Antara Pontianak – Singkawang

Minggu 20/8/2006: Antara Pontianak – Singkawang

Catatan: Sukniarti Dipo

Pagi-pagi pukul 04.30 saya sudah menghubungi para tanghak dari kamar ke kamar hotel untuk morning call, karena pukul 05.00 kita harus sarapan bersama agar acara wisata ke Singkawang dapat berjalan sesuai jadwal. Wajah-wajah cerah para tanghak dalam seragam kaos putih bertuliskan Reuni SMA Sto. Paulus dan topi biru (lagi-lagi sumbangan dari tanghak Sos-A!) benar-benar terlihat gagah seperti waktu sekolah dulu.

Dengan riang gembira semua beranjak memenuhi 2 bis SJS yang sudah menunggu di depan hotel Kini, saya lagi-lagi menerawang ke 29 tahun yang lalu ketika piknik bersama menuju ke kota Singkawang. Mungkinkah 5 atau 10 tahun dari sekarang, kita masih bisa berkumpul dan kompak seperti saat ini (kalau sekarang saja sudah ada tanghak yang mendahului atau terbaring sakit dan lain-lain). Kita memang pantas bersyukur bisa hadir pada hari ini, menyaksikan dan ikut menikmati keceriaan bersama para tanghak lainnya. Kita semua sungguh bersyukur bahwa pada Minggu pagi ini para tanghak bangun pagi untuk melanjutkan kehebohan reuni akbar kita.

img0034



Cerita di dalam Bis I – 37 orang (catatan Bony Sukamto)

Suasana dalam bis I sangat ribut karena pesertanya lebih banyak dari kursi tempat duduk, yaitu 37 orang. Rupanya mereka saling cocok satu sama lainnya sehingga tidak ada satu pun yang rela pindah ke bis II

Di dalam bis I, satu-persatu tanghak memperkenalkan diri dengan caranya masing-masing tentang suka duka mereka di masa lalu. Lukito dengan kisah kongsian celana jins EMCO-nya, mengumpulkan uang dari hasil menggambar majalah sekolah karena dimotivasi oleh Robertus Hendra, Ketua PPSK pada waktu itu. Bersama dengan Kusnadi, mereka berdua mengumpulkan botol bekas sehingga sering bolos sekolah di waktu lalu (Kusnadi, dimanakah kau sekarang?!). Hidup adalah perjuangan, hanya orang yang berjiwa besar yang mau men-sharing-kan kehidupannya di saat susah dengan orang lain, agar orang lain tidak hanya menangisi kemalangannya, tapi mau berjuang. Sebab “kegagalan adalah sukses yang tertunda”.

Setelah menempuh perjalanan beberapa saat lamanya, bis berhenti di Sei. (baca: Sungei) Pinyuh, tempat bermacam ragam oleh-oleh seperti kue pengkang, wajit, telur penyu, dll. Di sini Sunjoto (Afen) pun didaulat untuk menceritakan kisah masa lalunya serta mengapa dia serius untuk ikut Reuni ke Pontianak. Ternyata hidup gemerlapan di negeri orang tidak membuat dia lupa air sungai Kapuas. Dia masih rindu kampung Nanga Silat yang tidak tercantum dengan jelas di dalam peta.

img0035

Di dalam bis I, para tanghak sibuk bercerita yang lucu-lucu, kadang sedikit menyerempet-nyerempet (atau jorse alias jorok sekale…). Beberapa tanghak juga asyik berbalas pantun, seperti Rukaiyah yang tidak kalah serunya dengan Erwanto meskipun pantunnya tidak nyambung. Sementara Susanti yang duduk di sebelah Rukaiyah tidur dengan tenangnya tidak terusik oleh keributan yang ditimbulkan para tanghaknya. Anehnya, walaupun dia sering tidur, dia hafal semua nama tanghak yang ada di bis I. Darwis yang jangkung itu juga tidak pernah terlepas dari senyum. Semua wajah terlihat cerah, ceria dan tanpa beban (entah kalau di lain hari).

Ketika melewati Mempawah, naiklah seorang pria. Rupanya dia adalah Jailani yang bekerja sebagai Pegawai Negeri, kini Kepala Bagian Pariwisata di sana. Dia mengundang para tanghak yang berminat untuk mengunjungi pulau-pulau yang menurutnya sangat indah untuk dikunjungi. Ada yang berminat untuk investasi di sana?

Perjalanan yang lancar membuat kita tanpa terasa sudah tiba di kota Singkawang. Yang pertama Bony dan Robert lakukan di sana adalah mencari biji teratai. Kesan lama masih membekas di hati mereka, biji teratai yang dulu manis ternyata tetap manis.

Herlina juga diminta untuk menceritakan kisah “deg-degan” saat Reuni tadi malam. Atas inisiatif pembawa acara, kedua mantan Romeo dan Juliet ini bisa kita sandingkan kembali di atas panggung, disaksikan semua hadirin termasuk para guru. Akankah kisah indah ini layak dilanjutkan, hanya mereka berdua yang bisa menjawabnya.

img0036



Cerita di dalam Bis II – 31 orang
(catatan Sukniarti Dipo)

Bis II adalah bis yang paling tertib, maklum di dalamnya berisi orang-orang yang alim (caileh, saya juga di sana lho!), ada ‘Romo’ Cosmas, juga ‘Romo’ Ke Hiok. Di dalam bis kita juga ada Sanawan si pemandu wisata yang dari awal perjalanan selalu sibuk menjelaskan kita tentang tugu Khatulistiwa yang dibangun di tempat yang salah.

Ciri khas dalam bis ini adalah 1 pria duduk berdampingan dengan 1 wanita, kecuali di bagian belakang karena pejantannya tidak cukup banyak. Tidak apa-apalah, tidak perlu duduk berpasangan karena cuaca sangat panas dan AC di bis yang sudah dingin pun masih terasa gerah, he3x. Suasana di bis ini berbeda mungkin karena tanghak sebangku umumnya campuran antara Pontianak dan Jakarta, jadi masing-masing sibuk saling interviu pribadi dari kisah lama sampai sekarang.

Di bangku kiri paling depan duduk Hartanto (Alie) yang hari itu pas berulang tahun. Hal pertama yang kita lakukan ketika bis mulai berjalan adalah menyanyikan lagu ulang tahun. Beberapa tanghak ingat Hartanto yang dulu berani memanjat pagar tetangganya untuk menemui wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Sampai kini rumah asli mereka tetap bersebelahan, tapi sudah tanpa pagar karena Hartanto pun sudah tidak kuat melompatinya. Di sebelah kanan ada Hermiati, Nam Neng dan Sujiwati. Di depan saya ada Sanawan dan DLD (Djung Lie Djin). Sanawan dengan gesit bercerita, sedangkan DLD yang kurang sehat hanya mendengarkan dan sekali-sekali ikut arus untuk tertawa.

clip_image008

Di samping saya duduk sahabat lama yang dulu pintar menggambar. Kon Lung memang seorang seniman yang dari dulu sudah pintar menggambar, dan sekarang ternyata juga pintar menyuarakan isi perasaannya lewat lagu. Ingat menggambar, saya jadi teringat Pak Sabariman yang sangat sabar dalam mengajar para anak didiknya. Ada yang mau ngaku tidak siapa yang pernah nakal waktu pelajaran Pak Sabariman? Gambar tanghak yang sudah dinilai, dihapus nilainya, dikumpulkan lagi berkali-kali untuk dimintai nilai, dan Pak Sabariman dengan sabarnya selalu menilainya kembali. Ya Tuhan, Engkau sungguh besar karena mau menganugerahkan kami bapak guru yang super sabar ini.

Di kanan saya, Susana duduk bersebelahan dengan Yornalis yang dari dulu tetap khas dengan penampilan taipan seperti bos, he3x. Di belakang saya duduk ‘Romo’ Cosmas dan Rudyono, di belakangnya lagi Lily Agustin yang dengan rajinnya menawarkan makanan dari roti ebi, permen, tar susu sampai lapis legit. Sungguh tidak rugi duduk dalam satu bis dengan ibu petugas konsumsi ini. Peserta lain adalah Robert Hendra, mantan Ketua PPSK yang hari itu terlihat begitu bahagia dengan tawa yang begitu lepas. Masih ada Erni, Susan, Vonny, Ellyanti, Elly Susanti, dan Hariati yang hampir tidak pernah berhenti tertawa. Tanghak lainnya adalah Tjung Dju Kiong, seorang pendiam yang baru saja kita temukan di Jakarta, karena kerjanya jauh di Rumbai (Riau) sana. Juga ada pasangan Rusminto dengan istrinya Elly Sutopo, yang sepanjang wisata hari itu hanya duduk tenang dan terus tersenyum, mungkin sedang membayangkan jalan kenangan mereka yang dulu.

clip_image010

clip_image012Disela-sela bis yang melaju kencang dengan pak sopirnya yang koboi dan membuat hampir muntah, tampillah Tan Ke Hiok tanghak yang tetap khas dengan kaca mata minus tebalnya. Beberapa dari kita masih ingat kejahilan Yong Hui yang sangat sering menyembunyikan kaca mata Ke Hiok dan membuatnya kelabakan. Profesor Ke Hiok, demikian Cosmas suka memanggilnya, menceritakan banyak hal dari kisah moral Tikus untuk mencerminkan pentingnya Teamwork dalam suatu kelompok masyarakat, sampai kesaksian iman ketika sebelah matanya hampir tidak bisa melihat. Saya benar-benar kagum dan terkesan sekali dengan penampilannya. Tadinya Ke Hiok hampir tidak mendapat ijin keluarga untuk ikut Reuni, namun pada saat-saat terakhir exit-permit-nya keluar juga. Diam-diam saya memastikan bahwa dia tentu seorang pria yang bijak, sekaligus suami dan ayah yang baik bagi keluarganya. Semoga memang demikian adanya.

clip_image014

Rombongan kemudian singgah cukup lama di kota Singkawang untuk bernostalgia. Kota ini cukup terkenal karena dari sini banyak anak gadisnya menjadi dambaan orang dari Asia Timur selain pesta budaya ciri China leluhurnya sering menjadikan Singkawang sebagai tujuan wisata sekitar Cap Go Meh. Kita singgah di sini karena masih kepagian untuk menuju Pantai Pasir Panjang sehingga sebagian tanghak berjalan-jalan dulu.

3 tanghak kita yaitu Tan Ke Hio, Rudy Liehandoyo dan Tjung Dju Kiong pagi itu tidak sedang lapar dan mencari makanan, tetapi mengunjungi Pastoran Singkawang. Di sana mereka menemukan yang dicari selama ini yaitu Pastor Pasifikus OFMCap., guru Agama yang tadi malam lupa diundang ke malam reuni kita. Beliau lalu diajak masuk ke dalam bis II untuk bersalaman dengan para muridnya. Pada kesempatan hari Minggu itu pula beliau berkenan memimpin doa singkat dan memberikan berkat agar selamat dalam perjalanan.

Dari pastoran ini pula telah menunggu seorang tanghak bernama Bong Fut Phin yang kemudian bergabung melanjutkan perjalanan wisata bersama kita. Karena belum kebagian kaos seragam, Cosmas lalu memberikan jatah kaos yang disiapkannya untuk Herman Lim yang ternyata berhalangan ikut pada hari itu.

Pasir panjang sudah di depan mata. Saya lalu teringat selembar foto lama ketika saya dan para tanghak ramai-ramai membenamkan Willin ke dalam pasir (Willin, where are you?). Pasir itu tetap sama, namun pemandangannya sudah jauh berbeda karena sampah di mana-mana, pasirnya juga tidak lagi seputih dulu. Panas terik membuat keringat bersimbah, suara berisik band di sana membuat suasana pantai yang dulu romantis menjadi tidak bermakna. Deru ombak nyaris tidak terdengar dikalahkan musik hingar-bingar yang memekakkan telinga. Kami sampai harus pindah 2 kali untuk memasang karpet tempat melepas penat.

clip_image016

Setelah karpet terpasang, para tanghak mulai mengeluarkan kotak-kotak makanan dan lain-lain dari bis. Senang sekali melihat mereka, dari yang sudah jadi boss gede sampai yang masih karyawan biasa, mau saling bahu-membahu mengangkat kotak-kotak tersebut. Dengan seragam kaos yang sama, semua terlihat kompak persis seperti waktu sekolah. Kusbi yang mengaku dirinya berulang tahun di hari tersebut, akhirnya merayakan ulang tahun bersanding dengan akurnya bersama Hartanto. Hartanto menyatakan keharuannya karena tidak menyangka pada hari itu ulang tahunnya bisa dirayakan dengan meriah oleh tanghak-tanghak sekolah satu angkatan. Hari itu pasti menjadi hari yang bersejarah baginya. Selamat ulang tahun Hartanto dan Kusbi, kita semua menyayangi kalian.

Di pantai, tanghak dokter gigi Gui Yong ternyata tetap jahil. Kali ini dia menyembunyikan sandal saya dengan cara digantungkan di atas pohon. Saya diharuskan melompat dan mengambil sandal tersebut, dan dengan nakalnya momen tersebut siap diabadikannya. Kami benar-benar lupa bahwa kami sudah bukan di SMA, keceriaan tanpa beban membuat kami begitu kompak dan gembira. “Kegembiraan yang tidak bisa dibeli dengan harga berapa pun juga.”

Saat di pantai itu pula panitia Pontianak melakukan acara “door prize”. Di antara semua itu ada hadiah paling heboh yaitu 2 dot bayi yang terbungkus rapi dan dimenangkan oleh Sukniarti dan Hariaty. Keduanya lalu diminta untuk membuka hadiahnya itu di depan umum dan memeragakan cara menyedot yang baik dan benar.

Dalam perjalanan pulang kembali ke Pontianak, Sunjoto (Afen) dari Bis I menyatakan kesan baiknya terhadap acara reuni semacam ini dan mengusulkan reuni berikutnya di . . . China. Semoga semua tanghak tetap menjaga kesehatan untuk dapat pergi bersama, suatu saat.

clip_image018


Semoga Kemesraan ini terus Berlanjut >>>

%d bloggers like this: