset.

Tanggal 16 Agustus 2006 pagi jam 10.00 giliran Lukito yang mengantar, kita pertama-tama datang ke Hotel Kini untuk mengunjungi Hotel Kini untuk melihat keadaan dan kondisi Ruangan yang akan kita pakai serta reserving kamar-kanar yang akan dipakai teman dari Jakarta, saya melihat ruangan tersebut cocok untuk reuni dan ruangannya memadai, termasuk penataan panggung yang cukup bagus, sebenarnya kita bisa mengadakan Welcome dance yang kita rencana kan semula. Sesudah itu kita langsung ke Susteran dan Keuskupan Pontianak, datang dengan ditemani Agustin kita bertiga pertama-tama mengunjungi Suster Yohana, suster yang konon mengajar sebentar akan Sos, tapi bukan PAS, makanya saya kurang mengetahuinya. Suster Yohana kelihatan sibuk dengan kebonnya. Dan sekarang aktive mengurus kos untuk anak2 daerah/pedalaman. Menurutnya memang anak pedalaman masih agak ketinggalan dengan anak kota yang biasanya lebih rajin dan punya motivasi lebih tinggi, sehingga dia mengusulkan sebaiknya kos nya perlu ada pembauran dangan anak kota. Dia sangat ingat sama anak-anak susteran seperti Vonny, Herlina sampai Ineth juga diingatnya. Dia juga menyampaikan kesannya tentang reuni Susteran untuk semua angkatan, yang menurutnya kurang berkesan karena jenjang generasi yang sangat jauh, sehingga kesannya mengelompok. Satu masukan dan satu point lagi buat kita, bravo

 

Keuskupan

Akhirnya kita menuju ke Keuskupan, Lukito sebenarnya masih berkeras hati untuk tidak menginjak kakinya di Katedral, semoga reuni ini bisa meluluhkan hatinya. Meskipun semasa hidupnya banyak dibantu pastor dan bruder, dan saya bertanya dan berdoa dalam hati mungkin reuni ini akan merubahnya menjadi orang yang saleh dan rajin kegereja. Saat memasuki ruang Uskup Pontianak Hieronimus Bumbun. Saya Uskup kita sudah tua, ternyata bayangan saya meleset, Dia masih tetap segar dan masih sehat. 29 tahun tidak merubah penampilannya, tetap enerjik termasuk penampilannya dimalam reuni.

 

Ke SMA Santo Paulus

Sebagai jadwal terakhir hari ini kita mengunjungi SMA Santo Paulus untuk mengantar undangan ke Kepala Sekolah sekalian berbincang-bincang dengan ketua Osis, Anna

Sekolah yang masih seperti semula cuma SMA yang sudah pindah gedung. Gedung sekarang sudah dipakai sama SMP Bruder. Jadi bisa dibayangkan kursi udah pada menciut. Melihat lapangan Basket yang penuh kenangan, waktu jaman kita sering latihan pagi-pagi jam 6 sudah pada hadir, tidak heran kita pernah menjadi juara 2 sekota Pontianak.

Juga Gedung Arena Remaja yang sudah tinggal kenangan dan akan dibangun gedung baru. Begitu masuk gedung SMA kita disambut cukup bagus sama Kepala Sekolah. Dan diberitahukan kepada kami bahwa barusan ada surat dari PDK bahwa mengingat kondisi udara di Pontianak yang sangat mengkhawatirkan maka semua sekolah termasuk perkantoran pemerintahan diliburkan sampai hari Selasa. Jadilah acara penyambutan dengan Drumband diadakan lagi, yang sebelumnya sempat dibatalkan karena takut mengganggu anak SD yang Sabtu masih sekolah. Saya membawa misi khusus untuk menanyakan tentang kondisi Komputerisasi di Sekolah Santo Paulus, ternyata Santo Paulus sudah memiliki lebih dari 100 Komputer. Sehingga saya berkesimpulan pemberian dari Alumni lebih berupa Program sebagaimana Cosmas pernah usulkan dan saya langsung memberitahukan ke Teman-teman Jakarta.

Kesannya adik adik kita sudah siap menyambut kedatangan kita dengan segala kemegahan yang dimilikinya, dengan drumband yang mana saya juga sebagai aktivis nya.

 

Naik Plampung ke Siantan

Karena acara hari ini sudah habis, maka saya berpamitan utuk urusan pribadi saya di Siantan, dengan menumpang Kapal Ferry kita yang terkenal dengan nama Plampung. Dulu masih dilayani 2 kapal, kini hanya satu saja, sebagian mobil dan motor sudah melalui jembatan penyebrangan. Karena sudah biasa melihatya di Ketapang ke Gilimanuk dan Merak Bakauheni, jadi kapal ferry ini ngak ada artinya, tetapi Kapuas tetaplah berkesan dihati, karena melalui kapal inilah saya selama 3 tahun hilir mudik menuntut ilmu. Jadilah meskipun kecil tetaplah berjasa terhadap hidup kita.

Besoknya tanggal 17 Agustus Cosmas telpon dari Supadio, katanya dijemput oleh saudaranya, dan masih ada acara keluarga, dengarnya akan langsung ke Ketapang, pokoknya setelah telpon pertama itu dia sulit dihubungi, yach gampang aja alasannya kesulitan roaming nich ye…apa gerangan yang kamu kerjakan dihari itu? Tak tahu la…..

 

Dinner di restaurant Gajahmada

Lie Jin dan Katarina serta Retina dan beberapa teman dari Jakarta yang sudah menginjakan kakinya di kota Katulistiwa, sehingga Akwang dan Lukito langsung mengambil inisiative untuk mengundang dinner di Restaurant Gajahmada dan teman kita Victorianus juga ikut bergabung, suasana yang akrab langsung terbina, termasuk Lukito yang banyak bercerita bagaimana reuni ini sangat berkesan dihatinya, termasuk angin kencang dan hujan gerimis yang menyapu kota Pontianak. Wah ini petanda bahwa reuni akan baik cuacanya. Sebab sebelumnya kota Pontianak selalu berwajah kelabu terutama pagi dan sore hari. Makanan yang lezat tidak tersisa sama sekali termasuk dessert yang berupa keladi manis tetap habis ludes tak berbekas. Pada saat selesai makan dan masih suasana ngobrol dengan teman-teman satu SMS masuk ke dr. Victorianus bahwa tante Johan Muliawan stoke yang kesekian kalinya, jadilah saya malam itu ikut menjadi pelayan Tuhan. Eh ternyata doa saya membuahkan hasil berupa kematian alias sudah dipanggil oleh Sang Pencipta paginya, apa mau dikata, persoalan hidup dan mati itu bukan hak kita, tapi Tuhan yang menentukan, bukan? Beruntung keluarga Amat tidak minta penggantian nyawa sama saya….malah bersyukur karena merasa lega atas kepergiannyanya. Lain kali ada teman yang pingin cepat-cepat pergi menghadap Sang Pencipta bisa minta saya doakan, ngak usah pakai baygon segale, praktis dan murah.

Sebenarnya tanggal 18 Agustus sudah ada schedule untuk pertemuan antara saya, Lukito dan Cosmas, tapi keduanya ada saja alasan untuk tidak bisa bertemu, akhirnya siangnya baru bertemu di Hotel Kini dengan Akwang, Agustin dan Suzana serta teman-teman lainnya. Tapi ruangan reuni kita sudah ada acara dadakan, sehingga ruangan tersebut tidak bisa kita pakai untuk kegiatan dekorasi dan pengaturan soundsystem. Jadi seluruh pekerjaan praktis hanya bisa dikerjakan besok pagi-pagi.

Tadi Lukito juga bercerita waktu diajak DLD dan Katarina untuk menghadiri misa pagi, hatinya benar-benar tergugah dan mencucurkan air mata untuk sang Pencipta, ternyata dia masih menyaingi saya, meskipun saya lama tidak mencarinya.

Lukito banyak bercerita bagaimana pengalamannya menyengarakan acara acara Karaoke se Pontianak yang konon cerita sangat sukses dan sudah dimuat dikoran Pontianak Pos. Dan boleh saya mempercayai kemampuan Timnya. Cosmas saat itu juga sedang berkonsentrasi untuk mempersiapkan presentasinya malam besok.

 

Pra Reuni di rumah Lukito

Dengan teman-teman yang semakin berdatangan sehingga rencana untuk mengadakan reuni kecil-kecilan dirumah Lukito bisa terlaksana. Yang datang kerumahnya cukup banyak, termasuk yang dari Pontianak dan kabarnya temasuk si’R’ juga hadir. Acaranya cukup simple dan sederhana dan Agustin dan Suzana sudah mempersiapkan semuanya itu untuk kita. Suasana benar sangat akrab, Lukito sempat memutarkan foto-foto kenangan yang membangkitkan semangat reuni. Termasuk yang baru hadir diantaaranya Ngak Tjiang, yang belum saya lihat sebelumnya, termasuk anaknya yang kelihatan sangat ringan tangan sampe ada yang menyelutuk harus dikasih angpau ya, juga Nam Neng, Pue Tjun, Ahun, Lucia, Karyani, Hartanto, terus Kusbi, Rukaiyah, Nur Betty, Darwis, Erwanto, Ineth, Karyani, Herianto, Adriana,Teti, dan lain-lain nya tidak bisa saya sebutkan satu persatu, karena kita tidak mengadakan absensi. Pertemuan mendadak itu sangat berkesan dan suasana benar sangat akrab.

Saya malah lihat Adriana yang begitu bingung dan senang melihat teman yang mungkin sudah tidak pernah dilihat selama 29 tahun, matanya kelihatan membelalak dan kelihatan masih ngak percaya dan rasanya masih dalam mimpi. Membayangkan wajah yang sudah berubah diterpa waktu dan seribu masalah dalam kehidupan ada yang kelihatan masih tidak banyak berubah ada malah kelihatan sudah berubah total.

Akwang juga sudah mengkoordinasikan dengan tim penjemputan ke Supadio untuk besok, meskipun dalam ketidak pastian, karena cuaca yang tidak menentu, jadi Tim harus tunggu komando dari Akwang kapan tim harus berangkat ke Supadio.

Kita makan mie kepiting yang sangat enak dan jeruk yang manis serta malamnya sempat pesta durian. Adu pada ngiler…ya.

Sebenarnya Sukniarti, Afen dan Nyonya PueSuan sudah sampai di Pontianak pagi ini tapi masih ada acara pribadi, sehingga tidak bisa bergabung dengan kami. Saya diminta untuk merahasiakannya dan sorenya kita masih mengadakan kontak dan ternyata mereka masih berada di Keuskupan.

Saya bisa merasakan bahwa kita sudah pekerjaan besar dan besok adalah hari H yang kita tunggu-tunggu dan telah dipersiapkan selama enam bulan, itu bukan pekerjaan yang gampang, termasuk didalamnya adalah menyatukan hati dn mempromosikan kepada teman-teman lain. Malam ini kita sudah melihat bagaimana teman-teman begitu senang dan saling bercengkraman.

Jam 10.30 kita sudah pulang dan Lukito masih mencoba mengantar saya kerumah karena sekalian untuk mengantar DLD dan teman-tamn ke Hotel. Sebenarnya rumah saya tidak jau, tapi karena sudah malam malah Lukito ngak ketemu rumah saya sampe harus mutar 7 keliling.

Malamnya saya masih mencoba membenahi Nametag yang akan saya bagikan kepeserta dan berharap semuanya bisa berjalan denga lancar. Memang ada beberapa komentar dari teman yang mana dibiarkan untuk menebak-nebak nama teman, jadi tidak perlu pengenal, tapi jalan ini sangat beresiko, jadi dalam ketidak pastian saya masih mencoba mensosialisasikan ke teman-teman untuk menggunakan nametag, sehingga dalam ketidak pastian membuat persiapan tidak lah maksimal.

Paginya 19 Agustus jam 8.00 saya sudah tiba di Hotel Kini dengan segala perangkat, saya teman sudah selesai Breakfast dan memang kita semua diminta ngumpul di Hotel dan berangkat sama-sama ke SMA Santo Paulus. Dan kabarnya bahwa Pesawat dari Jakarta bisa landing on time di Supadio, wah ini juga kabar baik, karena selama ini kita paling menakutkan dan sudah menjadi momok dalam pikiran kita bila terjadi penundaan. Karena acara di Santo Paulus dengan segala penyambutan yang spektakuler akan berlangsung tepat jam 10.00 pagi.

Saya lihat jam 09.00 teman-teman dari Jakarta sudah tiba dan memasuki di Hotel Kini, wajahnya pada ceria, karena perjalanan yang menyenangkan. Pikiran saya pasti mereka telah disambut dengan baik di Supadio, malah ada gila dari Lukito untuk mengelar karpet merah…Di ruang Lobby saya juga melihat Afen dari China dengan tampang turis asing dan bertopi, sebelumnya saya memang tidak ada dokomentasi foto dia, jadi saya juga baru melihat dia pertama kami.

Pembagian kamar hotel yang dihebohkan dan terbayang serem-serem selama di milis ternyata tidak sebagaimana yang dibayangkan. Semua kopor dan barang hanya dikumpulkan di Lobby hotel, karena masih ada tamu yang belum check out dan sebagian sudah dikamar yang telah kosong.

Penyambutan di SMA Santo Paulus

Tepat jam 10.00 kira langsung berangkat ke SMA Santo Paulus dengan kendaraan yang telah tersedia, memang jaraknya Hotel Kini dan Santo Paulus tidak jauh, hanya berjarak 300 meter. Saya lihat teman-teman Pontianak sudah kumpul di gerbang Sekolah dan sangat heboh dan ramai sekali, untuk nametag saya bisa mencairkan suasana, karena sangat membantu teman-teman mengenal teman lainnya. Tim penyambutan dari Santo Paulus sudah siap diseberang gerbang, dan sayup-sayup terdengar Drumband Santo Paulus sedang beraksi, saya melihat airmata mulai bercucuran dari teman yang begitu terharu, bercampur aduk rasa gembira yang amat sangat ketemu teman lama. Membayangkan bahwa sesudah 29 tahun kita masih mau kembali ke sekolah kita dan sekolah kita juga mau menyambut kita dengan cara yang sangat layak. Mungkin menurut pandangan mereka kita adalah pahlawan-pahlawan yang suatu saat bisa membantu memajukan sekolah kita tercinta. Ini suatu penghargaan yang sangat luar biasa dari kedua belah pihak. Saya juga melihat Rosyanti Liwoto, yang selama saya di Jerman tidak pernah berkomunikasi dengan saya, dan baru saya melihat dia kali ini dan sudah mulai bergabung dengan teman-teman, meskipun harus menempuh perjalanannya yang sangat sangat jauh, tidak ada tanda-tanda kelelahan. dan tidak kalah antusias menghadiri reuni akbar ini, badan tetap langsing dan tetap ok. Dan saya lihat Yonghui sangat bergairah dan rangkulan terus, saya juga jadi nimbrung, mumpung ada kesempatan. Kan dia udah lama tinggal di Jerman, jadi salaman harus pake ciuman, kalau tidak, dikira sombong, ciuman pipi lho.

Akhirnya kita di ijinkan masuk dengan disambut secara meriah guru-guru dan tim Osis menyalami kita satu persatu sampai di gerbang SD menghadap Drumband yang sedang beraksi, saya terkenang 29 tahun lampau dimana saya juga termasuk salah satu.. Saya melihat mata teman-teman sudah merah dan air mata bercucuran tambah ngak karuan, termasuk saya melihat Lukito menghadap Drumband, sambil termenung membayangkan masa lampaunya yang penuh perjuangan.

Sebagian berusaha mengabadikan moment-moment langka ini dengan berpose dengan drumband yang sedang beraksi.

Pelan-pelan alumni mulai memasuki sekolahnya dengan diiring Drumband memasuki sekolah kita yang sekarang sudah menjadi SMP Bruder. Didepan lapang basket saya melihat YongHui masih dengan kekuatan penuh berusaha memasuk bola ke Jaring Basket mengingat masa lampaunya sebagai salah satu pemain inti kita, termasuk, Lim Chia Hong, Kusnadi dll. Kita dulu biasa berlatih pukul 6 pagi hingga jam 8 pagi, kadang-kadang masuk pagi kalau ada praktikum. Saat memasuk gerbang sekolah, teman-teman terlihat sangat antusias, meskipun kelihatan ruangannya agak kecil, karena badan yang sudah pada berkembang horizontal, masih tekenang tiang-tiang yang menopang Canopy dimana kita dulu sering berpose bersama. Dengan lantai dari Papan yang masih seperti semula mita mulai memasuk ruang kelas. Aduuuh sudah ngak tahan untuk menduduk kursi masing, yang paling heboh adalah SOS A yang merupakan jumlah terbesar, saya sebelumnya mendata bahwa sebenarnya SOS B lebih banyak, yang menentukan adalah yang hadir. Aduuh saya melihat bagaimana rindunya masing untuk menduduk kursinya, meskipun ukuran yang sudah berubah, karena untuk anak SMP.

Bisa membayangkan komposisi yang tidak Proposional dan bisa dibayangkan bagaimana ramainya ruang kelas di bagian Sosial dan suasana belajar yang sangat terganggung, tapi dipihak lain itu yang menjadikan mereka sangat akrab satu sama lain karena duduk yang sangat berdekatan. Ketua kelas SOS A adalah Robert Hendra dan dia juga aktive di Milis sehingga bisa memotivasi teman-temannya untuk hadir di reuni.

Kemudian kelas Kelas SOS B dengan motornya Sanawan, mendatangkan 33 Alumni, juga tidak mau kalah dengan Harry Po yang dulu begitu menghebohkan karena terkenal nakal. Saya lihat pada naik atas dikursi dan pada kasih komentar macam-macam di papan tulis.

PAS A kehilangan motor, tapi ternyata bisa di cover Herlina yang begitu bergairah mengajak teman-teman sekelasnya, Rosyanti, Yudy, Katarina, DLD dan ternyata lumayan juga pesertanya.

PAS B dengan motor pak Ketua, Cosmas dan saya sendiri termasuk dr.Victor juga berhasil mengumpulkan lebih dari separuh peserta. Saudara kita Rudy Leeyang terkena stroke, juga kita undang secara khusus dari Bandung, karena dia sangat antusias mengikuti reuni ini.

 

Jumlah peserta Alumni di Reuni Akbar

Jumlah Murid SOS A tahun 1977 berjumlah 58 murid yang ikut 31 Alumni, SOS B 56 murid yang ikut 33 Alumni, PAS A 29 murid yang hadir 11 Alumni, PAS B 29 murid yang hadir 14 Alumni dan Budaya 26 orang yang hadir 4 Alumni jadi dengan total murid 198 murid dihadiri 93 Peserta, jadi banyak juga yang sudah mendaftar tapi tidak datang terbukti dari nametag yang tidak diambil.

 

Makan siang di SMA

Setelah selesai berpose dan bercengkeraman satu sama lain diruang kelas kitapun dipersilakan untuk makan siang di gedung SMA yang baru, suasana belum juga reda dan masih tetap saja lupa makan. Makan Coipan, makan Sate semua makanan enak tersedia disini, disamping juga kami dipersilakan melihat ruang kelas yang baru, Gedung SMA sudah tidak kayak dulu lagi, Kesan SMA Santo Paulus yang menurut berita agak ketinggalan dengan Santo Petrus ternyata tidak terbukti, memang sesama sekolah pasti bisa saling menjatuhkan, tapi saya melihat bahwa mutu sekolah tidak menjadi halangan kita untuk sukses, ternyata banyak dari kita yang sukses dalam persaingan masuk perguruan tinggi dan juga sukses dalam berbisnis.

 

Cerita kesuksesan Alumni Santo Paulus angkatan 1977

Angkatan kita ada yang sukses profesional, seperti Robert Hendra, Cosmas, Vonny dan Tung Dju Kiongyang berkarier diperusahaan Multinasional dan konon Lily Dipo menjadi Top Executive Charoon Pokphan, yang sukses di Bisnis seperti Rusminto di dunia Optik, Witono/Abun di bidang Pakan Makanan Ayam dan Ikan, termasuk Aliat dan Maryo yang cukup sukses di Jakarta, juga yang berkarier di profesi dokter seperti Rosyanti Liwoto sebagai Zahnartz/Dokter gigi di Jerman, Yonghui/Tony Wino sbg dokter gigi, Mokianto dan Victorianus sebagai dokter umum di Pontianak. Bernard di Perusahaan Showroom Mobil Toyota, Retina yang berkarier di perusahaan batere ABC

Melihat sulitnya mencari pekerjaan dimasa kini , dan merupakan suaatu pertanyaan apakah kita mewadahi kepada adik-adik kita yang ingin bekerja setelah tamat nanti di Jakarta untuk masa mendatang?

 

Berfoto didepan SMA Santo Paulus

Yang paling berkesan adalah berfoto didepan Sekolah, disitu terlihat jumlah yang timpang antara jumlah peserta dari SOS A dan SOS B yang membludak dan PAS A dan PAS B jumlahnya kurang dari separuh kelas SOS belum lagi dari Budaya yang hanya terwakili 2 orang yang hanya mengangkat spanduk selamat datang saja.

 

Makan Eskrim di Santo Petrus

Sebagian yang masih belum puas bertemu teman-teman, langsung mengajak lagi makan eskrim di Santo Petrus, saya juga termasuk yang belum pernah kesana, jadi tertarik juga dan jadilah saya meluncur kesana bersama mobil Victorianus dengan Rosyanti, Herlina dan Yudi, jadilah heboh sekali di mobil dengan kehadiran 3 serangkai ini yang masa SMA sering merayap kemana-mana selalu bertiga. Perjalan yang tidak terasa telah membawa kita kemasa lampau, makan es krim yang sangat unik, ternyata eskrim yang disajikan dengan separuh kelapa muda sangat menarik dan khas.

Saat sedang makan eskrim kita malah kita bisa melihat patung Santo Petrus.

Pada saat sedang makan Eskrim, tiba Kota Pontianak tiba-tiba diguyur hujan lebat yang langsung membersihkan kota Pontianak dari kepungan Asap. Inilah hujan berkat untuk reuni kita yang sangat kita idamkan untuk berjalan dengan baik dan lancar. Dan terhitung hari ini Kota Pontianak diguyur hujan beberapa kali, bukankah ini petanda baik?

Setelah hujan reda akhirnya kita segera pulang kerumah untuk mempersiapkan acara reuni malam.

 

Reuni Akbar di Hotel Kini

Jam 17.30 saya sudah tiba kembali di Hotel Kini dan saya melihat panitia sudah mulai mempersiapkan diri menyambut tamu, termasuk buku tamu dll. Saya juga mengintip ruangan Reuni, aduu…ternyata tim Lukito sudah mempersiapkan dengan sangat sempurna, bagai ruangan pengantin dan seluruh didinding ditutupi kain hitam dan lampu gemerlapan dan berkilauan, dikegelapan kita hanya melihat bintang berkilauan, semua sound system dan LCD sudah terpasang dengan baik. Ternyata kinerja mereka melebihi yang saya harapkan, jadi saya dalam hati bisa bernafas lega.

Saya lihat tamu2 dengan pakaian pesta sudah berdatangan, juga mantan guru dan uskup, juga semua tamu undangan, Osis, guru dan kepala sekolah sudah hadir, tapi kog tamu masih belum diperbolehkan masuk keruangan? Padahal jam sudah menunjukan jam 18.15.Dasar pingin tahu saya masuk kembali keruangan, kog saya lihat Lukito dan Cosmas kelihatan bingung? Selidik punya selidik ternyata mereka tidak bisa menampilkan presentasi di LCD. Na..nu.. mau salahin siapa? Kali ada yang jail ya. Memang kita kekurangan waktu untuk mengadakan glade resik. Memang kelihatannya ada masalah dengan kabel.

Vonny yang ikut khawatir akhirnya mengajak saya untuk mendoakan seluruh alat multimedia, tapi dasar Vonny memang suka gitu, ada ide tapi tetap saya yang mendoakan sendiri. Saya doakan seluruh peralatan media supaya bisa berfungsi sesuai dengan rencana. Akhirnya Lukito memutuskan untuk meminjam kabel dari temannya. Karena waktu sudah menunjukan pukul 18.30 maka terjadi perubahan acara mendadak, diputuskan tamu untuk makan malam dulu sambil mencuri kesempatan mempebaiki peralatan tersebut. Jadilah makan malam yang tiada doa, nobody is perfekt, kita boleh berusaha tetapi tetap juga yang menentukan diatas. Tetapi setelah kabel diganti mulai kelihatan LCD mulai connek. Dan sedikit demi sedikit bisa ditampilkan.

Saya lihat teman-teman tetap heboh menyambut mantan guru kita, saya tidak tahu berapa yang telah hadir malam itu, yang jelas saya melihat pak Harsono, pak Sudarto, Pak Saedy, ibu Suginem, Pak Ignatius, suster Yohana, pak Ade Ismael dan pak Leo Sutrisno. Mana pak Junaidi? Mereka semuanya duduk di meja makan. Mungkin mereka pada bingung mengingat wajah mantan murid-muridnya, tapi Akwang tetap dikenal oleh mantan guru kita karena setiap pemesanan Tiket ke Jakarta pasti melalui dia.

Saya lihat penampilan Presentasi berjalan tersendat-sendat dan kadang kita terlalu mau menampilkan sesuatu yang Hi Tek tapi lupa segala sesuatu yang informative. Jadi hanya slide welcome yang selalu ditampilan.

Karena barusan merayakan HUT RI maka kita menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan Lukito ternyata begitu ahli mendiregen kita saat menyanyi, Wah kalau saat kita sekolah tiba bisa begini bakal dipakai terus.

Saat menyanyikan lagu PPSK juga ternyata tidak bisa disertai lagu, sehingga kelihat kurang meriah, dan dinyanyikan sampai 2 kali, ada yang sampai meneteskan air mata saat menyanyikan lagu tersebut.

Bapak Uskup memimpin kita berdoa doa wajib Bapa Kami.

Kemudian Bapak Leo Sutrisno didaulat untuk menceritakan pengalaman 29 masa lampau, yang masih diingatnya dengan cukup baik dan pengalaman tangan yang terluka akibat ulah seorang teman kita.

Dan semua mantan guru di panggil satu persatu untuk menerima ucapan terima kasih dari teman-teman. Saya sudah tahu Bp. Ade Ismael ada gangguan pendengaran sehingga saat dia dipanggil diatas, saya langsung mendekatinya untuk diantar keatas.

Saat Pak Ketua memberi kata sambutan sebagai ketua panitia reuni, saya juga masih merasakan ada kekakuan suasana.

Mantan ketua Osis juga diminta untuk menghantarkan sepata kata, yang menceritakan tentang sekelumit terjadinya reuni, berbicara tanpa tek karena ditunjuk secara mendadak.

Kemudian teman-teman dari Jakarta menyumbang 2 lagu yang tampa persiapan, tapi lumayan dan cukup kompak. Mungkin teman-teman dari Pontianak cukup kaget juga dan saya lihat mereka kecolongan juga dengan acara yang tidak terduga tersebut. Kita juga bisa berjoget-joget dipanggung.

Lukito bertindak sangat luar biasa menjadi MC tunggal malam itu dan saya lihat jam terbang dia sudah sangat tinggi.

Akhirnya ada acara bebas yang sebagian naik kepanggung dengan menyanyikan lagu dangdut, Josep Oendon dan Herlina menjadi bintang malam itu dan bisa saling berangkulan, melupakan masa lalu kita.

Cosmas juga menceritakan dalam percintaan antar teman pada masa dulu hanya satu yang berhasil membawa kepelaminan yakni antara Rusminto dan Elly Sutopo, itupun bukan terjadi pada saat di SMA melainkan ketemu lagi waktu kuliah di Jogja.

Pada saat sebelum perpisahan malam reuni, dibagikan kaos dan topi untuk teman-teman yang akan berangkat ke Singkawang besok pagi.

Juga Aliat yang telah menyumbang barang yang sangat berarti bagi kita dalam bentuk Kaos dan topi. Kemudian kita mendapatkan hadiah yang sangat spesial, kado yang dibungkus dengan kertas berlogo Santo Paulus dan merupakan bingkisan dari teman dari Jakarta. Saya pulang di Jakarta baru membukanya ternyata berisi jam meja kenangan reuni akbar Pontianak.

Perjalanan Tamasya ke Singkawang dan Pasir Panjang.

Pagi-pagi jam 5.30 hari Minggu 20 Agustus saya sudah hadir di Hotel Kini, sebagian teman-teman yang tinggal di Hotel sedang breakfast. Berharap ada teman ngobrol, tapi saat mau masuk ke restaurant eh malah ditanya tinggal dikamar mana. Akhirnya beberapa teman mulai muncul lengkap dengan kaos dan topi, lumayan juga tapi busnya belum muncul juga. Tepat jam 6.00 sudah berkumpul hampir semua peserta dan jam 6.15 kita sudah memasuki 2 bus yang sudah menunggu diluar. Saya lihat teman-teman Jakarta pada menuju ke Bus A tetap dalam hati saya malah lebih memilih bus B karena saya bisa berkenalan dengan teman-teman Pontianak. Saya lihat sebagian teman-teman kembali ke bus B karena sudah kepenuhan.

Saya berharap duduk didepan untuk melihat pemandangan perjalanan, memang satu bus berisi 37 orang dan saya termasuk satu-satunya yang tidak kebagian tempat duduk, akhirnya posisi saya tersebut membawa saya menjadi MC dadakan. Saya melihat suasana lumayan akrab akhirnya karena harus bicara teriak-teriak, saya minta Microfone, ternyata permintaan saya tesebut baru terpenuhi di Siantan. Bus A tidak mengambil inisiativ tersebut. Mulailah saya meminta teman-teman untuk memperkenalkan diri dan ada yang cerita teka teki dan tebak-tebakan. Akhirnya cerita semakin makin seru dan setiap saat saya mau duduk cerita sudah mulai habis, jadi harus bangkit untuk membantu membuat suasana jadi akrab, jadilah saya harus mondar-mandir untuk melayani teman-teman. Lumayan jadi Stewarman dan MC dadakan.

Sampai di Tugu Khatulistiwa, tidak membuat niat teman untuk turun karena tempat yang tidak menarik untuk disinggahi dan saya lihat teman-teman tidak mau beranjang dari tempat duduknya.

Lukito bolehlah beristirahat setelah menjadi MC semalam, tapi akhirnya semangatnya muncul lagi untuk menceritakan pengalaman masa lampaunya, saya sudah dengar ceritanya dua kali, tapi saya lihat dia tidak cape-cape nya bercerita masalah yang sama sehingga terpaksa saya harus menulis ini. Dia ingat pengalaman masa lampau yang sangat sulit, sehingga sering bolos dari sekolah dan suka cari botol untuk dijual lagi. Pikir saya dalam hati dia kog tidak jadi bos Teh Botol yang berawal dari hanya coba bikin teh dalam botol. Terus bagaimana perjuangannya bersama dengan Kusnadi untuk mencari biaya untuk keperluan sekolahnya, wajarlah dia termasuk murid yang paling senior. Terus diceritakan lagi bagaimana dia menerima uang 1000 rupiah jaman itu sebagai upah dari ketua Osis Robert untuk melukis majalah dinding Santo Paulus. Uang itu sangat berarti dihatinya dan diingat sampai sekarang. Itulah orang selalu mengenang orang yang berjasa dihidupnya. Cerita ini membawa kita sampai ke Sei Pinyu

Bayangkan sudah hampir sampai di Sei Pinyu teman-teman masih tidak tahu saya peserta dari Jakarta, mereka kira saya adalah panitia Pontianak yang mengurus teman-teman selama perjalanan. Padahal saya hanya MC dadakan dan hanya berinisiativ untuk menjadi teman seperjalanan. Saking serunya selama perjalanan malah saling berjanji tidak akan berpindah bus, malah ada yang berpindah ke Bus kita sehingga tambah sesaklah bus kita.

Di Sungai Pinyuh kita bisa menikmati Pengkang Jepit, kue ketan(wajid) dan telor Penyu yang sangat enak. Afen jadi boss kita kal ini, sampai pulangpun dia masih borong beberapa puluh biji untuk dibawa ke Jakarta. Ternyata di China barang ini langka ya.

Dalam perjalanan berikutnya Afen angkat bicara, dia protes juga karena kampung halamannya Naga Silat tidak masuk dalam peta Kalimantan, saya terus terang juga baru dengan nama kota tersebut, lain kali kita bisa mengunjungi kampung halaman Afen. Juga menceritakan bagaimana kerinduannya untuk melihat Kampung Halamannya setelah sekian lama merantau di negeri orang, eh ternyata dinegeri nenek moyangnya, dia bisa merasa kesepian juga.

Akhirnya perjalanan sampai di Mempawah dimana Jailani sudah menunggu, dan rupanya di tinggal dan bekerja sebagai PN. Dia adalah Kepala Bagian Keparawisataan di Kabupaten Mempawah, memang tidak ada yang menarik untuk di lihat di Mempawah, tapi dia ingin mengajak kita untuk mengunjung satu pulau yang konon sangat indah untuk kunjungan berikutnya, semoga rencana ini bisa ditindak lanjuti sama teman-teman. Juga membicarakan kemungkinan berinvestasi disana.

Wah suasana tambah akrab aja, dan teman sudah mulai berpantun-pantunan terutama Rukaiyah dan Erwanto, sepanjang perjalanan kita dibuat tertawa terus..

Rukaiyah ternyata banyak menyimpan talenta dalam berpantun Melayu, yang bagian belakang pun ngak mau kalah Erwanto, tapi kalau terus dan digleledeg sama teman depan karena pantunnya tidak nyambung. Dengan gayanya yang khas melayu asli sangat mengundang gelak tawak teman2 yang sudah jarang mendengar pantun2. Juga termasuk Susanti yang duduk sebelah Rukaiyah dan tidur terus menerus sepanjang perjalanan, gile tuh apa orang ini kurang tidur dirumah? Tapi aneh seribu aneh, dia hafal lho siapa2 saja yang ada di Bus B, sampe saya terheran2, waktu di Fare Ware party dia yang menulis nama yang tidak terekam dimemory saya. Darwis yang tertawa terpingkal2 karena lucunya.

Erwanto yang panasaran karena tidak membalas pantun Rukaiyah……..dan jawabannya asal2an jadi diteriakin teman depan…. Suasana sangat akrab dan perjalanan sangatlah menyenangkan dan tak berapa lama kemudian sampai di Singkawang

Tidak terasa perjalanan menyenangkan dan tidak cape sama sekali, kita telah sampe ke Singkawang….jam 10.00 perut masih belum begitu lapar, sehingga sempat share sama Robert.

Pertama yang saya cari waktu di Singkawang adalah biji teratai, kesan lama masih membekas, karena dulu suka. Robert pun sempat borong teratai, rasanya manis.

Bayangkan saya sampe tidak sempat duduk karena begitu duduk cerita sudah mulai mau habis……..jadi cerita bisa sambung menyambung.

Herlina pun didaulat untuk bercerita tentag kesan2 tadi malam, ternyata sudah berdamai satu sama lain, dan masih bertanya siapa sih yang mendorong dia ke mantan? Sampai berangkulan, meskipun itu sudah masa lalu, kita juga bisa menyebut ini itu mantan pacar saya, meskipun dulu sembunyi, sekarang terang2an

Saya melihat suasana di Pasir Panjang dengan pemandangan yang kurang menyenangkan, banyak kebakaran hutan dan semak yang sudah gosong, hati pun menciut, inikah pasir panjang yang dulu saya bayangkan sangat indah, katanya kita mau dibawa kepulau dengan hotel segala…. belum angin sepoi2 yang membuat badan keringatan. Belum lagi musik membuat telingga pekak, apa sih yang dicari manusia di Pantai?

Mau denger deru ombak? Wah kiranya kita mendingan puter VCD dikamar ber AC, damai dihatiku.

Lumayan juga mereka bisa mengucapkan selamat ulang tahun sama Hartanto dan Kusbi ternyata ngaku berulang tahun juga, padahal data saya tanggal 23 tapi ngak apalah dimajukan 3 hari biar rame, nanti kita berulang tahun masal saja.

Akhirnya kita terpaksa harus pindah tempat lain, tapi lebih tidak menyenangkan lagi karena harus bersantai dengan Pasir yang bertebaran. Dengan alasan perut mules saya cari WC di hotel yang konon kabar telah di booking 2 kamar, wah lumayan juga untuk beristirahat, biar orang yang bergembira, kita harus menyimpan tenaga, saya mandi dan menikmat ruang ber AC , lumayan juga untuk tidur siang, kemudian ternyata NamNeng juga punya pikiran yang sama, jadilah kita bersantai dan tidur siang diruang AC, Karena sudah bubaran teman pada berdatangan dan teriak enak kalian disini sambil tiduran, kita malah kegerahan dipantai.

Eh ternyata kita masih sempat ketemu Bong Fut Phin yang mendengar kita bereuni ke Singkawang, dia khusus datang mengunjungi kita, ternyata dia bisnis emas di Singkawang.

Jam 15.30 kita sudah siap2 ke Pontianak, sepanjang perjalanan suasana tetap terjaga, saya dengar bus A malah berboboan, saya pun merasa bagaimana suasana ini bisa terjaga dengan baik, dan belum ada terpikirkan what next tomorrow……mulailah satu persatu memberikan kata2 perpisahan, dari Lukito yang berbicara mengucapkan sepata kata mewakili teman Pontianak dan Afen didaulat untuk memberi kata perpisahan, akhirnya keluarlah kesan yang sangat mendalam dan ingin suasana ini terulang lagi, dan menceritakan bahwa ke China itu tidak mahal tapi melalui Makau, dan dia mengatakan kalau mau kesana dia bersedia menjadi tuan rumah.

Kemudian Akiat pun maju memberikan kesan2nya yang sedikit meneteskan air mata, bagaimana reuni ini sangat berkesan dihidupnya,

Kemudian saat terakhir menyeberangi jembatan Kapuas, Lukito dengan cirinya yang  khas dan bersemangat, langsung mengatakan dia bersedia menyumbang uang sekian dan Afen sekian dan teman2 lainnya sekian, hayo kita sama2 Reuni ke China……….

Saya bisikin ke Lukito, kelihatannya kita akan bertemu lagi Besok dirumah kamu, jadilah Fareware Party terlaksana, meskipun awalnya sudah ada rencana pada ingin shopping dll. Dia langsung pulang untuk mandi dan malamnya masih pada berkaraoke….jadilah reuni ini yang kita idam2kan terlaksana dengan baik dan sempurna sesuai dengan rencana, padahal sebelumnya masih ngambang. Saya lihat Lukito setelah sampai di Hotel masih tetap bersemangat untuk menemani teman, mungkin dia masih ada rencana nanti mala dan besok pagi, dia langsung meluncur pulang untuk mandi dulu.

Saya dengar malamnya masih acara karaoke di Hotel sampai jam 1.00 pagi, wah masih tetap bersemangat.

Saya dengar di Bis B banyak juga bercerita al. KheHiok, yang dulu termasuk orangnya pendiam, tapi kali ini dia berusaha menciptakan suasana yang enak.

Jadi teman2 apapun ceritanya, baiklah ini menjadi kenangan2 dan semoga masih disimpan baik2 dalam memory kita, yang tidak bersama kita ke Singkawang bisa membacanya dan terima kasih kepada teman2 yang telah menciptakan suasana yang baik dan akrab.

Farewar Party

Tanggal 21 pagi, tetap merupakan hari libur nasional, sebagian teman-teman menggunakan kesempatan untuk beli oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta dan kita berencana pukul 11 siang bertemu di rumah Lukito sekalian chekout dan menunggu keberangkatan ke Jakarta, teman-teman dari Pontianak masih tetap menggunakan kesempatan untuk mengucapkan perpisahan. Saya lihat Rosyanty yang tidak ikut ke Singkawang juga datang untuk pamitan dengan teman-teman, cukup menyesal juga dia dan semoga cerita ini juga bisa menghibur teman yang tidak sempat hadir.

Saya lihat satu persatu mulai mengucapkan kata-kata perpisahan demikian juga yang aktiv dalam kepanitiaan juga diminta maju kedepan, kata-kata yang mengharukan dan tak terlukiskan dalam hari masing-masing, apakah kesan ini akan terulang kembali, hanya kita yang bisa menjawabnya, apakah rencana ke China tahun depan bisa juga terlaksana? Afen mengusulkan sebaiknya bulan Oktober supaya bisa melihat pemandangan alam dengan daun pancawarna pada musim gugur.

Pertemuan yang mengharukan berlangsung di rumah Lukito, saya melihat air mata mulai bercucuran dan isak tangis di wajah teman, Pontianak akan menjadi sepi kembali, waktu 3 hari yang sangat berarti sudah harus juga berakhir, but the show must go on, kita juga harus kembali bekerja kembali untuk mengumpulin uang lagi, belum lagi pekerjaan yang sangat menumpuk, satu-satunya yang masih bisa menghibur adalah melalui milis, tapi tidak semua bisa menguasai atau mengoperasikan Komputer. Ya mungkin teman-teman di Pontianak bisa mengusahakan ada pertemuan berkala yang bisa memberi kesempatan teman untuk menbaca milis.

Sekali lagi semoga tulisan ini dengan segala kekurangannya bisa menghibur teman-teman dan menjadi kenangan manis. Mohon maaf bia ada nama-nama teman yang tidak disebut dalam tulisan ini, tetapi saya tetap berusaha mengingat siapa nama teman yang menjadi pelaku dan pemain dalam reuni akbar ini. <Bony>

2 responses to “Kisah Reuni Akbar Pontianak

  1. Bonysukamto April 5, 2015 at 18:18

    Wonderfull !!! What amazing Story. Berharap teman-teman yang gak sempat hadir masih bisa mengikutinya, just 4 information, cerita ini merupakan uncovered story yang masih tersimpan dalam data file saya. ceritanya cukup komplit n untuk selanjutnya bisa baca di buku resmi reuni Santo Paulus. Selamat membacva yabng lainnya. Bony

  2. BONY SUKAMTO April 6, 2015 at 18:22

    WAH CROPPING FOTONYA MANTEEP KAYAK TIM DISCOVERRY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: