Semoga Kemesraan ini terus Berlanjut

Senin 21/8/2006 : Semoga Kemesraan ini terus Berlanjut

Catatan: Sukniarti Dipo

Senin 21 Agustus 2006 adalah hari libur nasional peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad s.a.w. dan merupakan hari ketiga atau terakhir dari rangkaian Reuni Akbar kita di Pontianak. Sebagian tanghak dari luar kota menggunakan kesempatan pagi ini untuk menemukan oleh-oleh pesanan keluarga. Kita semua akan berkumpul kembali di rumah Frendys Lukito mulai pukul 11.00 setelah tanghak dari luar kota keluar dari tempat penginapannya di hotel Kini.

What A Wonderful World
Louis Armstrong

I see trees of green… red roses too
I watch ’em bloom… for me and for you
And I think to myself… what a wonderful world.

I see skies of blue… clouds of white
Bright blessed days… warm sacred nights
And I think to myself … what a wonderful world.

The colors of a rainbow… so pretty … in the sky
Are there on the faces … of people … going by
I see friends shaking hands … sayin’ … “How do you do?”
They’re really sayin’… ”I love you”.

I hear babies cry… I watch them grow
They’ll learn much more … than I’ll never know
And I think to myself … ”what a wonderful world

The colors of a rainbow… so pretty … in the sky
Are there on the faces… of people … going by
I see friends shaking hands … sayin’… “How do you do?”
They’re really sayin’ …. I … LOVE … YOU.

I hear babies cry… I watch them grow
You know their gonna learn
a whole lot more than I’ll never know

And I think to myself … what a wonderful world
Yes I think to myself … what a wonderful world.

Kita semua terkesan dengan para tanghak Pontianak yang tetap menemani saudara setia seperguruannya hingga tiba saatnya untuk saling berpisah.

Rosyanty tidak mau menyesal lagi karena tidak ikut jalan-jalan ke Singkawang hari sebelumnya; kali ini muncul juga untuk bertemu dan pamitan dengan tanghak yang hadir.

Di situ Sanawan yang memiliki informasi penerbangan, sangat membantu kita untuk menentukan waktu tepat menuju bandara Supadio sehingga kebersamaan kita di rumah Lukito menjadi lebih lama lagi.

Di sana, tanghak kita menyuguhkan aneka makanan khas daerah seperti pecal mie, selada, buah manggis; cendol sagu, jajanan pasar dan lain sebagainya. Semua tanghak lalu asyik bercengkerama sambil makan, hingar-bingar seperti layaknya pasar tradisional saja ramainya. Sesekali terdengar tawa terbahak menganga dari sana-sani, sangat mengganggu tanghak lain yang lalu menggeser duduk ke pojok kiri sambil meneruskan bisik dan gosip. Sementara itu waktu terus berlalu tanpa terasa karena sebagian tanghak khususnya Hariaty (A Ngo) terhibur dengan lanjutan cerita tikusnya Tan Ke Hiok.

Beberapa tanghak yang diminta memberikan kesan-kesannya tentang reuni kita, umumnya merasa senang dan tidak menyangka akan ada pertemuan besar setelah 29 tahun berpisah. Panitia yang berbangga hati dengan hasil kerjanya lalu dipanggil ke atas panggung untuk diperkenalkan kepada tanghak lainnya. Di situ juga ada Sunjoto alias Afen yang ingin reuni berikutnya bisa diadakan di negeri China.

Akhirnya saat perpisahan sudah tidak dapat ditunda lebih lama lagi. Pembawa acara sekaligus tuan rumah pertemuan Frendys Lukito lalu mempersilakan Ali Susanto untuk memimpin doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memohon agar semua tanghak selamat dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Setelah itu acara bersalam-salaman antar tanghak dimulai dengan bergerak menghampiri yang lain dalam gandengan tangan membentuk lingkaran. Tanpa malu-malu lagi, airmata tampak menetes jatuh perlahan namun pasti ketika para tanghak saling mendekap sebagai tanda persaudaraan yang utuh. Pontianak dan Jakarta memang terpisah oleh jarak yang tidak jauh, tapi karena selama 29 tahun kita hanya saling membisu, perpisahan ini pun membuat hati ikut menjadi pilu.

img0043

Saudara-saudaraku, kini kalian memiliki kami di Jakarta; sama seperti kami memiliki kalian di Pontianak. Jangan sampai tali silahturami ini terputus lagi. Walaupun kita berjauhan secara jarak, biarlah hati kita tetap dekat (apalagi kini ada sms, internet, juga milis yang disiapkan untuk saling melepas rindu antar tanghak sesama 1977).


Perpisahan di Supadio (Senin, 21 Agustus 2006)

Pesawat Batavia yang akan membawa rombongan dari luar Pontianak telah menunggu, untuk membawa kita kembali ke keluarga, pekerjaan dan tanggung jawab yang juga telah menanti di rumah masing-masing. Beberapa tanghak mungkin sudah lega dan puas, apa yang pernah tersirat telah tersurat, perasaan yang dulu ditulis tanpa alamat 29 tahun yang lalu telah disampaikan dengan tuntas. “Ke Khuntien, Kota Khatulistiwa dan Kapuas, Pontianak … ‘ku kan kembali lagi dan lagi … walau apapun yang ‘kan terjadi …”

Saat terbang tinggi mengatasi awan di sana, sahabat saya Suzana H. mungkin sedang tersenyum melihat keakraban tanghak-tanghaknya di dunia. “Sahabat, semoga engkau juga tenang dan damai di sisi-NYA”.

“Banyak terima kasih untuk keluargaku yang telah merelakan dan mengijinkanku untuk meniti kembali ke hidup masa lalu. Tanpa kalian, tulisan ini tidak mungkin terwujud”.

Untuk suami/istri yang tidak mengijinkan pasangannya untuk mengikuti reuni, hanya ada satu tanya, ”mengapa?”. “Sejarah hidup tidak bisa dihapus, tetapi justru diperindah setiap kali kita bereuni”.

“Terima kasih untuk Panitia Pontianak, Jakarta, dan semua tanghak yang sudah mendukung terwujudnya “kebersamaan” ini, terutama untuk Cosmas Christanmas dan Mario Tan, motivator saya yang terus menerus mendorong hingga reuni di Sunter, Jakarta (19 Februari 2006) terwujud, dan berkelanjutan hingga ke reuni akbar ini”.

“Special thanks dari kita semua untuk Herry Tiono yang tidak pernah lelah mengabadikan saat-saat bersejarah dalam hidup kita. Anda memang tidak mengecewakan sebagai anak “Modern” Photo”. Biarlah kami yang mengabadikan pengorbanan anda dalam hati kami masing-masing.

Terima kasih kepada para tanghak semuanya. Dulu kita pernah belajar bersama, lalu terpencar melanjutkan pelayaran hidup kita. Sekarang kita dikumpulkan kembali dalam semangat sebagai saudara. Semoga kemesraan kita ini terus berlanjut.

clip_image004clip_image002


Semoga kemesraan antar tanghak dan dengan guru semacam ini terus berlanjut. Antara wanita dengan wanita seperti pasangan dari 7-serangkai yaitu Sukniarti & Susana; antara pria dengan wanita seperti Darwis & Vonny; antara guru dengan murid tercinta seperti Bapak Ade Ismail dengan Sanawan; antara pria dengan pria Herry Sukianto (A Kiat) dengan Herry Tiono (A Liat).

Pis (peace) . . . hingga saat ‘keberangkatan’ kita masing-masing tiba.

clip_image004[6]clip_image002[7]


Mempersiapkan Reuni Akbar >>>

%d bloggers like this: