Penutup


Penutup


Catatan: Cosmas Christanmas

Pesta 3 hari Reuni Akbar di Pontianak, 19-21 Agustus 2006 yang lalu sudah lama lewat. Dan seperti biasa, tiada pesta yang tidak akan berakhir. Kita semua harus kembali ke kehidupan nyata sehari-hari dengan segala suka-dukanya. Semuanya ini karena hidup kita memang tidak hanya diisi dengan mimpi dan impian semata.

Namun demikian, terlalu banyak kenangan manis yang berhasil kita bangkitkan kembali dari pertemuan hangat penuh persaudaraan selama waktu reuni yang singkat itu. Terlalu banyak untuk dituliskan dalam buku kecil ini, juga terlalu panjang untuk bisa direkam ke dalam kepingan video dokumentasi kita.

Memang banyak kenangan lama dari masa 3 tahun kita belajar bersama sewaktu di SMA Santo Paulus, Pontianak, antara tahun 1975-1977. Yang senang maupun sedih dalam hal prestasi belajar, biaya pendidikan, kebijakan pemerintah tentang pembauran. Maupun yang sifatnya pribadi, apalagi kalau bukan kisah tentang keinginan untuk mengasihi dan menyenangkan si ’dia’.

”Yang sudah berlalu, biarlah berlalu”, kata Sanawan alias A Kuang menghibur saya. Dalam hal ini Sanawan benar, karena dia dapat dengan cepat melupakan kemarin semudah dia meraih sukses hari ini. Asal anda tahu, Sanawan adalah Ketua Kelas 1E saat kita masuk sekolah awal 1975 itu. Saya menghormati kepemimpinan Sanawan yang ditunjukkannya sejak usia muda. Dan ini terbaca dari nasehatnya ketika saya menyesali hasil ulangan yang buruk saat itu. Tidak disangka, nasehatnya mirip dengan kata-kata orang bijak di bawah ini yang diambil dari posting seorang tanghak dalam milis kita: “Hari Ini”.

Pada reuni yang lalu kita juga menemukan banyak lagi tanghak lain yang menjadi jauh lebih ‘bijak’ dibandingkan saat kita kenal 29 tahun yang lalu. Ada untungnya juga reuni kita diadakan sekarang karena saat usia sekitar 50 tahun, banyak tanghak kita yang menampakkan kematangan jiwa dan raganya.

Saya misalnya tidak berhenti kagum pada tanghak kita seperti Bony Sukamto dan Ali Susanto yang pandai mendaraskan doa yang panjang di hadapan orang banyak, saat kita bertemu dalam reuni atau rapat persiapan sebelumnya. Mereka adalah contoh tanghak kita, juga Kang Ngak Tjiang, yang kini mantap memilih jalan hidup melayani orang lain melalui karunia doa (menurut agamanya masing-masing).



Hari Ini

Seorang bijak berkata,

bahwa ada dua hari dalam hidup ini

yang sama sekali tak perlu kita khawatirkan.

Yang pertama: hari kemarin.

Kamu tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.

Kamu tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.

Kamu tak mungkin lagi menghapus kesalahan;

dan mengulangi kegembiraan yang kamu rasakan kemarin.

Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja!

Yang kedua: hari esok.

Hingga mentari esok hari terbit,

kamu tak tahu apa yang akan terjadi.

Kamu tak bisa melakukan apa-apa esok hari.

Kamu tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.

Esok hari belum tiba; biarkan saja!

Yang tersisa kini hanyalah hari ini.

Pintu masa lalu telah tertutup;

Pintu masa depan pun belum tiba.

Pusatkan saja diri kamu untuk hari ini!

Kamu dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini

bila kamu mampu memaafkan hari kemarin

dan melepaskan ketakutan akan esok hari.

Hiduplah hari ini.

Karena, masa lalu dan masa depan

hanyalah permainan pikiran yang rumit.

Hiduplah apa adanya.

Karena yang ada hanyalah hari ini;

hari ini yang abadi.

Kata Bijak:

Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati

dan rasa hormat,

meski mereka berlaku buruk pada anda.

Ingatlah bahwa anda menunjukkan penghargaan

pada orang lain bukan karena siapa mereka,

tetapi karena siapakah diri anda sendiri.


29 tahun lamanya telah berlalu sejak kita lulus dari SMA Santo Paulus di Pontianak pada tahun 1977 dan meneruskan pencarian jalan hidup kita masing-masing seturut kaki melangkah. Kadang-kadang kaki ini terasa penat dan kehilangan arah, walaupun hati tetap tegar dan semangat masih menyala. Tetapi kita semua tetap bersyukur karena Tuhan masih berkenan memberi kita karunia hidup hingga saat ini. Sama bersyukurnya kita saat berjumpa dengan tanghak yang berhasil dalam pencapaian tujuan hidupnya; seperti itu pula saat mengetahui semangat juang tanghak lain yang masih mencari jalan hidupnya. Ini semua mengingatkan saya akan kata-kata yang sering disinggung oleh Robert Hendra (Ketua PPSK jaman kita dulu) tentang orang pada tahapan usia pandangan hidup – pegangan hidup dan – perjuangan hidup. Apa-apaan ini?

Kita semua senang karena bisa bertemu pada reuni yang lalu dalam keadaan sehat dan sejahtera. Hanya saja tak ada yang bertanya mengapa Reuni angkatan kita yang pertama baru terjadi 29 tahun setelah lulus sejak 1977. Saat usia kita masing-masing sudah sekitar 50 tahun.

Adalah wajar bila sebagian besar dari kita masih ingin saling bertemu kembali. Tidak usah menunggu 29 tahun yang akan datang saat kita sudah mencapai usia sekitar 80 tahun dan jumlahnya pasti sudah akan jauh menyusut (karena tak mungkin datang sendiri lagi tanpa harus dipapah).

Perjalanan hidup kita masih terus berlanjut, dan masih akan ada pertemuan yang berikutnya. Agar saat reuni nanti kita masih bisa berdiri tegar mandiri (seperti harapan Robert), ada baiknya kita menyimak titipan pesan Rosyanti dalam posting-nya berikut ini:


Bagaimana untuk Menjadi Bahagia

1. Kejar Tujuan yang Bisa Dicapai

2. Senyum yang Tulus

3. Berbagi dengan Yang Lain

4. Bantu Tetanggamu

5. Pertahankan Semangat Jiwa Muda

6. Akur dengan yang Kaya, Miskin, Cantik, dan Jelek

7. Tetap Tenang di Bawah Tekanan

8. Cairkan Suasana dengan Humor

9. Memaafkan yang Lain

10. Berteman

11. Bekerjasamalah untuk Menuai Hasil yang Lebih Besar

12. Hargai Setiap Detik Bersama yang Tersayang

13. Percaya Diri Tinggi

14. Hormati yang Kurang Beruntung

15. Sekali-kali Manjakan Diri Sendiri

16. Jelajahi Dunia Maya di kala Senggang

17. Ambil Risiko yang Sudah Diperkirakan

18. Paham Bahwa Uang Bukan Segalanya


Panitia dan semua peserta Reuni Akbar di Pontianak, 19-21 Agustus 2006 yang lalu merasa acara kita semuanya berjalan dengan baik walaupun ada beberapa kekurangan. Padahal semua persiapan dan pelaksanaannya dilakukan dengan prinsip ‘dari kita, oleh kita, dan untuk kita’.

Saat kita mengadakan reuni lagi di masa mendatang, saya ingin mengingatkan 10 kehebohan kita mengacu pada reuni yang lalu sebagai berikut:

  1. jangan sampai empat orang Ketua dan Wakil Ketua Panitia Jakarta maupun Pontianak semuanya tanghak dari Kelas Pas B lagi, tetapi kalau semua donatur dari Kelas Sos A & B, Pas A dan Bud tetap boleh-boleh saja karena mereka memang mampu koq;
  2. tanggal reuni tidak perlu selalu 19-21 Agustus karena tanghak lain juga mau merayakan ulang tahunnya bersama lho;
  3. jumlah peserta mungkin akan berkurang karena masalah ijin keluarga (ini gara-gara ada yang mengigau tentang si ‘dia’ sehabis reuni), atau diijinkan datang tapi dengan pengawalan;
  4. tempat reuni tidak harus di Pontianak lagi walaupun jadwal penerbangan sudah tidak terganggu akibat kabut asap; dan persediaan air bersih serta bahan bakar minyak sudah cukup;
  5. akan lebih banyak lagi peserta dari luar negeri karena diharapkan reuninya diadakan di luar Indonesia, bukan akibat dari banyaknya tanghak yang pindah menetap di luar negeri;
  6. Mars PPSK akan dinyanyikan dengan iringan musik hidup saja karena rekaman yang disiapkan kemarin ngadat saat diperlukan;
  7. ‘door prize’ yang disediakan sudah bukan dot bayi lagi tetapi yang sesuai untuk kebutuhan orang berusia di atas 50-tahunan;
  8. banyak makanan yang akan tersisa karena sebagian besar peserta hanya bisa “ngemut’ sebab kemampuan menggigitnya berkurang;
  9. sehabis reuni tak ada lagi pembicaraan tentang gadis pujaan si ‘baju merah’ karena memendam isi hati selama 29 tahun sudah cukup lama dan menderita (siapa suruh, kacian deh lu);
  10. barang koleksi dari jaman sekolah 1975-1977 tidak akan ditayangkan lagi karena sudah pernah, tetapi beberapa peserta akan hadir dengan memamerkan buku kecil ini yang di dalamnya ada gambar seperti di kanan ini (sori kalau ge-er tapi pe-de kan?).


Sejarah Yayasan dan SMA Santo Paulus >>>

%d bloggers like this: