Mempersiapkan Reuni Akbar


Mempersiapkan Reuni Akbar di Pontianak 2006

clip_image002[6]

Kemarin adalah sejarah, hari ini adalah

kenyataan, esok adalah harapan . . .

Kata-kata ini terkesan begitu puitis, tapi

itulah hidup…

Catatan Sukniarti Dipo

dari Reuni I pada hari Minggu, 19 Februari 2006

di Restoran Family Ria, Sunter, Jakarta

Sebagian dari tulisan ini sudah ada didalam posting utama dengan judul “Sekali Sto. Paulus Tetap Sto. Paulus”, disini kita ulangi lagi guna menyesuaikannya dengan isi buku.


Pengantar
Sebulan yang lalu (Januari 2006), seorang teman akrab saya tiba-tiba menelepon dari Pontianak. Seperti biasa, saya begitu senang dan mengira dia berada di Jakarta, dan itu berarti ada kesempatan bertemu muka. Dengan kesibukan masing-masing apalagi di kota Jakarta yang tiap hari jalannya selalu macet di mana-mana, bertemu teman pun kadang-kadang menjadi hal yang langka dan lalu menjadi istimewa.

Tapi … apa yang saya harapkan ternyata berbeda. Kali ini berita yang saya terima adalah kabar duka tentang seorang sahabat kami, Suzana H (A Lan). Ia telah berpulang mendahului kita semua. Yang paling tidak bisa saya mengerti adalah bahwa dia meninggal di Jakarta, di kota tempat tinggal saya selama ini! Dan pada saat dia meninggal hanya ditunggui seorang anaknya yang masih ‘ABG’ (Anak Baru Gede, alias usia pra-remaja) di salah satu rumah sakit di tengah kota! Tidak ada seorang pun di antara kami sahabat-sahabatnya tahu bahwa dia terbaring sakit di kota yang sama dengan kami. Saya baru tahu setelah jenazah almarhumah dibawa kembali ke Pontianak, sungguh tidak bisa dipercaya!

Suzana adalah satu dari 7-serangkai kami yaitu saya sendiri Sukniarti, Hesti, Susy, Eka Anita Kasih, Chandrawati (semuanya di Jakarta) dan Susana L. (Pontianak). Semasa belajar di SMA, kami susah senang selalu bertujuh, dan … tiba-tiba kami kini tinggal berenam. Hidup ini memang penuh rahasia sehingga ada yang mengatakan tukang ramal pun hanya punya 1 pantangan yaitu meramalkan umur orang karena yang satu ini adalah rahasia Sang Pencipta. Sejak itulah tiba-tiba saja keinginan berkumpul teman-teman lama muncul dari dalam hati saya.

img0044

Sudah berapa lama saya kehilangan kesempatan merangkai kenangan bersama sahabat-sahabat saya? Andaikan … Tuhan mengijinkan waktu diputar kembali (seperti mesin waktu Doraemon), mungkin situasinya akan berbeda. Di saat-saat terakhir mungkin masih ada selembar kenangan terakhir bersama sahabat kami Suzana. Terlambat sudah …, terlambat sudah …, semuanya telah berlalu … (jadi ingat lagu Panbers yang ngetop di saat kita remaja L). Suzana, kami kehilangan anda, doa kami panjatkan ke hadirat Yang Maha Kuasa, semoga engkau diterima di sisi-Nya, amin.


Persiapan

Akhir Desember 2005, Mario menelepon saya mengajak reuni bersama teman-teman lama. Berhubung akhir tahun adalah waktu berkumpul keluarga, pesta Natal, kesibukan di gereja dll. bagi sebagian besar di antara kita, lagi-lagi kesempatan itu terlewatkan begitu saja. Awal Februari 2006, beberapa hari setelah perayaan Imlek (yang jatuh pada 29 Januari 2006), lagi-lagi Mario menelepon saya. Katanya, “Cosmas dkk. sudah ngebet nih. Katanya dia saja sudah ada sekitar 10 orang, lu bisa ngumpulin berapa orang? Ayo dong kita ngumpul …”. Saya bilang, mengumpulkan 10 orang sih saya yakin bisa, karena beberapa kali saya sempat reuni dengan teman-teman eks SMP Suster (Pontianak) dan saya yakin mereka akan menyambut baik kesempatan ini. Kalau 10 + 10 = 20 orang, maka ini sudah suatu angka yang menjanjikan.

Maka mulailah saya, Cosmas dan Mario menyusun waktu yang tepat agar semua teman bisa berkumpul. Termasuk dalam pemikiran kami adalah teman-teman yang kerja kantoran sampai yang buka toko, akhirnya disepakati hari baik adalah Minggu, 19 Februari 2006 mulai pukul 11.30 dan hanya khusus untuk teman-teman SMA Santo Paulus Lulusan 1977.

Yang menjadi tantangan adalah tempat karena bulan Februari 2006 ternyata adalah bulan baik untuk pesta pernikahan bagi sebagian dari masyarakat kita. Dari beberapa tempat yang kami anggap tepat, ternyata sudah penuh dipesan untuk pesta pernikahan. Tapi berhubung “misi” ini sudah tidak bisa ditunda lagi, kami akhirnya nekad. Tempat tidak jadi masalah, yang penting kumpul dulu. Maksudnya setelah kumpul dan mendapat informasi teman-teman, barulah melangkah ke pertemuan berikutnya yang lebih terencana. Maka mulailah kami mengirimkan undangan via pesan pendek (SMS) ke teman-teman lama. Kami mulai optimis setelah mendapatkan tanggapan yang cukup menggembirakan dari teman-teman. Dari 20 orang, berkat perpanjangan tangan dari teman-teman melalui SMS berantai, terkumpul menjadi 30 orang, dan seterusnya. Ternyata gayung bersambut!

Jumat, 17 Februari 2006 adalah hari penentuan berapa teman yang berhasil kami kumpulkan. Setelah kami rangkum ternyata ada sekitar 35 orang. Dengan memperhitungkan kemungkinan adanya yang berhalangan hadir pada saat-saat terakhir, kami memutuskan untuk memesan 3 meja makan saja. Sebagai bagian konsumsi, Mario sudah survei tempat dll., saya juga sudah menghubungi teman kita Herry Tiono untuk membantu dokumentasi (berkat jasa teman ini, banyak foto rekamannya yang dipakai dalam dokumentasi kita, thanks ya Liat! Boleh lagi dong untuk setiap pertemuan berikutnya?).

Jumat sore itu juga sekitar pukul 18.00, saya dikagetkan oleh sebuah SMS yang mendadak masuk ke HP saya, “Gua sudah ada di Jakarta, bagaimana reuninya?”. Saya sampai tidak percaya kalau SMS yang saya kirimkan ke Pontianak ternyata membuahkan hasil! Susana L, sahabat karib saya siap hadir. Dengan penuh semangat saya balas dia, “Lu di mana, gua akan jemput!!”. Oh ya …, perlu diketahui bahwa teman-teman lain dari Pontianak bisa hadir juga berkat jasa sahabatku ini, karena dia yang bertugas menyebarkan SMS untuk teman-teman di sana.


Reuni

Minggu 19 Februari 2006 pukul 09.00 pagi saya berangkat menjemput Susana untuk selanjutnya ke Restoran Family Ria di kawasan Sunter. Kami adalah tamu pertama di sana. Sambil menunggu teman-teman, kami bercerita tentang kenangan semasa SMA, saat hampir setiap hari kami pulang pergi ke sekolah bersama jalan kaki berdua (sepanjang jalan kenangan J).

Sekitar pukul 11.00 tamu pertama datang, pelan tapi yakin 2 pria yang masih kelihatan muda dan macho memasuki ruangan, mulailah kami main tebak-tebakan. Bayangkan hampir 29 tahun tidak bertemu, pertemuan yang sungguh ruarrr biasa, mau tau siapa gerangan dia? Ternyata mereka dari Semarang dan khusus terbang ke Jakarta untuk mengikuti reuni ini, Herman Lim yang ngakunya masih single (ada teman cewek kita yang masih jomblo juga lho!) dan 1 lagi Harry Sutopo! Cowok badung semasa SMA dulu, siapa yang tidak kenal “Harry and the gang” yang suka menggerung-gerungkan sepeda motor trail-nya di depan sekolah waktu itu? Ketika saya tahu bahwa Harry mau ikut, saya langsung membayangkan sosok cowok ceking berambut keriting yang bandelnya minta ampun! Tidak disangka pria yang berdiri di depan saya sekarang ini sudah jauh berbeda dengan bayangan saya. Sosok pria matang ini kelihatannya kalem (karena Harry sekarang bercokol di Semarang, saya boleh mengartikan kalem dalam bahasa Jawa berarti sa’kal gelem alias langsung mau! Ha3x).

Tadinya saya kira Harry benar-benar sudah jadi kalem, tidak tahunya sifat nakalnya masih tidak berubah. Rupanya Harry menyimpan dosa yang sudah dipendam-pendam selama 29 tahun, dan orang yang sangat ingin ditemuinya adalah Chandrawati! Berhubung ini agak rahasia dan supaya teman-teman yang belum tahu jadi penasaran, silakan tanya langsung ke Harry dan Chandra bila bertemu lagi. Saya hanya bisa kasih clue begini. Coba bayangkan bagaimana Harry yang lagi stress mengerjakan ulangan Matematika, tiba-tiba menemukan kertas yang dilempar Mario yang tanpa sengaja jatuh ke mejanya. Harry kira pucuk dicinta ulam tiba, tumben ada teman yang baik hati ngasih jawaban, yang dinanti multiple choice pilihan a, b, c. Tapi begitu kertas dibuka ternyata tulisannya IMU (I miss U), terang saja Harry jadi tambah puyeng, pantesan dia jadi nekad!, ha3x, indahnya masa SMA. (Sorry ya guys, ini cuma bercanda, saya membuat ilustrasi ini saja sambil nyengir-nyengir sendiri lho!).

Tamu-tamu berikutnya mulai berdatangan, ternyata peserta dari luar Jakarta adalah yang paling mengesankan. Saya sangat salut mendengar reaksi Ary Kusnadi yang tidak percaya akan adanya reuni 1977. Teman ini sampai interlokal dan konfirmasi ke restoran, benar-benar sebuah tanggapan yang luar biasa. Saya jadi angkat topi!

Tamu yang membuat kejutan lainnya adalah Sitta (Ahun) yang lebih top sebagai pacarnya . . . oops! tidak boleh disebut lagi, he3x. Tanpa memberi kabar, tahu-tahu dia SMS ke Susana, Minggu pagi sekitar pukul 9-an memberitahu bahwa dia sudah sampai di bandara Soekarno-Hatta. Sitta sungguh-sungguh menghargai arti persahabatan. Rupanya Sitta tidak sendiri, ternyata ada teman kita Frendys Lukito (semasa SMA saya selalu meledek dia si mata gede, tapi sekarang nyanyinya top buuaanget!). Tidak tanggung-tanggung, Lukito datang membawa 40 kg jeruk dan duku dalam beberapa dus (bayangkan betapa senangnya kita dengan oleh-oleh yang seabreg-abreg dari kampung, sering-sering saja ya …).

Juga ada Harlia yang sudah bersusah payah ke Jakarta dan membawa informasi yang sekaligus mengetuk hati kita semua tentang ‘nama besar’ sekolah kita tercinta. Tidak bisa dipungkiri, SMA Santo Paulus adalah bagian dari sejarah hidup kita, yang melahirkan kita sehingga kita mempunyai hari ini. Sudah saatnya kita memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk sekolah kita yang agak berkurang “gaung”-nya di bumi Khatulistiwa akhir-akhir ini. Last but not least, teman kita si dokter gigi ganteng Gui Yong Hui yang juga rela bersusah payah meninggalkan ruang prakteknya di Pontianak untuk reuni ke Jakarta (lain kali sehabis acara, periksa gigi gratis ya Pak dokter?).

Selepas pukul 12.00, satu-persatu teman-teman lain bermunculan, walau pun Jakarta sudah mendung dan turun hujan deras. Di lantai 3 restoran yang hanya dipesan khusus untuk acara kita, dipenuhi canda tawa. Sebagian teman-teman bernyanyi (karaoke). Aneka lagu Mandarin, Indonesia, dan Inggris terdengar merdu (tidak disangka ternyata banyak penyanyi berbakat juga). Kita semua larut dalam perbincangan yang akrab, sesekali saling meledek, tertawa terbahak-bahak atas kenakalan atau ‘prestasi’ jahil di masa lalu. Ternyata di balik canda tawa, ada juga yang datang ke reuni karena ingin melihat bagaimana rupa orang yang dia ‘taksir’ dulu, sayangnya banyak orang yang ditunggu-tunggu tidak bisa hadir pada hari itu.

clip_image004
Di meja ujung ada Harry Sutopo, Sujiwati (A Sim), Herry Tiono (A Liat, tidak tampak dalam foto karena dialah yang membuat sebagian besar foto kita), Frendys Lukito, Tan Pwe Cun, Sitta Ahun (juga tidak tampak), Apit Ratna & junior, Herry Sukianto (A Kiat), Catharina.

clip_image006

Di meja dua tampak Natalia, Robert Hendra, Cung Ji Min, Kim Cui, Sukniarti (tidak tampak), Herlina dan adiknya Tiur dengan teman bule.

clip_image008

Di meja tiga ada Hesti (Soi Yong), Eni, Djung Lie Djin, Harlia, Judi ‘Kribo” (karena dulu rambutnya begitu), Lina Pranoto & pendamping.

clip_image010

Di meja empat, berkumpul Gui Yong Hui, Tjandra Ngujiharto, Bony Sukamto, Lukmin, Bernard(us!), Arifudin (A Fu), Ary Kusnadi, Untung.

clip_image012

Di meja lima: Mario di antara Chandrawati dan Susana; Cosmas (tidak tampak), Rudyono, Herman Lim, Johan Muliawan, dan Yantikianto.

Khusus untuk Bernard (wong Jakarta yang kebetulan pulang kampung), terima kasih atas kekompakannya untuk kembali lebih awal demi reuni ini, anda memang tuan rumah yang baik. Bernard berangkat dari Sambas pukul 02.00 pagi, naik mobil ke bandara Supadio, Pontianak, untuk mengejar penerbangan pertama supaya bisa hadir tepat waktu dalam reuni di Jakarta.

Tidak ada lagi rasa iri hati atau kesal di antara kita (walau pun dulu mungkin pernah ada); tidak juga perlu ada gengsi (apa lagi dusta), karena kita semua toh sudah tahu sama tahu (hei, … apa-apaan ini?). Sayangnya tidak ada yang ketemu mantan (calon) pacar dalam acara reuni ini, saya penasaran juga bagaimana ya reaksinya?! Hm … mungkin nanti di reuni berikutnya di Pontianak rasa penasaran saya bisa terobati. Anda ingin tahu juga? Siap-siaplah hadir di acara bulan Agustus 2006!!

Rombongan yang tidak kalah meriah adalah ibu-ibu dari Bandung: Judi dan Eni, sayang ya … teman-teman lain tidak bisa bergabung. Mudah-mudahan di lain kesempatan rombongan Bandung bisa lebih heboh lagi.


Penutup

Untuk semuanya termasuk teman-teman dari Jakarta yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, kami (Cosmas, Mario dan Sukniarti) menyampaikan banyak terima kasih. Tanpa kehadiran anda acara ini tidak mungkin terwujud, mohon maaf kalau ternyata acara ini tidak sebagus yang teman-teman harapkan. Itu adalah yang terbaik yang bisa kami lakukan.


Sebagai tambahan, selama 29 tahun ini saya juga tidak pernah bertemu Cosmas, dan kami berkomunikasi mengatur acara ini hanya via telepon dan e-mail saja. Pada hari Minggu 19 Februari 2006 itulah kami pertama kali bertemu muka setelah 29 tahun dan saya baru tahu itu yang namanya Cosmas, maklum karena dulu kami berbeda jurusan. Catatan ini penting bagi teman-teman yang belum ikut hadir karena punya perasaan: “males ah, gak ada teman-teman yang aku kenal”. Anda boleh tanya kepada teman-teman yang hadir, betapa mesranya reuni kali ini: yang dulu dikira sombong ternyata ramah, yang dulu tidak saling kenal, kini langsung menjadi akrab.

Kisah Kasih di Sekolah

Resah dan gelisah
Menunggu di sini
Di sudut sekolah
Tempat yang kau janjikan
Ingin jumpa denganku
Walau mencuri waktu
Berdusta pada guru

Malu aku malu
Pada semut merah
Yang berbaris di dinding
Menatapku curiga
Seakan penuh tanya
Sedang apa di sini
Menanti pacar jawabku

Sungguh aneh tapi nyata
Takkan terlupa
Kisah kasih di sekolah
Dengan si dia
Tiada masa paling indah
Masa-masa di sekolah

Tiada kisah paling indah

Kisah kasih di sekolah
Masa-masa paling indah
Kisah kasih di sekolah

Sekali lagi terima kasih juga kepada sahabatku almarhumah Suzana, lagi-lagi “seandainya” reuni ini diadakan lebih awal, yeah … penyesalan memang selalu datangnya terlambat. Sobat, salah satu alasan terwujudnya acara ini untuk mengenang kepergianmu. Walaupun engkau tidak bisa hadir bersama kami, sekali lagi kami semua doakan semoga engkau tenang di sana dan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya, amin.

Sayup-sayup terdengar lagu … Kisah Kasih di Sekolah, jadi ingat sahabat saya yang dulu kalau waktu istirahat rajin ke perpustakaan karena … hm … (rela-relanya tidak makan, padahal dia lagi sakit mag lho), tentunya juga buat teman-teman yang lainnya yang kalau baca lirik lagu ini jadi teringat masa lalu, selamat bernostalgia, awas kalau ada yang marah saya tidak ikut bertanggung jawabWink

Selepas pukul 15.00, beberapa teman kita sudah meninggalkan tempat reuni. Pukul 15.30 kita semua sepakat foto bersama, dengan sentuhan profesional seorang tukang foto bernama Herry Tiono. Setelah itu acara kita bubar, namun beberapa teman masih enggan melepas rasa kangennya, terbukti masih berlama-lama bercengkerama di luar ruangan dan bahkan di tangga. Di luar restoran, hujan sangat lebat mengguyur ibukota, seolah menahan kita semua untuk melepaskan rindu lebih lama lagi. Waktu memang cepat berlalu, tak mungkin 4 jam bertemu bisa membalik seluruh 29 tahun kenangan di masa lalu.

Sampai bertemu di reuni berikutnya, kita tunggu undangan dari team Pontianak. Menurut rencana sekitar 19-21 Agustus 2006. Yuk … teman-teman di Jawa, mari kita mulai menabung dan siap-siap menyerbu kota kenangan kita. Semoga yang tidak sempat hadir pada reuni pertama di Jakarta 2006 ini bisa hadir di Pontianak nanti.

Terlintas jelas di benak saya adalah teman-temanku dari kelas IPA: Tan Ke Hiok, Rusminto, Victor, Mokianto, Eka Wahyu, Edy Syarif, Arifin, Rita, Retina, Yoti, Rusdi, Chai Hong dll., dan dari kelas IPS: Willin Halim, Wilkie, Hua Liang, Kusnadi, Nam Neng, Nguan Lie, Kon Lung, A Oy, Fransiscus, Elly Sutopo, Margaret, Yosepha, dll. (di mana mereka sekarang?), Lily Agustin, Hermiati, Betty, Vonny, Susan, Erni, Angela, A Sang, Anita, A Fen, Paulus Panirman (sayang ya, sudah mau hadir tapi berhalangan); juga dari Budaya: Joseph Oendoen (ada yang nyariin anda lho) dll. Maaf bagi yang namanya tidak sempat kami ingat kali ini.

img0045

Pada kesempatan reuni yang akan datang itu mungkin bisa kita buat sumbangan ala kadarnya sebagai tanda kasih dan hormat untuk sekolah dan guru kita, mereka yang berjasa mendidik kita dan menjadikan kita seperti hari ini. Mereka adalah lembaran penting sejarah hidup kita masing-masing.

Pada reuni ini pulalah tercetus ide untuk membuat mailing list (milis) khusus SMA Santo Paulus Pontianak Lulusan Tahun 1977 di yahoogroups dengan Moderator Cosmas Christanmas (lihat Bab VII).


Reuni ke-2 di Padang Golf Kemayoran

Sabtu 1 April 2006, 11.00-16.00

Catatan Sukniarti Dipo

Sabtu, 1 April 2006 pagi-pagi saya sudah bangun, diselingi keisengan anak karena hari ini adalah April Mop (apa penyakit iseng itu termasuk penyakit menurun ya?, mesti ditanyakan pada teman dokter kita seperti Victorianus dan Mokianto?!).

Sekitar pukul 9.30 saya sudah siap berangkat menuju Padang Golf Kemayoran, tempat reuni kedua tahun ini dengan teman-teman SMA Santo Paulus Pontianak lulusan 1977 di Jakarta. Saya memang termasuk tipe orang yang tidak suka datang terlambat, apalagi karena ada beberapa teman yang ragu-ragu untuk hadir karena takut tidak dikenali dan alasan lainnya. Terhadap alasan semacam ini, saya selalu katakan kepada mereka dengan lantang (semangat 77 dong!) “Jangan khawatir, datang saja, pukul 11.00 saya sudah stand by di sana!”

Pukul 10.35 saya sudah masuk ke Club House Padang Golf, suasana masih sepi dan tenang, sejauh mata memandang padang hijau dan pepohonan yang rindang terhampar luas. Saya masuk dan membantu mengarahkan petugas cleaning service yang sedang membersihkan karpet serta mengatur tempat duduk dan meja sesuai yang sudah dipesan oleh teman kita Deli (A Sang). Karena tempat ini adalah tempat mojok favorit beliau (ssst … lain kali dia tidak berani lagi deh mojok di sana, salah-salah ketemu teman J).

Sambil menunggu kedatangan teman-teman, saya duduk di luar mengawasi para eksekutif yang sedang mengayunkan stick golf-nya, ada beberapa bule, om-om dan tante-tante, lumayan bisa cuci mata daripada setiap hari menyaksikan pemandangan macet di kota. Pukul 10.50 teman pertama menelepon saya mengatakan beliau sedang memasuki ruangan, hm … pak Cosmas Batubara, eh salah Cosmas Christanmas. Selagi kami kongkow-kongkow, masuklah seorang pria paruh baya dengan kaca mata hitam kerennya (saya jadi ingat Chow Jun Fat di film “Sanghai Tan”, cailee….), siapa lagi kalau bukan A Sang. Saya, Cosmas dan A Sang lalu ngobrol ngalor-ngidul sambil ngopi, makan tahu goreng dan hmm … pisang goreng panas lengkap dengan srikaya Pontianak yang khusus disiapkan A Sang untuk melengkapi nostalgia kami.

Sekitar pukul 11.15, berturut-turut hadirlah Herry Tiono, Angela, Herry Sukianto dan lain-lain. Satu hal yang patut dicatat dalam pertemuan ini adalah kegigihan Herry Tiono (A Liat ) dalam menggaet teman. Saya tidak katakan mengajak, karena dia benar-benar luar biasa menggaet! Bayangkan, karena takut Hua Liang tidak datang kalau hanya via telepon, dengan semangat 77 hari Jumat dia ke rumah Hua Liang untuk merayunya sampai mobilnya terbentur kayu. Dan Hua Liang yang tadinya tidak bisa hadir, luluh dan jadi ketularan semangat 77 juga. Pada Sabtu paginya dengan semangat 77 yang sama juga, A Liat menjemput Angela di daerah Pluit, angka seratus deh buat A Liat! Seandainya teman-teman lainnya mau berbuat baik seperti itu juga …?!

Ketika Vonny bertemu Hesti, mereka sempat main tebak-tebakan. Bayangkan, Vonny yang dulu big size sekarang jadi menciut, sebaliknya Hesti yang dulu medium size sekarang berubah jadi besar. Ketika A Sang memperlihatkan foto hasil jepretannya di Pontianak, kita semua sempat terbengong-bengong menatap teman-teman lama kita, Hua Liang sampai sempat nyeletuk, “ wah … kalo belanja ke toko saya, bisa-bisa saya tanya ncik, mau beli apa?” J A Kiat yang menyesal karena dulu kok terlalu alim dan tidak nakal sampai nyeletuk juga “wah … kalo menikah 1 kali tampak lebih muda, maka kalo 2 kali menikah pasti tampak lebih awet muda lagi!” Ha3x, tidak perlu menikah 2 kali Kiat, sering-sering kumpul teman lama dan berbagi cerita saja umur bisa bertambah muda 10 tahun, karena ketawanya tidak habis-habis, setuju tidak teman-teman?

Susan yang memang aktif di milis Santo Paulus akhirnya bisa copy darat dengan Bony, demikian juga teman-teman yang lainnya. Kalau sudah kenal muka seperti ini, kan nanti di milis bisa lebih akrab lagi.

Ketika Witono yang datang belakangan memasuki ruangan, teman-teman basketnya yang dulu kenal akrab dengan dia juga pangling, yang lebih aneh Hua Liang yang setelah piring makannya kosong baru ingat, “oh … A Bun, ya?!”

Rindu Cosmas dan Rusminto juga terobati setelah bertemu Livinus yang dulu bergaya rambut ‘Rod Steward’. Tapi setelah jadi bapak, tidak berambut “jabrik” lagi. Malu dong sama anak, demikian katanya!

Rusminto yang pendiam pun sempat saya wawancarai sehubungan dengan pernikahannya dengan sesama teman 77, Elly Sutopo. Biasa … cinlok alias cinta lokasi, kalau yang lain-lain cuma berani naksir di dalam hati, lulus SMA langsung ikut bubar. Rupanya Rusminto yang kelihatannya pendiam tapi nekad. Mungkin di angkatan 77 hanya dia yang berhasil dengan cinloknya, patut berbangga hati dong!.

Walaupun dalam pertemuan ini hanya hadir total 21 orang, tapi saya cukup berbesar hati karena 10 orang di antara kami adalah murni pendatang baru yang tidak hadir dalam pertemuan pertama. Daftar teman-teman yang hadir adalah sebagai berikut:

img0046

Yang hadir dalam pertemuan pertama: Cosmas, Deli (A Sang), Bony Sukamto, Sukniarti, Herry Tiono, Herry Sukianto, Tan Pwe Cun, Sujiwati, Catharina, Hesti Jono, Rudyono. Sedangkan yang baru pertama kali hadir adalah Vonny Dijong, Susan Ngadimin, Angela, Rusminto, Ng Hua Liang, Witono, Eka Anita Kasih, Susy Hartono, Livinus; serta Antonius Hadi (eks SMP Bruder, yang juga merasa kangen dengan kemesraan berkumpul teman-teman lama).

Pertemuan kedua ini berjalan mesra, sampai ke cerita tentang Hua Liang yang dulu hobby menghapus papan tulis (kenapa ya?!). Para bapak-bapak termasuk Hua Liang juga heboh dan protes ketika para ibu-ibu mengelompok sendiri. Akhirnya kita putuskan untuk berpindah-pindah posisi biar semua bisa mendengar cerita dari kanan kiri. Saya membayangkan seandainya lebih banyak lagi teman-teman yang bisa ikut bergabung di sini, pasti reuni ini akan semakin heboh. Berteman memang tidak memandang dia itu apa dan siapa? Apalagi setelah 29 tahun, kisah kenangan lama tidak bisa selesai diceritakan dalam satu kali pertemuan saja. Pertemuan mulai bubar setelah pukul 15.00 karena beberapa teman ada yang “exit permit”-nya sudah berakhir. Lain kali minta izinnya seharian dong, masa’ dulu sekolah pakai izin-izin, menjelang usia gocap kebiasaan itu masih diterus-teruskan juga?

Saat pukul 15.00, tersisa 12 orang dan kami meneruskan rapat kecil membahas persiapan Reuni Akbar di Pontianak 19-21 Agustus 2006 mendatang. Hasil rapat antara lain terbentuknya Panitia Jakarta dengan Ketua Rusminto (susunan lengkapnya seperti tertulis dalam Lampiran B buku ini); serta rencana acara yang akan didiskusikan lebih lanjut dengan Panitia di Pontianak.

Rapat berakhir pukul 16.00 dan teman-teman memutuskan akan bertemu kembali pada bulan Juni 2006 dengan tanggal pasti yang masih akan ditentukan kemudian.



Reuni atau Pertemuan Persiapan lainnya


Catatan: Cosmas Christanmas

Teman-teman Lulusan 1977 di Jakarta, khususnya Panitia yang telah terbentuk, masih mengadakan beberapa pertemuan untuk merampungkan rencana kerja menyambut Reuni Akbar di Pontianak, 19-21 Agustus 2006. Rapat Panitia berikutnya atau Reuni ketiga diadakan di Karaoke Naf Naf di Mega Mall, Pluit, 22 April 2006.

Sementara itu proses penjaringan ‘jiwa’ teman-teman yang akan diajak untuk saling bertemu kembali dalam Reuni, dimulai dengan pendekatan ala sel. Teman-teman yang hadir dalam Reuni di Jakarta selama ini, dengan sukacita ditunjuk untuk menjadi penghubung bagi kelompok akrabnya masing-masing. Pendekatan ini sangat efektif karena banyak yang telah kehilangan jejak sehingga harus ditelusuri kembali, antara lain melalui hubungan tetangga saat masih tinggal di Pontianak, ikatan famili, sama profesi, tempat kerja, dan sebagainya.

Untuk menghitung ‘kekuatan’ rombongan yang bakal menyerbu Reuni Akbar Pontianak, diadakan ‘apel siaga’ (atau Reuni keempat) di rumah Ketua Panitia yaitu Rusminto (dan Elly Sutopo) di Kelapa Gading, Kamis 25 Mei 2006 saat libur nasional hari Kenaikan Isa Almasih. Bertambah lagi ‘jiwa-jiwa’ baru yang hadir di sini.

img0047


Logo Sekolah

clip_image002[16]Membuat logo sekolah dalam format digital (komputer) adalah salah satu yang disiapkan Panitia Reuni Jakarta, agar seragam dalam setiap komunikasi yang dibuat (spanduk, kertas surat, tanda kenangan, dll.)

Atas adalah logo sekolah saat kita sekolah dulu (1975-1977). Untuk mengenang masa itu, Panitia menggunakan versi lama seperti terlihat pada bagian dalam dari halaman belakang buku ini.

Dibawah adalah logo sekolah versi sekarang;

clip_image002[18]
Untuk mengetahui teman-teman lulusan 1977 selengkapnya, Panitia di Pontianak meminta daftar peserta ujian akhir sebagai data awal yang diyakini sangat tepat. Kertas ketikan di atas kertas ukuran A3 (yang mungkin dulu dibuat oleh teman kita sendiri Kusnadi alias A Leng yang bekerja sebagai Tata Usaha Sekolah) dan yang telah berumur 29 tahun lamanya, dicari kembali untuk difotokopi.

Hasil fotokopi yang mutunya tidak seindah aslinya itu, kemudian dikirim ke Jakarta dan disalin ke dalam komputer oleh karyawan di kantor Bernard. Data yang terus diperhalus oleh Bony itu kini disertakan sebagai Lampiran C dalam buku ini. Teman-teman yang menemukan data pribadinya dalam keadaan tidak tepat/lengkap, agar melapor kepada Panitia penerbitan buku ini melalui sarana milis untuk diusahakan perbaikannya.

Tanggal 19-21 Agustus 2006 saat kita mengadakan reuni di Pontianak adalah masa libur istimewa dalam kalender 2006. Tanggal 19 & 20 Agustus 2006 adalah akhir pekan; serta Senin, 21 Agustus 2006 hari libur nasional Isra’ Miraj. Diawali dengan hari libur Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada Kamis 17 Agustus 2006 dan hari kerja ‘kejepit’ Jumat 18 Agustus 2006, maka praktis dengan cuti 1 hari kerja saja kita bisa mendapat 5 hari libur sekaligus.

Karena keistimewaan kalender itulah, maka Panitia Jakarta berusaha keras mendapatkan jumlah kursi yang cukup untuk penerbangan dari Jakarta ke Pontianak bagi rombongan peserta Reuni Akbar ini. Tugas Panitia ini cukup menantang karena maskapai penerbangan tidak mudah menetapkan harga jauh sebelum saat-saat ramai seperti itu; sedangkan sebagian teman kita juga tidak dapat dengan cepat memastikan partisipasinya dengan melunasi biaya reuni. Hal ini menjadi agenda utama saat Panitia Jakarta mengadakan rapat lagi di kantor Bernard di daerah Kebon Jeruk, Sabtu, 8 Juli 2006. Ini adalah pertemuan kelima dalam tahun 2006.

Namun semua tantangan itu akhirnya dapat diatasi berkat kerjasama yang baik antara Bernard (urusan tiket) dengan Herry Tiono (A Liat) dan Harry Sukianto (A Kiat), keduanya Bendahara; dibantu oleh beberapa teman yang bersedia menjadi penyandang dana maupun atribut tambahan.

Panitia Jakarta masih mengadakan sekali lagi Rapat persiapan, yang keenam atau terakhir menjelang Reuni Akbar, yaitu di Restoran Raja Kuring, Sabtu, 12 Agustus 2006, sekaligus merayakan hari ulang tahun Bernard.

img0048Sebagian hasil kerja Panitia selama ini terekam dalam foto disamping ini:

-. tiket penerbangan Batavia Jakarta – Pontianak p.p. untuk peserta, 19-21 Agustus 2006;

-. kaos dan topi untuk peserta saat mengikuti acara wisata ke Singkawang, 20 Agustus 2006;

-. tanda kenang-kenangan untuk Bapak Uskup Agung Pontianak dan SMA Santo Paulus Pontianak;

-. arloji berukiran “Alumni ‘77” untuk para guru tercinta.

Dengan demikian ada 6 reuni dan atau rapat Panitia di Jakarta dalam rentang 7 bulan (Februari – Agustus 2006) untuk ‘meluruskan’ jalan menuju Reuni Akbar di Pontianak, 19-21 Agustus 2006.


Milis SMA Santo Paulus >>>

%d bloggers like this: